Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
57. Bukan KDRT!


__ADS_3

Laura memasang wajah sedih. Ternyata berbelanja menghabiskan banyak uang Adam tidak bisa membuat hatinya senang.


Laura masih memikirkan tentang hubungannya dan Belen. Dia tidak terbiasa bertengkar hebat dengan temannya itu. Selama ini hubungan mereka selalu baik-baik saja, perdebatan kecil adalah hal biasa.


"Laura!" Adam tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamarnya. Pandangan mata Adam langsung tertuju pada jajaran totebag yang ada di sudut ranjang milik Laura.


Adam melangkah masuk. "Kamu menghabiskan uang dua juta setengah dalam sehari?"


Laura tidak memberi jawaban. Dia hanya menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya dengan helai rambut panjang miliknya.


"Laura, aku memang mengizinkan kamu menggunakan uang itu. Namun, uang sebanyak itu hanya dalam satu sore ... kamu gunakan untuk apa saja?" tanya Adam lagi.


Adam berdecak. Dia berkacak pinggang di hadapan Laura. "Kamu tidak mau menatapku dan menjelaskan apa yang kamu beli?"


Adam kembali memandang belanjaan Laura. Memang banyak, tetapi dia tidak yakin dengan harganya. "Aku yakin belanjaan itu tidak sampai dua juta setengah."


Laura masih diam.


Adam menunjukkan layar ponselnya. "Kamu masih mau diam dan membohongi aku padahal sudah ada buktinya?" tanya Adam. "Ra? Jawab aku," pinta Adam.


Adam berusaha memendam kekesalannya sendiri. Dia tidak nikah pada Laura, meskipun memang gadis itu pantas untuk dimarahi.


"Laura!" Adam akhirnya membentak. "Kamu mau terus diam seperti ini? Uang sebanyak itu bisa kita gunakan dalam waktu satu bulan lebih."


"Akan tetapi, kamu malah menggunakannya dalam suatu sore?" Adam memicingkan mata. "Papa kamu mengajarkan dirimu begitu?"

__ADS_1


Laura meneteskan air matanya. Akan tetapi, Adam belum menyadarinya. Dia tidak tahu kalau Laura menangis di balik helai rambut panjang yang menutupi wajahnya.


"Aku bukan papa kamu!" ketus Adam. Jika saja Laura mau menjawab, mungkin saja Adam tidak akan kesal begini. "Kamu adalah istriku dan kamu hidup bersamaku sekarang."


"Kamu harus menghargai aku sebagai suamimu! Bukannya terus mengabaikan aku begini!" tandas Adam semakin marah.


Adam menghela napas panjang. "Laura! Tatap aku!"


"Selama ini aku mencoba sabar bukan karena aku takut padamu!" Adam berbicara ngawur ke sana kemari. Semua yang ada dalam hatinya dia ungkapkan, tidak peduli mungkin saja akan menyakiti hati Laura.


"Kamu bukan lagi putri raja. Kamu bukan lagi anak orang kaya!" ketus Adam.


Adam membentak. "Katakan sesuatu dan jawab pertanyaanku!"


"Aku harus jawab apa!" Laura tiba-tiba membentak. Dia mendongak dan menatap Adam. Wajahnya sudah dipenuhi air mata. Ujung hidungnya memerah, dua kelopak matanya membesar karena sembab.


"Inikah yang diajarkan papa dan mama kamu?" balas Adam dengan ketus. "Papa dan mama kamu tidak mengenalkan kata maaf padamu?"


"Aku harus jawab apa?" Laura gemetar. Air matanya dia mau berhenti. "Ke mana uang itu?"


"Pak Adam lebih mementingkan uangnya?" tanya Luara. Gadis itu berdiri di hadapan Adam. "Akan aku kembalikan!"


Laura hendak berpaling dari hadapan, tetapi pria itu menariknya dengan kasar. "Kamu mau ke mana?"


"Cari uang untuk ganti uang kamu!" ketus Laura. Laura menyeka air matanya. "Papa tidak pernah perhitungan sama aku! Mau berapapun aku menghabiskan uangnya!"

__ADS_1


Adam terdiam. Dia terus meneliti arti pandangan Laura.


"Dia tidak pernah keberatan aku mau menghabiskan uang untuk apapun yang penting aku bahagia!" ujar Laura di sela isak tangisnya. "Kenapa sekarang kamu perhitungan? Aku adalah istrimu!"


"Aku bukan papamu!" Adam membentak lagi.


Laura tersentak. Adam tidak pernah meninggikan nada bicaranya. Dia tidak pernah memandang Laura dengan kemarahan yang mengerikan.


Laura kalah berbicara. Dia diam begitu saja. Namun, kebencian di dalam matanya tidak bisa dibohongi begitu saja. Laura menyimpan kebencian untuk Adam.


"Aku akan pergi darimu dan mengembalikan uang itu, jika memang uang lah yang kamu pentingkan!" tukas Laura lagi. "Aku akan mengembalikan semuanya!"


"Aku tidak butuh itu!" Adam membentak lagi.


"Lalu apa yang kamu butuhkan?" pekik Laura dengan nada tinggi. "Jangan munafik! Orang miskin seperti kamu memang selalu butuh uang," gumam Laura dengan penekanan di setiap kalimatnya.


Laura menyeringai tajam. "Kalian bahkan rela mengemis untuk uang," bisiknya. "Itukan yang diajarkan orang tuamu, Pak Adam?"


Adam tidak memberi jawaban. Namun, sebuah tamparan keras di pipi Laura. Gadis terpelanting jatuh. Siku tangannya mengenai sisi meja hingga menimbulkan luka lebam di sana.


"Kamu keterlaluan, Laura," gumam Adam sembari memandang Laura tanpa jeda. "Aku tidak bisa menoleransinya lagi."


Laura menatap Adam. "Kamu ...."


"Kita bercerai besok," ucap Adam tiba-tiba. Belum sempat Laura menjawab, Adam pergi dari tempatnya.

__ADS_1


Next.


__ADS_2