Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
101. Masalah Baru!


__ADS_3

Adam duduk di serambi rumah sembari memandang halaman di depannya. Perasaannya campur aduk, tidak karuan.


Awalnya Adam berpikir kalau dia akan baik-baik saja, tetapi sayangnya dia salah. Selama satu minggu lebih, keputusannya untuk menjauhi Laura semenjak malam itu benar-benar mengubah ketenangan dalam hidupnya.


Seperti halnya Laura, dia resah tanpa alasan. Sepanjang malam dia terjaga dalam tidurnya, memikirkan hal-hal yang tidak-tidak.


"Mas Adam?" panggil Nurwa dengan lembut. Dia datang sembari membawa buku dan secangkir teh untuk Adam.


Adam menoleh. Dia menyambut kedatangan Nurwa dengan senyum manis. "Kamu tidak kembali ke rumah sakit?"


Nurwa menggelengkan kepalanya. "Ibu bilang aku harus banyak menghabiskan waktu sama Mas Adam," ucapnya. "Kita harus banyak membahas tentang rencana nikah."


Adam manggut-manggut. "Benar juga." Dia tersenyum seadanya. "Kita harus berharap yang baik-baik."


Nurwa duduk di samping Adam. Dia meletakkan teh di atas meja. Menatap Adam dengan saksama. "Mas Adam sedang memikirkan sesuatu?"


Nurwa bisa membaca ekspresi wajah Adam, sepertinya ada yang mengganggu dirinya belakangan ini.


"Tidak ada, hanya lelah karena jam mengajarku padat sekali belakangan ini," ucap Adam beralasan.


Nurwa mengusap pundak Adam. "Kenapa harus memaksakan diri?" tanyanya. Dia tersenyum lagi. "Kalau lelah, Mas Adam berarti perlu istirahat."


Nurwa dan Laura memang berbeda. Mereka tidak bisa dibandingkan. Sama-sama punya keunikan tersendiri.


Bagaimana mengatakannya? Ah, kita tidak bisa membandingkan bulan dan matahari. Semuanya punya waktu bersinar masing-masing.


"Ngomong-ngomong, ada yang ingin aku tunjukkan," tutur Nurwa lembut. Dia menunjukkan buku yang dia bawa.


"Mas Adam, aku ada warna baru untuk tema pernikahan kita nanti. Mas Adam bisa bantu pilih?" tawarnya.


Nurwa memang sempurna. Dia cantik, sholehah, lemah lembut, dan menjanjikan kehidupan rumah tangga yang lebih rapi dari rumah tangganya yang lama.


"Mas Adam suka warna apa?" tanyanya lagi. Dia lebih antusias, sedangkan Adam terlihat biasa. "Kalau aku suka warna merah muda dan biru laut."


Adam tersenyum tipis. "Aku ikut kamu saja. Aku tidak akan banyak menuntut," ucap dengan lemah lembut.


Nurwa mengerutkan keningnya. "Kenapa gitu?" protesnya. "Mas Adam perlu memberi masukan dan saran. Itu akan lebih adil."


Nurwa mendesak Adam. "Pilih salah satu," imbuhnya. Dia menyodorkan buku itu pada Adam. "Aku juga akan memilih nanti."

__ADS_1


Adam memandang beberapa referensi dekorasi, semuanya indah. Pernikahan memang seharusnya begini. Namun, dia merusak pernikahan pertama yang mungkin menjadi impian terbesar di dalam hidup Laura.


Pernikahan yang sederhana, tak ada yang tahu kecuali keluarga mereka. Pernikahan yang singkat, tidak ada pesta dan perayaan.


"Laura pasti menyesali ini," gumam Adam tiba-tiba setelah lama melamun.


Nurwa mengerutkan keningnya. "Mas Adam bilang apa?"


Adam tersadar. "Huh? Enggak-enggak," balasnya. "Enggak ada apa-apa."


Nurwa terdiam lagi. Dia mendengarnya, hanya saja dia berpura-pura tidak dengar apapun.


"Sampai di mana kita tadi?" tanya Adam tersenyum. "Aku akan memilih yang ini," ucapnya sembari menunjuk asal, yang penting Nurwa melihat keterlibatan.


Nurwa menghela napas panjang. Adam merusak perasaannya. "Mas Adam, boleh aku tanya?" tanyanya.


Adam manggut-manggut ragu. Dia melihat Nurwa menutup buku itu.


"Di dalam hati Mas Adam masih ada Laura?" tanyanya. "Mas Adam masih memikirkan Laura sampai detik ini, padahal kalian sudah berjanji untuk tidak saling bertemu lagi?"


Adam kembali terdiam.


Nurwa menggelengkan kepalanya. "Aku sudah jujur. Aku menceritakan semuanya tentang aku, mantan kekasihku."


"Aku tidak ingin ada yang ditutupi dan mengganjal di dalam hati kita," ucapnya lagi. Nurwa memandang Adam dengan jeli. "Katakan saja apa yang ingin kamu katakan, Mas Adam. Kita tidak boleh menutupi apapun."


Adam menunduk. Dia menghela napas. "Nurwa," tuturnya pelan. "Kita benar-benar harus membicarakan ini?"


Nurwa manggut-manggut. "Aku rasa ada yang salah dengan kamu belakangan ini, Mas Adam." Nurwa mendesak. "Kita harus saling percaya bukan?"


>>>><<<<


"Laura! Laura!" Agnes tertawa. "Kamu ini aneh! Benar-benar aneh!"


Laura mengabaikan Agnes. Dia meneguk bir lokal dalam gelasnya. Pandangan matanya fokus menatap jajaran botol wine di depannya.


"Kenapa tiba-tiba menyukai Pak Adam?" tanyanya langsung pada poin pembicaraan. "Dulu kamu bersikeras untuk menceraikan dia, kamu sampai menuduhnya!"


Laura melirik Agnes yang terus bergumam di tempatnya.

__ADS_1


"Sekarang tiba-tiba kamu mengakui kalau kamu menyukai dia?" Gadis itu tertawa lagi. "Aku hampir memukul kepalamu. Takut kalau sesuatu merasuki tubuhmu!"


"Pak Adam pernah masuk penjara," kata Laura tiba-tiba. "Kira-kira kenapa?"


Agnes menatapnya ketus. "Kamu dari tadi tidak mendengarkan aku?"


"Mungkinkah dia membunuh temannya? Bu Wanda bilang dia pembunuh," kata Laura lagi.


"Laura!" Agnes berteriak. "Kamu ini sudah sinting, ya?"


Laura kembali meneguk bir lokal dalam genggamannya. Dia tak mau mempedulikan gerutu Agnes. Kedatangannya ke sini hanya untuk menenangkan dirinya saja.


"Laura, dengarkan aku baik-baik," ucap Agnes berbisik di telinga Laura. "Aku ...."


Ucapannya terhenti ketika tiba-tiba kerumunan pria masuk ke dalam diskotik. Suasana menjadi kacau ketika salah satu dari mereka memperkenalkan diri sebagai seorang polisi.


Orang-orang berhamburan, coba menyembunyikan diri mereka. Laura dan Agnes saling memandang, mencoba memahami situasi yang terjadi.


"Kami mendapat kabar kalau ada penyelundupan narkoba di sini! Angkat tangan kalian! Letakkan barang kalian di depan kalian!"


Laura mengikuti perintah, tetapi tidak untuk Agnes. Dia gelagapan.


"Kamu kenapa?" bisik Laura. "Letakkan tasmu di depan."


Agnes menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Jangan-jangan ...." Laura mengerutkan kening. Dia berbisik, "Kamu bawa narkoba?"


Agnes mengigit bibir bawahnya. Dia menggelengkan kepalanya. "Kita," jawabnya.


"Kita?" Laura terkejut. "Aku enggak bawa ...." Dia terdiam. "Kamu memasukkan ke tasku diam-diam?"


Agnes tidak berani menjawab. Dia menunduk.


Laura hendak menyembunyikan tasnya, tetapi seorang polisi mendatanginya. Tentu saja, Laura tertangkap basah setelah polisi itu mengeluarkan semua isi tasnya.


Dia jadi bandar narkoba secara mendadak.


Next.

__ADS_1


__ADS_2