Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
50. Datang atau Mati!


__ADS_3

"Ada masalah, Ra?" Belen menepuk pundaknya. Dia memasang wajah Laura yang masam. "Sepertinya ada," tebak Belen begitu saja.


Laura menyunggingkan senyum. "Nggak ada," jawab Laura seadanya.


Belen terdiam cukup lama. Ketika akhirnya dia mendengar suara helaan napas Laura yang panjang dan berat, Belen menoleh padanya lagi. "Kamu bisa cerita sama aku. Belakangan ini kamu jadi pendiam."


"Mau belanja hari ini?" Laura menawarkan.


Belen langsung mengangguk. Dia mengacungkan jempol dengan antusias yang besar. Ini yang Belen tunggu sejak kemarin, Laura selalu saja menolak ajakan darinya untuk menghabiskan uang jajan di mall kota.


"Aku dengar ada koleksi kosmetik baru di mall kota, gimana kalau kita nanti beli itu untuk jadi orang yang pertama mencobanya?" tawar Belen.


Tanpa berpikir, Laura menganggukkan kepalanya.


"Tidak mahal, kamu bisa dapat paket lengkapnya cuma 600 ribu." Belen memohon. "Kita patungan ya, Ra?"


Laura menganggukkan kepalanya lagi. Hari ini dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memanjakan dirinya dan mengobati semua luka di dalam hatinya. Laura tidak akan memusingkan apapun. Dia ingin menjadi Laura seperti dulu lagi, yang tidak akan pernah khawatir besok uang jajannya akan habis.


"Oh, iya." Belen menyenggol bahu Laura. "Aku mendengar dari Almira, kalau perusahaan papa kamu yang ada di Jakarta sudah dijual dan diambil alih."


Laura mengubah raut wajahnya. Belen memang pantas tahu suatu saat nanti, tetapi tidak sekarang. Laura belum siap untuk memberitahu Belen segalanya.


"Rumah kamu juga dijual," ucap Belen. "Kemarin sore aku ke sana."


Belen memandang Laura dengan curiga. "Ada masalah sama keluarga kamu?" tanyanya. "Almira bilang kalau keluarga kamu mungkin saja bangkrut."

__ADS_1


Laura masih membisu. Tatapan matanya begitu fokus pada Belen. Dia tak menyiapkan alasan untuk Belen hari ini. Sialnya, kehidupan yang padat membuat Laura lupa untuk mengantisipasi keadaan seperti ini.


"Ra?" Belen memanggilnya dengan hati-hati. "Semua yang dikatakan Almira tidak benar kan?"


Laura mengedipkan mata beberapa kali setelah tersadar dalam lamunan sepintas yang datang. Dia memaksakan senyum untuk Belen. "Haruskah aku mentraktir kamu hari ini agar kamu tidak berpikir begitu?"


Laura terkekeh. "Mama dan papaku baik-baik saja." Dusta Laura memang tak akan pernah habis. Sampai sekarang, dia belum mau mengakui keadaan barunya.


Belen menghela napas. "Ah, syukurlah kalau gitu." Dia tersenyum sembari mengusap punggung Laura. "Aku kira ada hal yang serius."


"Papa dan mama pergi ke luar negeri," ucap Laura mencoba menyusun kebohongan. "Aku tinggal di rumah keponakanku sekarang. Rumahnya memang sengaja dijual karena aku malas mengurus rumah sebesar itu."


Belen mengangguk. Cukup mudah untuk menipunya. "Ajak aku mampir lain kali. Kamu tidak pernah mengenakan saudaramu sama aku."


Laura manggut-manggut pasti. "Tentu. Kapan-kapan aku kenalkan," jawabnya.


Informasi dari Belen membawa Laura ke gedung rahasia belakang sekolah. Ada satu bangunan khusus yang akan didatangi orang-orang tertentu juga. Salah satunya Almira.


"Mana dia?" tanya Laura penuh emosi. "Panggilkan dia sekarang!" geramnya. "Aku nggak mau tahu! Aku mau bicara sama dia!"


"Kenapa marah-marah begitu?" Almira datang menghampirinya. Dia menyuruh temannya pergi meninggalkan mereka berdua.


Almira menatap Laura. "Sepertinya ada yang membuat kamu kesal?" tanyanya sembari menyungging senyum. "Biar aku tebak ...." Gadis itu menatap Laura dari atas sampai bawah. "Belen bertanya langsung padamu?"


"Berhenti ikut campur urusanku!" Laura berteriak lantang. Marahnya sudah tidak bisa dibendung lagi.

__ADS_1


Laura membuang napasnya kasar. "Aku peringatkan sama kamu kali ini!" Dia mengacungkan jari, menunjuk wajah Almira. "Aku tidak akan tinggal diam kalau kamu terus-menerus mencampuri urusanku!"


Bukannya takut, Almira malah tertawa. Baginya Laura sangat lucu kali ini. "Emangnya kenapa jika sahabat kamu tahu tentang kondisi kamu?"


"Bukankah sebagai sahabat yang baik dia harus bisa menerimanya?" Almira mendekati Laura. "Menerima fakta jika temannya sedang dirundung masalah."


"Keluarga Laura bangkrut dan sekarang Laura entah tinggal di mana, sama siapa?" Almira menirukan gaya bicara Belen. "Harusnya dia iba."


Laura mendengus kesal. "Itu bukan urusan kamu!"


"Dan ya!" Laura menegaskan lagi. "Keluargaku tidak bangkrut. Papa dan mamaku mengembangkan perusahaan di luar negeri!"


"Kamu sebagai orang kaya baru, pasti tidak akan paham bagaimana sistem bisnis perusahaan besar bekerja kan?" tanya Laura menertawakannya.


Amira ingin menjawabnya, tetapi dering ponsel Laura memotong pembicaraan mereka.


Laura mengambil ponsel dari saku roknya. Nomor panggilan tak dikenal membuat panggilan suara dengannya.


Laura menatap Almira, gadis itu memalingkan wajah, tak acuh. Terpaksa Laura mengangkat panggilan itu untuk tahu siapa yang meneleponnya.


"Halo?" Laura memulai pembicaraan.


"Datang ke sini! Atau suamimu mati di tanganku!" Suara berat seorang pria mengancam dalam satu kalimat. Laura tidak sempat menjawabnya, tetapi panggilan sudah dimatikan.


Sebuah pesan masuk kemudian. Alamat sebuah tempat dikirim untuk memberi petunjuk Laura datang ke sana.

__ADS_1


"15 menit atau suamimu mati di tanganku."


Next.


__ADS_2