
Sepulang kerja Laura mampir di warung bakso yang tak jauh dari restoran tempatnya bekerja. Dia tak sendiri, ada Anna yang setia menemaninya. Laura tidak tahu ada apa, mungkin ini kali pertamanya dia ngidam. Laura benar-benar ingin makan bakso sore ini.
Anna dan Laura langsung memilih tempat duduk. Mereka memilih di pojok ruangan, dekat dengan jendela yang menghadap ke jalanan luar. Senja tidak seindah biasanya, entah langit mendung atau malam datang lebih cepat. Di atas sana, Laura hanya melihat awan gelap.
"Laura, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Anna tiba-tiba.
Laura yang tadinya fokus menatap pemandangan luar, menoleh padanya. Kepalanya mengangguk ringan, senyuman dikembangkan seadanya.
"Pacar kamu itu sudah tua, ya?"
Pertanyaan itu hampir membuat Laura tertawa. Menurutnya itu lucu, menghibur kekesalannya pada Adam.
"Maaf aku lancang," kata Anna lagi. "Sepertinya dia seusia pamanku. Usianya sudah 26 atau 27 tahun. Sedangkan kita baru 19 tahun."
Laura menganggukkan kepalanya. "Emangnya kenapa kalau aku punya pacar tua?" tanyanya. "Itu salah?"
Anna menggelengkan kepalanya. "Aku kira tipe idealmu itu semacam badboy yang ada di novel-novel." Anna menghela napas, seakan kecewa. "Ternyata lebih tua."
Laura tidak sengaja tertawa. Kekecewaan di raut wajah Anna menggelitik perutnya. Laura tidak sadar kalau Adam setua itu di mata orang lain. Di matanya, Adam hanya begitu mempesona.
Laura hendak berbicara, tetapi tiba-tiba seseorang keluar dari bilik kecil, dengan tulisan toilet di sampingnya. Gadis itu terkejut ketika melihat Adam keluar dari sana.
Keduanya saling memandang satu sama lain, tetapi tidak ada yang berani berbicara atau paling tidak saling menyapa dengan senyuman. Laura langsung memalingkan pandangan mata.
__ADS_1
"Ada apa?" Anna menyadari perubahan raut wajah Laura yang signifikan. "Aku salah ngomong?"
Laura menggelengkan kepalanya. "Kita cari tempat makan yang lain," ucap Laura tiba-tiba. Dia bergegas mengemasi barang-barangnya ketika melihat Adam duduk tak jauh dari mereka, tempat di belakang punggung Anna. Sayangnya, hanya Laura yang menyadari keberadaan Anna.
"Kenapa tiba-tiba kamu pergi?" Anna mencegah Laura. "Kita sudah pesan dan katanya kamu kepengen banget makan bakso di sini," ucapnya. "Aku salah ngomong soal Adam pacar kamu?"
Adam mendongak ketika mendengar namanya disebut. Dia menatap ke arah Laura, tetapi Laura tidak berani menatapnya.
"Dia memang tua ... tetapi dia cukup mempesona." Anna tiba-tiba memuji, dia tidak mau Laura salah paham. "Kalian cocok."
"Anna, lebih baik kita cari tempat makan yang lain." Laura terlihat gelisah. "Tiba-tiba aku pengen beli martabak manis," timpalnya. Laura berdusta. Dia masih ingin bakso di tempat ini.
Laura hendak bangkit dari tempat duduknya, tetapi seorang pelayan mendekati mereka dengan tiga mangkuk bakso sekaligus. Itu adalah pesanannya.
"Baksonya datang," ucap Anna menarik tangan Laura untuk duduk. "Kita makan ini dulu, nanti baru beli martabak, Ra."
Anna mengerutkan kening. "Maaf, Pak. Kita hanya berdua saja. Kenapa mangkoknya ada tiga?" Anna mendorong mangkuk di depannya. "Sepertinya salah ...."
"Memang tiga." Pria tua itu menimpali. "Mbak yang ini pesan tiga mangkok bakso besar."
Laura menundukkan kepalanya. Dia tidak malu pada Anna, tetapi pada Adam.
Anna yang kebingungan hanya menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu terima kasih, Pak."
__ADS_1
Pelayan itu pergi meninggalkan mereka. Entah mengapa suasana canggung mulai menyelimuti, Laura terus aja berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Jujur saja, aku nggak tahu kalau kamu makan banyak, Ra." Anna tertawa kecil kemudian. Dia mendorong dua mangkuk bakso besar sekaligus mendekati Laura. "Janji dihabiskan."
Laura manggut-manggut. "Makasih, Na."
Gadis itu mulai menyantap bakso di depannya. Satu persatu bakso masuk ke dalam mulutnya dengan begitu cepat, hanya berselang beberapa menit saja Laura menghabiskan satu porsi bakso besar.
Anna mengerutkan dahi melihat keganasan Laura menyantap bakso itu. "Kamu ini lapar atau ngidam?"
Mendengar pertanyaan Laura langsung terkejut. Dia memuntahkan kembali bakso dalam mulutnya.
Anna menatapnya heran. "Kenapa kaget gitu?" tanyanya. "Aku cuma tanya kamu itu lapar atau ngidam?" Anna terkekeh. "Kamu mirip orang yang ngidam bakso selama satu minggu nggak keturutan!" kekehnya lagi.
Laura mengusap bibirnya. "Aku laper," balas Laura seadanya. Dia tidak mungkin mengaku sekarang, kalau sebenarnya dia memang ngidam.
"Kalau ngidam juga tidak apa-apa." Anna menggodanya. "Kalau itu anaknya Adam, pasti tampan atau cantik."
Laura menatap Anna, secara tidak sengaja lirikan matanya bertemu dengan Adam yang dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kamu ini ngomong apa?" Laura terbata-bata. "Aku gak akan hamil anak pria sialan itu," gerutunya. "Dia bajingan," ucap Laura. Nada bicaranya sejenak dipertegas, berharap Adam mendengarnya.
Anna malah tertawa. "Aneh sekali, raut wajah kamu seperti orang tertangkap basah."
__ADS_1
"Anna!" gerutu Laura.
Next.