Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
15. Papa Tercinta Terbang Ke Langit


__ADS_3

Laura tidak bisa lagi berpura-pura bahagia. Suasana hatinya dihancurkan begitu saja ketika kabar buruk menyertakan nama papanya.


Sesampainya Laura di rumah sakit, isak tangis mamanya menyerbu keheningan. Kesedihan menggantung di langit-langit kamar inap milik papanya. Layar elektrokardiagram tidak lagi menampilkan aktivitas apapun.


"Papa ...." Laura lemas begitu saja ketika dia melihat dokter menyelimuti seluruh tubuh papanya dengan kain putih, menenggelamkan wajah pucatnya di bawah sana.


Adam mengerti perasaan Laura. Bagi seorang anak gadis semata wayang, kehilangan sosok ayah adalah luka terbesar dalam hidupnya.


"Ra, kamu yang sabar," bisik Adam.


Laura bersimpuh di ambang pintu, tidak berani mendekati mamanya yang menangis tersedu-sedu di sisi ranjang papanya. Ada Wanda yang menemaninya.


Adam berjongkok menyamakan tinggi dengan Laura. Dia melihat pandangan mata gadis itu kosong. Genangan air mata menyembunyikan bola matanya yang indah. Laura seakan menahan isak tangisnya, agar tidak menambah luka di hati mamanya.


Malam ini begitu buruk untuk Laura. Dia kehilangan papanya untuk selama-lamanya.


...


Adam membantu Laura duduk di koridor rumah sakit. Memandang taman kecil yang ada di seberang sana. Hampir tengah malam, wajar jika suasana sepi menyelimuti keadaan. Jika bukan karena kesedihan yang membara, Laura tidak pernah berani duduk sendirian di tempat gelap dan sepi seperti ini.


"Mau aku belikan teh hangat?" Adam menawarkan. Berulang kali dia berusaha untuk membuat Laura berbicara, memastikan kalau gadis ini masih waras. Akan tetapi, Laura tidak mau meninggalkan bisunya.


"Ibu Wanda yang akan mengurus semuanya. Kamu tidak perlu khawatir." Adam berusaha menenangkan. "Mama Desi juga baik-baik saja, wajar jika dia sempat syok dan terkejut."


Adam menghela nafas. "Aku baru memeriksa tadi, semuanya sudah terurus. Papa kamu bisa dipulangkan besok."


Laura hanya punya raut wajah sedih. Matanya bahkan berat untuk memandang keadaan. Dia berharap ketika dia memejamkan mata, hari-hari cerahnya kembali lagi.


"Ra, aku tahu kamu sedih. Namun ...."


"Aku tidak mau pemakaman papa dilakukan terbuka," sahut Laura.


Adam memandang gadis itu tak mengerti.


Laura ikut menoleh ke arahnya. "Tolong sampaikan itu pada mama."

__ADS_1


Adam bergeming. Masih berusaha memahami pemikiran Laura.


"Aku tidak mau teman-temanku tahu papa meninggal hari ini," ucap Laura. "Itu artinya aku juga harus menjelaskan tentang pernikahan ini."


Adam mulai mendapatkan pencerahan di dalam kepala. Permasalahan hanya seputar pernikahan mereka.


"Mama juga pasti setuju kalau pemakamannya dilakukan di Malaysia. Keluarga besar Papa ada di sana," ucap Laura lagi. "Aku juga dengar, sebelum dipindahkan ke rumah sakit di Indonesia, papa dirawat di sana."


"Kenapa kamu bilang ini padaku?" Adam menyahutnya. "Aku akan menemani kamu berbicara langsung sama mama. Sepertinya jika yang menjelaskan kamu, mama akan mengerti."


Laura menggelengkan kepalanya. "Mama pasti menolak itu, jika aku yang bilang." Laura menolaknya mentah-mentah. "Mama tidak pernah setuju dengan pemikiranku. Dari dulu sampai sekarang."


"Kamu tahu apa yang paling aku sesali setelah kematian papa?" tanya Laura berteka-teki.


Tentu saja Adam tidak bisa menjawab. Hubungan unik di antara mereka adalah sepasang suami istri yang saling tidak mengenal satu sama lain.


"Hanya papa yang mengerti aku. Hanya dia yang bisa mentoleransi semua kesalahanku." Laura tersenyum kecut meratapi nasibnya. "Sekarang aku tidak punya sosok itu lagi."


"Aku ...."


Laura sedikit terkejut melihat Desi berdiri di dekat tiang belokan koridor rumah sakit.


"Sejak awal Mama memang sudah berencana untuk memakamkan papa kamu di kampung halamannya." Desi kembali menegaskan. Dia berjalan mendekati Laura dan Adam. "Mama mengerti kekhawatiran kamu."


Laura memalingkan wajahnya. Raut wajah mereka serupa tapi tak sama. Keduanya hanya punya luka yang begitu besar, yang bisa ditumpahkan lewat ekspresi wajahnya. Dua perempuan ini kehilangan satu orang yang begitu berharga untuk mereka.


"Kamu harus ikut ke pemakamannya besok. Mama memesankan tiket penerbangan untuk kita semua," ujar Desi lagi.


Laura tidak sengaja meneteskan air matanya. Meskipun dia sudah tidak menangis, kedua kakinya sudah kuat menopang tubuhnya sendiri, tetapi rasa sakit yang kekosongan di dalam hatinya yang begitu dalam dan datang secara tiba-tiba tidak bisa dihilangkan begitu saja.


Laura seperti kehilangan separuh sayapnya untuk terbang.


"Laura." Desi kembali memanggilnya. Dia meraih tangan Laura perlahan-lahan. Memberikan sesuatu padanya.


Adam hanya bisa menjadi saksi bisu di antara mereka. Dia juga enggan untuk mengganggu interaksi dua perempuan yang sedang berduka.

__ADS_1


"Papa kamu meninggalkan sesuatu." Desi memberikan sebuah kalung yang begitu cantik. "Sebelum dia jatuh sakit, dia pergi ke Italia untuk membeli kalung ini. Katanya kamu sangat ingin ketika melihatnya."


Laura menatap pemberian Desi. Hatinya semakin terluka dan terasa begitu sesak. Air mata tidak luput kembali jatuh mengenai telapak tangannya sendiri.


"Papa juga berpesan pada Mama, kamu tidak boleh menceraikan suamimu." Desi berbicara dengan nada gemetar. "Papa ingin kamu melahirkan anak itu dan anak itu harus punya seorang ayah."


Laura tidak menjawab sepatah kata pun. Sepertinya dia bisa membaca luka bertubi-tubi di hati Desi. Kekecewaan sebagai seorang ibu masih terekam jelas dalam ingatannya, ditambah lagi kesedihan sebab kehilangan suami yang hidup selama berpuluh-puluh tahun bersamanya.


"Bahkan di saat-saat terakhirnya, dia masih egois dengan keputusannya sendiri." Desi tersenyum seringai setelah kalimat itu selesai.


"Kenapa Mama bilang begitu? Pantaskah Mama bilang begitu pada papa?" tanya Laura ketus. "Papa baru saja meninggal dunia. Dia tidak akan kembali pada kita lagi."


"Mama ingin kamu menggugurkan kandungan itu. Melanjutkan sekolah kamu dan melanjutkan perusahaan milik keluarga kita." Desi mulai mencurahkan isi hatinya.


Laura melirik Adam. Lelaki itu sepertinya sedang menahan sesuatu, mungkin rasa tidak enak sebab dia bukan pria yang setara dengan Laura.


"Hanya kamu yang Mama punya sekarang untuk meneruskan bisnis keluarga kita. Mama tidak bisa melanjutkannya," imbuh Desi. "Seharusnya kamu masih bisa bersekolah dan melanjutkan kehidupan secara normal."


Laura bisa membaca luka yang begitu besar dari cara Desi berbicara dan memandangnya.


"Kamu bisa masuk universitas karena kamu termasuk siswi berprestasi, Laura," imbuh Desi lagi. Dia terus menerus mencecar Laura. "Namun apa yang terjadi? Malah hamil diluar nikah dan sekarang kamu menikah dengan pria yang jelas-jelas tidak bisa melanjutkan perusahaan keluarga kita."


"Kemarin Mama yang memaksa untuk menikah dengannya, sekarang Mama menyesalinya?" Laura menyeringai. "Mumpung ada Pak Adam di sini, katakan penyesalan Mama!"


Desi tidak berani menatap Adam, dia hanya berani memandang mata teduh putrinya.


"Katakan padanya!" Laura berteriak. "Katakan padanya kalau Mama ingin dia menceraikan aku besok!"


Desi memejamkan mata. Air matanya menyerbu wajah tuanya.


"Katakan sama Pak Adam kalau Mama tidak bisa menyerahkan aku padanya, maka dia harus melepaskan aku dengan cara menceraikan aku!" seloroh Laura lagi sembari menangis.


Adam menyela. "Aku tidak akan menceraikan kamu, Laura." Adam berusaha untuk menyela pembicaraan.


Desi memutar tubuhnya dan menatap Adam. "Ceraikan Laura, Adam. Aku mohon," pintanya. "Biarkan dia kembali pada kehidupannya yang lama."

__ADS_1


Next.


__ADS_2