
"Katanya rumahmu dijual, Ra." Daffa memperhatikan ekspresi Laura. "Terjadi sesuatu sampai-sampai keluargamu harus menjual rumah itu?"
Laura menahan diri mati-matian agar tidak terlihat cemas. Dia mengontrol diri sebisanya.
"Ra, aku tanya sama kamu." Daffa berbisik pelan. "Terjadi sesuatu dengan papa dan mama kamu?" tanyanya lagi.
Daffa tak berhenti sampai di sana. Dia terus mendesak Laura, berusaha membuat mantan kekasihnya itu bicara.
"Aku tahu aku sudah tidak berhak ikut campur urusanmu lagi, Ra." Daffa merendahkan suara. Helaan napasnya memberi tanda kecemasan untuk kondisi Laura. "Akan tetapi, aku khawatir."
Omong kosong itu menghipnotis pendirian Laura. Gadis itu memutuskan untuk berbicara seadanya. "Papa dan mama pindah ke luar negeri." Laura tidak pandai berbohong.
"Bisnis di Indonesia dipindahkan ke luar negeri dan dikembangkan di sana," ucap Laura semakin yakin ketika kebohongan terlintas di dalam kepalanya. "Semuanya baik-baik saja."
Daffa tak langsung percaya. Tatapan matanya berusaha menggali informasi dari cara Laura memandang, kali saja dia mendeteksi kebohongannya.
"Laura."
"Daffa," sahut Laura. Dia tak membiarkan Daffa menguasai pembicaraan. "Aku harus masuk sekolah pagi ini, kemarin aku membolos cukup lama."
Laura tersenyum canggung. "Kita lanjutkan pembicaraan lain kali, oke?"
"Aku pergi dulu." Laura mengakhiri kalimatnya. Dia berpaling dari Daffa.
"Soal pernikahanmu dengan pria itu." Daffa mencegah Laura pergi. Beruntung dia bertemu dengan Laura di sini, Daffa tidak perlu mencuri waktu untuk bicara dengannya di sekolah.
Laura memandang Daffa sedikit gusar. Laura masih belum terbiasa dengan status barunya. Bagi Laura, semuanya masih seperti mimpi.
"Kenapa kamu harus menikah dengannya secepat itu?" tanya Daffa.
__ADS_1
Laura tersenyum kecut. "Kamu masih tanya?" Dia terkekeh-kekeh. "Daffa, kamu sudah hilang akal, ya?"
"Aku serius, Ra." Daffa menarik tangan Laura dan membawanya mendekat. Pemuda itu berusaha memangkas jarak di antara mereka berdua.
Daffa memandang Laura. "Meskipun aku begini, tetapi aku serius tentang aku ingin bertanggung jawab."
"Malam itu, aku tidak berpikir panjang, Ra." Daffa masih dengan tujuannya untuk membujuk Laura sekuat tenaga.
Laura melepaskan genggaman tangannya. "Daffa, aku nggak bisa. Menikah itu bukan hal yang mudah untuk diakhiri begitu saja."
"Aku tahu, Ra." Daffa mendekati Laura perlahan-lahan. "Akan tetapi, kita harus mencobanya. Kamu dan aku, kita pasti bisa," tandasnya.
Daffa tersenyum lebar. "Aku ayah kandungnya, Ra."
"Kamu tidak memikirkan perasaan anak kita ketika dia lahir nanti?" Daffa berandai-andai. "Bagaimana jika dia mencariku?"
Laura terdiam.
Laura seperti terhipnotis. Laura juga ingin mengakhiri semuanya. Dia ingin kembali pada kehidupan yang normal, tanpa malam dingin yang menggigit seperti kemarin. Akan tetapi, wajah mendiang papa dan mamanya masih melekat kuat dalam ingatan Laura. Memori itu bercampur dengan duka mendalam yang ada di dalam hatinya hingga detik ini.
"Aku harap kamu mempertimbangkan itu, Laura." Daffa memohon. "Aku akan menunggu kamu, aku janji."
>>>><<<<
Adam masuk ke ruang kelas. Sorak-sorai tanda gembira menyambut kedatangannya yang hanya dua hari dalam minggu bisa masuk kelas ini.
"Pak Adam!" teriak seorang gadis dari sudut kelas. "Kami kangen!"
Adam tersipu mendengarnya. Sedangkan semua penghuni kelas tertawa bersama-sama. Kehadiran Adam menghidupkan suasana.
__ADS_1
Adam mengangguk. "Terimakasih karena sudah merindukan saya," balasnya. Adam berdiri di barisan meja paling depan, memandang satu persatu penghuni kelas tempatnya mengajar untuk dua jam ke depan.
"Ada yang tidak masuk?" tanya Adam.
Belen duduk sendirian. Dia menyadari kalau dirinya tak melihat batang hidung Laura di kelas ini.
"Belen, di mana teman semeja kamu?" Adam bertanya dengan lembut. "Dia tidak masuk lagi?"
Belen tersenyum genit. Dia tidak peduli dengan Laura sekarang. Laura membolos tanpa kabar bukan hal yang aneh untuknya.
"Mungkin dia malas," jawab Belen. "Karena ini pelajaran Pak Adam," gumamnya.
Adam mengerutkan kening mendengar jawaban aneh dari Belen. "Kenapa memangnya kalau ini pelajaran saya?" Adam berpura-pura polos.
Belen menaikkan bahunya. "Karena Bapak guru baru," kekehnya. "Laura memang suka begitu," imbuh Belen lagi.
Adam berpikir sejenak, menerka-nerka kiranya di mana Laura berada. Adam yakin kalau dia menghantarkan Laura sampai halte bus samping sekolah.
"Kenapa Pak Adam tiba-tiba peduli?" tanya Belen. Dia mungkin sedang cemburu buta di tempatnya. Belen serius menyukai Adam Dhanurendra.
Adam tersenyum canggung. "Saya adalah gurunya, jadi saya berhak tahu. Ini adalah jam pelajaran saya."
Adam menyudahi pembicaraan tentang Laura. Dia berniat mencari tahu setelah kelas selesai. Akan tetapi, diamnya dikejutkan dengan Laura yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas.
"Laura?" Belen mengerutkan dahi ketika melihat sepasang mata Laura sembab, seperti sehabis menangis.
Laura memandang Adam. Lelaki itu terkejut dengan keterlambatannya pagi ini.
"Maaf terlambat, Pak," gumam Laura lirih. Dia membungkuk paksa, berpura-pura menghormati Adam layaknya guru dan seorang murid.
__ADS_1
Adam mengehentikan langkah kaki Laura yang hendak melaluinya begitu saja. "Kenapa kamu menangis?"
Next.