Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
49. Pasca Keguguran


__ADS_3

"Nurwa mengajakmu menikah?" Laura duduk di depan Adam. Dia sudah rapi setelah mengenakan seragam sekolahnya.


Adam memandang Laura. Wajah pucatnya menghilang dalam satu malam. Riasan itu sempurna menutup kesedihan hatinya. "Kamu akan masuk sekolah?"


"Aku kira keadaanmu tidak baik-baik saja." Adam meliriknya, lalu kembali fokus pada sarapannya. "Kamu pulih lebih cepat dari dugaanku."


Daffa menemukan dokter yang tepat. Itulah yang ingin Laura katakan pada Adam. Rasa sakitnya berkurang banyak setelah dia bangun tidur.


"Aku harus kembali hidup." Laura menjawab tak acuh. Gadis ini memang tak pernah kenal takut untuk menghadapi kehidupannya. Laura tergolong nekat, keputusannya adalah apa yang harus dia lakukan.


"Mari cari tempat untuk mengenang anak kita," kata Adam tiba-tiba.


Kalimatnya membuat Laura bingung. Gadis itu diam penuh tanya. Dahinya berkerut seiring dengan matanya yang menyipit.


"Kita bisa membuat makam atau semacamnya. Kita bisa datang ke sana sesekali untuk mendoakan anak kita dan ...."


"Dia bukan anakmu." Laura memandang Adam dengan saksama. "Dia anakku dan Daffa," imbuhnya.


Adam diam. Dia memang tidak bisa mengambil alih status itu. Laura benar, dia tidak ada hubungan apapun dengan kehamilan ini.


"Juga, aku rasa itu tidak perlu." Laura tersenyum seadanya. "Itu juga akan merepotkan dan memakan biaya. Itu membuatku tidak fokus."


Laura mengakhiri kalimatnya dengan senyuman. "Terima kasih tawarannya. Aku menghargai itu," balas Laura. Dia melanjutkan makannya.


Adam tidak bisa mendebat. Dia dan Laura memang sering berhadapan dengan ketidaksepakatan begini. Kali ini, Adam lah yang harus mengalah.


"Pak Adam belum jawab pertanyaanku," sahut Laura lagi. Pandangan mata teduhnya fokus pada Adam. "Aku dengar kemarin malam Nurwa datang."

__ADS_1


Adam mengangguk. Tidak ada alasan untuk membohongi Laura. Anggapan mungkin istrinya mendengar semua percakapan mereka semalam sudah diantisipasi oleh Adam.


"Dia mengajak Pak Adam menikah." Laura tersenyum. "Kenapa tidak diterima?" tanya Laura. "Dia cocok denganmu."


"Kamu mau dimadu?" Adam tertawa kecil sembari memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.


Laura berdecak. "Ceraikan aku dan nikahi dia."


Adam berhenti. Dia menelan nasi dengan begitu berat. Baru beberapa minggu menikah dengan Laura, tak ada sehari pun tanpa membahas tentang perceraian.


"Kenapa bisa segampang itu mengatakannya?" Adam memprotes. "Pernikahan tidak sesederhana itu, Laura."


"Aku memang dekat dengan Nurwa. Nurwa juga perempuan yang sudah matang, dia bisa dijadikan istri dan calon ibu." Adam menceramahi Laura lagi. "Namun aku punya istri sekarang."


Laura manggut-manggut. Dia tidak benar-benar paham dengan Adam. Apapun yang dikatakan Adam, Laura tidak pernah mau peduli.


"Kenapa kamu selalu meremehkan suamimu dan pernikahan ini?" Adam sedikit kesal. "Aku tahu kamu tidak menyukai aku, tetapi kamu terlalu terburu-buru, Luara."


"Aku akan mengajar sekarang. Kamu habiskan makannya," ucap Adam tiba-tiba. Dia bangun dari kursinya. "Letakkan piring kotor di dapur, jangan tinggalkan sisa di meja makan."


Laura hanya diam, tak bisa menatap Adam.


"Hari ini kamu boleh naik taksi. Itu demi kenyamanan kamu," imbuh Adam. Setelah selesai, Adam berpaling dari Laura. Berniat meninggalkan gadis itu.


"Pak Adam sudah berjanji." Laura mencegahnya.


Perlahan-lahan Laura menatap Adam, begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


"Janji tenang perceraian." Laura kembali menagihnya. "Jika aku tidak mengandung lagi, Pak Adam membiarkan aku pergi bebas di luar sana."


"Pak Adam akan menceraikan aku." Laura menambahkan lagi. Dia lelah dengan ini semuanya. Pernikahan ini menyandera kebebasan Laura.


Laura mencoba meyakinkan Adam. "Aku baik-baik saja sekarang! Aku sendirian. Tidak ada janin dalam perutku dan tidak ada beban tanggung jawab untukmu lagi."


Adam tidak habis pikir dengan Laura. Dia menundukkan pandangan mata, menghela napas tanda resah yang luar biasa. Adam terus mendengarkan argumen Laura yang tak pernah berubah.


"Laura," panggil Adam lirih.


Keduanya saling memandang.


"Katakan padaku dengan jujur tanpa kebohongan." Adam menatapnya lagi. Sekarang pandangan itu sedikit mendesak Laura.


Adam mulai frustasi. Faishal benar, Laura sulit dipahami. Itulah alasan Faishal mempercayai Adam untuk melakukannya. Namun, Adam gagal. Sedetik saja, dia tidak bisa mengubah Laura.


"Keguguran kemarin malam, benar-benar tidak sengaja?" tanya Adam sembari memandangnya.


Laura tertegun. Diamnya mencari-cari jawaban untuk membuat alasan yang masuk akal.


"Awalnya aku berpikir begitu," ucap Adam. "Awalnya aku mencurigai kamu."


Laura masih diam.


"Akan tetapi, aku mencoba menghilangkan semua pemikiran buruk itu. Aku ingin yakin kamu benar-benar kecelakaan," tutur Adam dengan lembut.


Laura memalingkan wajahnya. Matanya berkedip beberapa kali, mencoba menghilangkan rasa pedihnya. Jika dia menangis, maka Adam yang akan menang.

__ADS_1


"Jawab aku, Ra," pinta Adam. Dia mendekati Laura perlahan-lahan. "Keguguran itu ... adalah kecelakaan yang tidak sengaja?"


Next.


__ADS_2