Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
141. Ayo menikah!


__ADS_3

"Sudah aku bilang, Pak Adam ...."


"Bukankah seharusnya aku yang mengomel sama kamu?" Adam menatap kedatangan Laura. "Kamu yang keras kepala."


Laura mendesah panjang. Dia duduk di samping Adam sembari meletakkan sebotol air mineral yang dia belikan untuk lelaki itu.


"Laura, kamu sama sekali tidak merasa bersalah?" tanya Adam sembari terus menatap ke arah Laura. "Kamu bersalah, Laura."


Laura bergumul di tempatnya. Jika dia tahu akan jadi seperti ini, maka dia juga enggan untuk datang. Laura memilih melepaskan tiket bioskop yang harganya begitu mahal, ketimbang harus kehilangan harga dirinya.


Laura menundukkan pandangan. "Pak Adam kenapa memarahiku?"


"Lantas kamu mintanya aku bagaimana?" tanya Adam kemudian. "Menyanjung kamu atas apa yang terjadi?"


Laura melirik Adam. Lama sekali Laura tidak mendengar omelan dari Adam. Anehnya, dia sangat lega. Laura merasa senang mendapat omelan dari Adam malam ini.


"Laura, aku khawatir sama kamu." Adam melembutkan suaranya. "Aku tidak memarahi kamu tanpa sebab, aku mengatakan ini karena aku ...." Adam menghentikan kalimatnya.


Laura menoleh ketika dia tak kunjung mendengar penyelesaian dari Adam. Pria itu memilih diam, membisu sembari menatapnya.


"Karena Pak Adam?" Laura memperjelas. "Kenapa tidak dilanjutkan?"


Adam membuang pandangan matanya. Dia menghela napas, memikirkan topik pembicaraan yang lain.


"Katakan saja. Kenapa malah diam?" Laura mendesak. "Menyebalkan sekali," gumamnya kemudian.


Laura menyodorkan air mineral untuk Adam, memaksa lelaki itu menerimanya. Sekarang, dia beranjak dari tempat duduknya. "Aku mau pergi. Pak Adam juga harus pulang ke rumah."


Adam melihat mimik wajah Laura, jelas sekali gadis itu sedang kesal. Namun, Adam tak tahu sebab apa. Dia tak pandai membaca pikiran seorang perempuan. Adam tak punya seninya menghadapi gadis muda yang sedang pubertas.


Laura hendak berpaling, tetapi Adam mencegahnya pergi. Lelaki itu menarik tangan Laura, menatapnya dengan saksama. "Kamu mau ke mana?" tanya Adam. "Sudah malam."


Laura melepas tangan Adam dari pergelangan tangannya. "Jaaln-jalan menghilangkan badmood-ku." Laura berdecak ringan. "Pak Adam pulang saja. Aku mau pergi."


"Laura!" Adam menyela langkah kaki Laura, lelaki itu berdiri dan menghampiri Laura. "Soal bantuanku tadi ...."


"Makasih." Laura menyahut dengan ketus. "Itu yang mau Pak Adam dengar bukan?" Gadis itu menyunggingkan senyum. "Dasar tukang pamer."


Laura kembali melangkahkan kakinya, tetapi Adam kembali menghentikan gadis itu juga.


"Apa maunya Pak Adam, sih?" tanya Laura dengan ketus. Gadis itu membuang napasnya dengan kasar. "Pak Adam mau aku pulang dan tidur?"


Laura menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau. Sudah aku bilang aku mau jalan-jalan. Aku butuh sesuatu untuk ...."


"Aku ikut." Adam memotong kalimat Laura.

__ADS_1


Laura terperangah tak percaya mendengar kalimat itu dari Adam. Gadis itu terdiam dan membeku di tempatnya dalam beberapa detik.


"Besok hari minggu," ucap Adam lagi. "Jadi, aku libur. Aku tidak ada pekerjaan sama sekali."


Laura mengeja napas. Dia berpaling, enggan bertatap muka dengan Adam.


"Aku nggak akan merepotkan kamu." Adam menyahut lagi. "Aku tahu kalau aku sudah tua dan kuno, tetapi aku bisa mengimbangi kamu."


Adam berusaha mencari objek untuk mempromosikan dirinya. "Aku bisa menikmati suasana anak muda. Aku tahu caranya. Aku juga ...." Adam berhenti berbicara ketika Laura memandangnya dengan sengit.


Adam membisu, mengatupkan bibirnya kemudian. Sedangkan, Laura berdiri di depannya tanpa kata-kata.


"Maaf, Ra." Adam melirih. "Kalau memang kamu pengen jalan-jalan sendiri, aku akan pulang."


Adam berpamitan. "Aku pulang dulu." Dia enggan memaksa, jadi pasrah dan menyerah saja.


Adam berpaling dari Laura, tetapi gadis itu memanggilnya.


"Katanya mau makan Ramen." Laura berucap tiba-tiba. Kalimatnya menarik fokus Adam.


Laura bersikap canggung, meskipun dia berusaha menutupinya. Namun, semuanya masih terlihat dengan jelas. Atmosfer yang canggung meledak di antara mereka.


Laura menunjuk salah satu kafe di pinggir jalan. "Di sana Ramen-nya enak."


>>>><<<


"Aku memesankan Pak Adam sama denganku." Laura datang membawa nomor antrian. "Tidak apa-apa, kan?" tanyanya. Dia duduk di depan Adam.


Adam manggut-manggut. "Terserah kamu. Aku tidak masalah."


Percakapan mereka berhenti, tidak ada yang punya topik pembicaraan. Keduanya bahkan berusaha menghindari kontak mata. Entah ada apa, Laura merasa sedikit canggung dengan Adam saat ini.


"Laura."


"Pak Adam?"


Sialnya mereka berkata di waktu yang sama.


Adam tersenyum tipis. "Kamu duluan," ujar Adam.


Laura menggelengkan kepalanya. "Pak Adam dulu. Aku hanya memanggil tadi," jawab Laura kemudian.


"Kamu jadi pergi ke luar negeri?" tanya Adam dengan wajah serius. "Aku hanya tanya." Dia mencoba menghindari kesalahpahaman. Adam tak mau Laura mengira dirinya masih menghalangi mimpi Laura.


Laura menaikkan kedua bahunya. "Aku tidak tahu. Aku belum memutuskan."

__ADS_1


Adam mengangguk.


"Soal anak kita ...." --keduanya kembali berucap bersamaan. Laura dan Adam saling memandang. Ternyata inilah yang membuat mereka canggung setengah mati.


Laura memulai. "Soal anak kita," ucap Laura sedikit ragu. "Keadaannya baik-baik saja."


Adam mengangguk. "Kalau kamu butuh check ke dokter, hubungi aku." Adam menyarankan. "Aku akan mengantar kamu."


Laura tersenyum kikuk, kepalanya manggut-manggut seperti ayam mematuk. Laura sadar, sejauh apa pun dia berusaha, dirinya tak akan pernah bisa kembali menjadi Laura mentari yang dulu. Kehidupannya tak akan semulus sebelumnya.


"Laura aku ... "


"Aduh!" Laura merintih ketika seorang pelayan menyenggol bahunya. Hampir saja semangkuk ramen panas tumpah di atas pangkuan Laura.


Adam yang melihat insiden itu, bergegas beranjak dari tempat duduknya. Dia mendorong pelayan itu dengan kasar, menjauh dari Laura.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Adam dengan panik. Dia menatap baju Laura yang sedikit kotor terkena cipratan dari kuah Ramen.


Laura mengangguk, dia cukup terkejut. "Nggak apa-apa."


"Maaf, Kak. Aku tidak sengaja tadi." Pelayan itu bergegas meminta maaf. "Ada anak kecil yang ...."


"Kamu bisa kerja dengan benar atau tidak?" Adam membentak dengan suara lantang. "Kamu tahu apa yang kamu lakukan itu berbahaya?"


Laura terkejut ketika Adam uring-uringan di depannya. Semua orang di dalam kafe menerpa ke arah mereka. Beberapa dari mereka saling berbisik.


"Itu kuahnya panas! Bahaya sama kandungan istri saya!" Adam terus membentak. "Kalau ada apa-apa kamu mau tanggung jawab, hub?"


Laura menarik lengan Adam dan berbisik, "Pak Adam, sudah. Malu dilihat orang-orang."


"Panggil bos kamu!" Adam mengabaikan Laura. "Saya mau protes! Ada karyawan yang membahayakan kehamilan istri saya!"


"Pak Adam!" Laura jadi ikut membentak. "Aku bilang sudah!" Dia menarik Adam untuk kembali duduk. Kemudian Laura meminta maaf pada pelayan itu dan menyuruhnya untuk pergi.


Laura menghela napas lega. Ditatapnya Adam yang masih menggebu-gebu.


"Aku yang mau kena kuah panas, tetapi Pak Adam yang uring-uringan." Laura bergumam. "Pak Adam ini lucu sekali."


Laura membersihkan bajunya dengan tisu di atas meja. "Istri? Wah! Aku baru saja merasa kita menikah lagi," kekeh Laura sembari terus membersihkan noda di bajunya. Dia mengabaikan Adam yang sedari tadi menatapnya.


Laura melanjutkan. "Aku baru saja ingin bersyukur sebab aku kembali memiliki suami yang mencintaiku, tetapi sayangnya ... ini hanya soal kehamilan."


"Mau menikah lagi?" Adam tiba-tiba menyahut.


Laura mendongak. Dia mematung sembari menatap Adam. "Huh?"

__ADS_1


"Menikah denganku." Adam meneruskan kalimatnya. "Ayo menikah lagi, Laura."


Next.


__ADS_2