Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
107. Pengakuan Cinta


__ADS_3

"Laura akan pergi ke Malaysia. Dia akan tinggal di sana. Dia akan pergi setelah ...."


Adam langsung menutup panggilan telepon dari Belen. Tak tanggung-tanggung, dia langsung berlari ke rumah Laura. Seperti baru terjadi kemarin, mereka benar-benar akan berpisah jauh?


"Laura!" Adam menggedor pintu rumah Laura. Keadaan sepi, padahal itu sudah biasa. Laura jarang ada di rumah, kecuali untuk tidur dan menyambut pagi sebelum sekolah.


"Laura! Buka pintunya!" Adam memaksa. "Aku tahu kamu ada di dalam!" Adam terus berteriak, seperti orang kesetanan.


Adam menekan gagang pintu, tetapi sayangnya pintu dikunci dari dalam. Tidak mungkin Adam mendobrak dan merusaknya. Dia akan dicap sebagai pencuri nantinya.


"Laura! Aku mohon! Aku tahu kamu belum—" Kalimat Adam berhenti ketika seseorang membuka kunci pintu. Tak berselang lama, Laura menampakan batang hidungnya.


Tentu saja Laura bingung dengan tingkah Adam malam ini. "Pak Adam ini kenapa?" Dia menatap Adam yang terengah-engah, menandakan kalau dia buru-buru datang ke sini.


"Ada masalah?" Laura memandangnya. Sebenarnya dia ingin langsung memeluk Adam, belakangan ini masalah terus datang, tetapi dia tidak punya tempat untuk mencurahkan segalanya.


Laura menghela napas. "Hanya iseng?" Dia menyerah, sebelum fantasinya pergi ke mana-mana. "Pulang saja. Aku capek baru pulang kerja," ujar Laura. Dia hendak menutup pintu, tetapi Adam tiba-tiba menariknya dan memeluk Laura.


Gadis itu membeku. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, berpikir kalau ini hanya imajinasinya. Namun, Laura merasakan kehangatan dan aroma tubuh Adam ... ah, itu sangat melegakan.


"Pak Adam?" Laura melirih. Sedangkan Adam masih mencoba menenangkan dirinya. "Sebenarnya ada apa?"


Adam melepaskan pelukannya perlahan-lahan. Dia menatap Laura, begitu juga sebaliknya. "Belen bilang kamu akan pergi ke Malaysia dan menetap di sana."


Wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang luar biasa. Adam tidak bisa menyembunyikannya lagi.


Laura manggut-manggut, tetapi cukup membingungkan. "Aku emang akan pergi dari Jakarta, tetapi ...."


"Kamu kurang ajar!" Adam tiba-tiba berbicara dengan ketus.


Laura menarik kerutan di atas dahinya. Pria ini gila! "Kenapa aku kurang ajar?" Laura menggerutu. "Terserah aku mau pergi ke mana. Sama seperti Pak Adam terserah mau menikah sama siapa pun."


Adam mendesah panjang. "Itu berbeda, Laura."


"Apanya yang berbeda?" Laura memprotes. "Pak Adam bisa meninggalkan aku, kenapa aku tidak?"


"Setidaknya jangan pergi mendadak!" Adam membentak. Kekhawatiran yang membuatnya menggila. "Bagaimana bisa tiba-tiba kamu memutuskan untuk pergi dari Jakarta selama-lamanya secepat ini, huh?" Suara Adam dipertegas.


Kini Laura mulai memahami keadaannya. Dia tiba-tiba tertawa.

__ADS_1


"Aku serius, Laura!" Adam meriah bahunya, mencengkram cukup kuat. "Kamu kurang ajar jika pergi gitu aja!"


"Kamu ketipu, Pak Adam," jawab Laura sembari memicingkan mata. Jelas-jelas dia menangkap perubahan ekspresi wajah Adam. Itu menggelitik perutnya.


Laura tertawa terbahak-bahak kemudian, sedangkan Adam hanya terdiam sembari menatapnya. Tentu saja dia tidak memahami apapun, dia terlalu terburu-buru datang kemari sampai tidak mempersiapkan apa-apa.


Dalam pikiran lelaki itu, jika terlambat satu detik saja maka dia akan kehilangan Laura selama-lamanya. Adam tidak mau menyesali apapun.


"Belen menipu Pak Adam," terang Laura lagi. "Pak Adam kena perangkapnya."


Adam mulai memudarkan kerutan di atas keningnya. Sekarang dia tahu ini permasalahannya. Benar, inilah alasan kenapa orang tua zaman dulu selalu mengatakan bahwa kita tidak boleh terburu-buru dalam hal apapun.


"Jadi kamu tidak akan pergi?" tanya Adam. Suaranya lebih lembut. Meskipun masih ada sisa kekhawatiran, tetapi dia sedikit lega.


Laura menggelengkan kepalanya. "Tentu aku akan pergi. Namun, setelah aku lulus nanti. Aku akan ikut tanteku di sana. Aku akan hidup di sana."


Meskipun sudah mendengarkan penjelasan Laura, Adam masih kecewa. Meskipun entah kapan dia akan pergi, tetapi Adam tidak mau melepaskan Laura.


Inilah cinta?


"Tante Danira pamit padaku, katanya dia menjual rumah yang ada di Jakarta. Dia pergi ke kampung halaman suaminya," ucap Laura. Dia menghela napas. "Genap sudah, aku sebatang kara."


Keduanya saling memandang. Adam bisa merasakan luka di balik senyum Laura.


Adam menunduk sejenak. "Kau ingin pergi?"


"Aku bisa apa?" Laura menyahut. "Aku masih ingin kuliah, tetapi aku yakin tabunganku tidak akan cukup."


"Saudara papa mau membayari kuliahku, tetapi mereka memintaku bekerja di perusahaan mereka," ucap Laura. "Semacam gaji."


Adam menatap Laura. Satu langkah mendekatinya. Sejenak tidak ada suara, keduanya larut dalam pandangan penuh makna.


"Maafkan aku, Laura." Ada beribu kalimat di dalam kepala Adam, anehnya dia hanya menemukan itu untuk pantas di ucapkan. "Aku yang salah."


Laura memberi seringai. "Berhenti melakukan itu. Pak Adam hanya ingin membahas masa lalu."


"Itu semua salahku," lirih Laura berbicara. "Tante Danira benar. Papa dan mama dan memilihkan Pak Adam untukku, seakan tahu kalau semua ini akan terjadi."


Adam menyimaknya dengan saksama.

__ADS_1


"Bodohnya aku terlambat menyadari semua itu," timpal Laura. Dia menutup kalimatnya. "Namun, aku bisa apa? Semuanya sudah selesai."


"Laura ...."


"Aku menyukai Pak Adam," akunya. Laura tidak bisa lagi memendam semuanya. "Seminggu lagi Pak Adam akan menikah. Jadi aku harus mengutarakannya sekarang."


Adam berusaha menyela, tetapi Laura terus berbicara.


"Akan merendahkan harga diriku jika aku mengakui perasaan itu pada suami orang," kekeh Laura. "Jadi mumpung Pak Adam belum menikah, aku mengatakannya sekarang."


Adam mengangguk. "Aku ...."


Laura menghentikan gerak bibir Adam dengan telapak tangannya. Dia berusaha dewasa. Keadaan cukup mengajarinya beberapa hari ini. Adam tidak akan kembali padanya.


"Aku mengakui perasaanku bukan untuk mendapat penolakan dari Pak Adam," ucap Laura yakin. "Aku hanya ingin mengakuinya."


Laura menurunkan perlahan-lahan tangannya. "Belen bilang padaku, sebelum terlambat, setidaknya aku harus mengakui ini."


Adam memandangnya penuh makna.


"Aku benar-benar menyukai Pak Adam," imbuh Laura mengulang. "Aku serius kali ini." Gadis itu memandangnya tanpa jeda. "Aku hanya ingin mengakui itu."


Sebenarnya Laura tidak ingin mengatakannya sekarang, dia mencari waktu yang tepat sebelum pernikahan Adam terjadi. Nyatanya, Tuhan hanya memberi kesempatan ini padanya. Mungkin, besok mereka tidak akan bertemu lagi.


"Pak Adam bisa pulang. Nanti Nurwa mengamuk lagi padaku," tutur Laura. "Aku harus belajar. Seminggu lagi aku ulangan akhir. Jadi aku harus memperbaiki nilaiku."


Laura tersenyum. Dia berpaling dari Adam, hendak masuk ke dalam rumah.


"Laura!" Adam memanggilnya, mencegah Laura pergi.


Laura menoleh pada Adam. Dia menunggu pria itu berbicara.


"Kamu belum mengizinkan aku berbicara," ucapnya. Dia mendekati Laura. "Aku juga punya yang ingin dikatakan," imbuhnya.


Mereka berada dalam jarak yang intim.


"Aku ...." Adam mulai ragu. "Aku juga."


Laura mengerutkan kening. "Juga apa?"

__ADS_1


"Kita punya perasaan yang sama, Laura." Adam menutup kalimatnya. "Bisakah kita kembali ke masa lalu? Aku ingin mengulang semuanya."


Next.


__ADS_2