
Laura terlambat lagi.
Mengetahui bahwa Laura tidak ada di rumah beberapa menit yang lalu, sebenarnya membuat Adam cemas. Adam melihat dengan jelas bahwa Laura masuk ke dalam bus saat dia tengah bercerita bersama Belen di pinggir minimarket.
"Kamu terlambat." Adam menyapanya dengan cara yang aneh.
Sepatu Laura basah, kaos kakinya kotor terkena cipratan air hujan. Sepertinya Laura menghabiskan waktu di luar, bukan duduk di dalam bus kota.
"Aku sudah pulang telat beberapa menit karena ada urusan tadi, tetapi ternyata kamu pulang lebih telat lagi," ucap Adam menambahkan.
Laura enggan menghiraukan. Dia menutup payung milik Belen dan menyimpannya di sudut beranda rumah, berharap besok kering dan Laura segera mengembalikannya pada Belen.
"Dengan Belen?" Laura melirik Adam.
Adam diam, seperti tertangkap basah baru saja berselingkuh. Padahal dia melakukan sesuatu yang wajar bersama Belen.
Adam terpaksa mengangguk. "Hanya bicara. Dia orang yang seru juga," jawab Adam seadanya.
Laura tersenyum picik. "Kenapa tidak menikah dengannya?" gumam Laura. Dia melepaskan sepatunya dan masuk ke dalam rumah.
Adam mengekor Laura. Ada satu kesimpulan yang menutup pembicaraannya dengan Belen tadi. "Laura itu jahat. Jahat sekali, tetapi untuk orang yang tidak memahaminya."
"Bagiku Laura itu baik. Dia banyak membantuku."
"Laura." Adam memanggilnya dengan lembut. Dia menghentikan Laura yang hendak masuk ke dalam kamarnya. "Kamu sengaja menukar payungnya?"
Laura bergeming. Ditatapnya Adam yang jelas-jelas menunggu jawaban darinya.
"Kalau iya?" Laura menghela napas. "Sudah aku bilang aku tidak suka warna biru tua. Itu yang membuat payungnya jadi jelek," imbuhnya. "Masih belum paham juga?"
Adam memaksakan senyum di atas bibirnya.
"Tenang saja. Aku sudah meminta Belen untuk mengembalikan payungnya dalam keadaan seperti semula. Belen tidak akan membuangnya atau merusaknya," tandas Laura lagi. "Kalau rusak, aku akan ganti."
__ADS_1
Adam memilih diam. Setelah berhari-hari berlalu, hatinya masih belum bisa sepenuhnya memahami Laura. Kadang kala Adam melihat luka di dalam hati Laura, gadis itu tidak pandai menyembunyikan. Namun, di sisi lain, dia adalah Laura.
"Lagian siapa juga yang ngasih payung jelek seperti itu zaman sekarang?" gerutu Laura. "Buang aja. Beberapa bagiannya sudah berkarat. Beli payung juga murah kan?"
Adam tersenyum. "Mendiang ibuku."
Jawaban Adam mengubah tatapan Laura. Gadis itu terdiam setelah mendapat hamparan secara tidak langsung. Setidaknya mereka punya kesamaan, sama-sama tak punya ibu. Laura bisa merasakan kesedihannya.
"Payung itu sudah lama, Ra." Adam menambahkan. "Wajar jika terlihat jelek dan kuno," imbuhnya.
Adam tak mau melanjutkan pembicaraan. Dia berpaling begitu saja dari Laura.
Laura tak enak hati. Nada bicara Adam terdengar penuh kekecewaan. Bahkan sebelum berpaling, raut wajahnya pun terkesan tak suka dengan kalimat Laura sebelumnya.
>>>><<<
Malam ini, menu makan disiapkan seadanya. Adam tak sempat membeli sesuatu dari warung pinggir jalan. Hujan semakin deras dengan angin kencang yang hampir membawa tubuhnya melayang di udara.
Laura keluar dari dalam kamarnya. Dua mangkuk mie rebus menyambut kedatangannya ketika dia membuka pintu. Adam dengan senyuman manis menunggunya di sana.
Laura diam. Dia masih bersalah atas perkataannya tadi. Namun, Laura terlalu gengsi untuk meminta maaf. Dia tak tahu apapun tentang Adam begitu juga sebaliknya.
Laura duduk di depan Adam. Mengambil air putih dan meminumnya.
"Gak makan?" tanya Adam lagi. Menatap Laura yang melirik dari celah mulut gelas. "Aku terlanjur membuatkan dua."
"Aku diet." Laura menjawab seadanya. Dia melirik jam dinding. "Aku tidak makan kalau sudah jam segini."
"Apalagi pakai menu begitu," ucap Laura sembari menunjuk mie rebus di depannya. "Berat badanku akan naik."
"Kalau tidak dimakan sayang, Ra." Adam mendorong paksa. "Makan sedikit saja. Aku yakin kamu juga belum makan."
"Aku gak mau!" gerutu Laura. "Kenapa Pak Adam selalu memaksa?"
__ADS_1
Adam mengendus perdebatan yang mungkin akan terjadi jika dia terus mendesak Laura. "Baik, baik. Aku yang akan habiskan."
"Makanya kalau mau apa-apa tanya dulu," sahut Laura kesal. "Pak Adam selalu melakukan semuanya semau sendiri," gumam Laura lagi.
Adam tak mau menanggapi. Jika dia berbicara, pembicaraan ini akan melebar kemana-mana.
"Setelah ini salat isya dulu." Adam menyela lagi.
Laura memandangnya tanpa kata-kata. Menyadari Laura memperhatikan dirinya, Adam menghentikan makannya.
"Ada apa? Kenapa melihatku begitu?" tanya Adam. "Karena aku minta kamu salat isya?"
Laura memalingkan wajahnya. "Nanti," jawabnya lirih, sedikit takut.
"Aku melihat KTP-mu. Aku melihat agamamu dan aku yakin kamu belum pindah agama kan?" Adam tertawa kecil. "Jadi aku akan menjadi imamnya."
"Ada mushala kecil sebelum kamu pergi dapur, pintunya selalu ditutup. Nanti kita salat di sana. Kamu ambil air wudhunya ...." Adam diam ketika Laura memandang dengan mata tajam. "Kenapa?"
"Aku tidak salat hari ini." Laura beralasan. "Aku datang bulan."
Adam diam, menatap Laura yang sama sekali tidak menunjukkan keseriusan.
"Kamu yakin?" Adam tak langsung percaya. Riwayat pendidikan Laura tidak pernah menyertakan nilai agama yang bagus. Adam menebak, Pak Faishal dan Bu Desi terlalu fokus pada akademik Laura saja.
Kini waktunya dia yang memperbaiki itu.
"Kenapa? Tidak percaya?" tanya Laura dengan ketus. "Aku akan salat kalau sudah selesai." Laura menggerutu di tempatnya.
Adam manggut-manggut. "Aku tidak percaya."
Laura memandang Adam dengan kesal. "Lalu gimana aku bisa membuktikannya agar kamu percaya, Pak?"
Adam menunjuk kamar Laura. "Kita periksa di kamar sama-sama?" balasnya.
__ADS_1
Laura merinding bukan main. "Dasar cabul!"
Next.