
Sepertinya Laura memang harus periksa ke dokter jiwa. Dia memaki Adam, meskipun tidak sampai mengumpat padanya. Namun, anehnya Laura yang merasa terluka setelah itu.
Di sepanjang jalan dia terus melamun, hampir saja melewati sekolahnya sendiri. Sekarang, dia hanya duduk di pinggir kolam sembari memandangi ikan berenang di permukaan air.
"Kenapa aku begini?" Laura bergumam seorang diri. Gemericik air mancur di depannya ternyata tidak bisa menjadi melodi penenang seperti biasanya.
Laura menghela napas panjang, berat dirasa. "Kenapa aku harus merasa bersalah?" Dia menunjuk dirinya sendiri. "Apa yang aku katakan itu benar."
Berkali-kali Laura berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri, dia tidak perlu merasa bersalah.
"Aku tidak menuduh Pak Adam, aku juga tidak merendahkan dia!" Laura menatap pantulan bayangan wajahnya dari permukaan air kolam. "Apa salahnya? Aku hanya berbicara jujur apa adanya!"
Sayang sekali, kalimatnya tidak bisa menjadi penenang untuk dirinya sendiri. Dia menyerah untuk meyakinkan dirinya sendiri lagi. "Argh! Sudahlah!"
Laura mengacak-acak rambutnya. "Sialan benar!"
"Siapa yang sialan?" Belen datang setelah menepuk pundaknya dengan cukup keras, sejenak mengejutkan Laura. "Aku?" Belen duduk di sampingnya. "Soal kemarin, ya?"
Laura tidak menjawab sepatah kata pun. Dia hanya memandang Belen dengan nanar.
__ADS_1
"Maaf soal yang kemarin." Belen tersenyum kuda. "Aku benar-benar tidak menyangka kalau Pak Adam ada di sana." Dia berusaha mencari alasan yang paling masuk akal. "Tiba-tiba dia datang seperti setan, lalu merebut vitamin itu dan pergi gitu aja."
Laura memalingkan pandangan mata, sedangkan temannya itu berusaha untuk menarik perhatiannya lagi. "Ra, kamu marah sama aku?"
"Aku minta maaf." Belen merengek-rengek. "Aku tahu kalau Pak Adam jadi tahu tentang kehamilanmu, bagaimana lagi? Cepat atau lambat dia juga pasti akan tahu."
Laura menoleh padanya. "Aku bertemu dengan dia tadi."
Belen mengerutkan keningnya.
"Pak Adam yang aku maksud." Laura manyun. "Aku tidak tahu kenapa ... rasanya aneh." Dia kembali memandang kolam di depannya. "Aku merasa bersalah setelah memakinya."
"Bukankah itu aneh?" Laura memastikan lagi. "Aku hanya berbicara apa adanya. Aku hanya mengutarakan isi hatiku, bukannya lega aku malah merasa bersalah."
Belen menepuk pundak Laura. "Itulah cinta."
"Cinta apanya?" Laura langsung memprotes. "Aku tidak mencintainya."
Belen malah tertawa mendengar penjelasan Laura. Baginya, temannya ini selalu saja melucu. Ia berusaha membohongi orang lain, tetapi Laura tidak pandai membohongi dirinya sendiri. Semuanya terlihat dengan begitu jelas dari caranya menatap.
__ADS_1
"Kenapa ketawa? Aku nggak sedang melucu!" Laura berbicara dengan ketus. "Gimana bisa aku terjebak dalam situasi seperti ini?"
Belen menaikkan kedua bahunya. "Mungkin karena kalian memang jodoh?" Dia menatap Laura. "Pak Adam adalah pria yang dipilihkan orang tuamu. Pilihan orang tua tidak pernah salah, Ra."
"Kamu mau aku kembali padanya?" tanya Laura. "Setelah dia menyakitiku?" Dia berdecak. "Kamu ini!"
"Jangan langsung kembali padanya." Belen menyahut. "Buat dia menyesal dulu. Buat dia mengokohkan keinginannya untuk kembali padamu," ucapnya.
Laura menoleh. "Dengan cara?" tanyanya.
Belen menyeringai. "Kenapa tidak mencoba menggunakan Daffa? Aku yakin akan berhasil."
Laura mengerutkan kening. "Daffa? Bajingan itu?" Dia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau berhubungan dengannya lagi!"
"Hanya untuk membuat Pak Adam menyesal, Ra," sahut Belen. "Daffa cukup ampuh. Aku yakin, Pak Adam pasti akan menyesali sifatnya yang plin-plian."
Laura tak menjawab. Diamnya untuk berpikir matang-matang, ide Belen tak ada salahnya. Namun, dia cukup tenang ketika Daffa sudah tidak mengganggunya lagi. Pemuda itu cukup berbahaya untuk Laura.
Next.
__ADS_1