
"Aduh," erang Laura. Dia memegangi ujung kursi dan meremasnya. Laura tidak tahan rasa perih yang dia rasakan ketika Adam memberikan obat merah pada lukanya.
"Kamu masih bisa merasakan sakit ternyata." Adam bergurau sembari fokus mengobati Laura. Sesekali pria itu mendongak, menatap Laura. Kemudian kembali fokus pada luka Laura.
Laura menggerutu. "Memangnya Pak Adam pikir itu tidak sakit?"
"Lukanya bertambah saat aku jatuh. Berkali-kali lipat sakitnya." Laura merengek.
Jujur saja, Adam merindukan Laura dan rengekannya. Namun, keputusan persidangan tidak mengizinkan dia tinggal dan bertemu Laura sepanjang hari. Bukan istrinya lagi, begitu juga sebaliknya.
Adam meniup luka Laura agar cepat kering. "Mungkin akan sedikit nyeri nanti malam. Lukanya kotor dan kamu tidak segera mengobati," ucap Adam.
Adam mendongak. "Kalau badan kamu meriang, kamu harus segera pergi ke rumah sakit." Dia mengimbuhkan. "Siapa tahu lukanya infeksi."
Adam tidak hanya mendapati luka goresan karena Laura jatuh, tapi juga luka dengan lubang kecil seperti tertancap sesuatu.
"Ini buka luka karena jatuh tadi," gumam Adam. Dia membuka plester luka untuk Laura. "Lukanya seperti kena tusuk."
"Aku memecahkan dua gelas di tempat aku kerja," jawab Laura seadanya. "Itu kena pecahannya."
Adam berhenti. Ditatapnya Laura dalam diam.
"Aku langsung pulang dan beli gantinya," imbuh Laura. Gadis itu menoleh pada piring dan kaca yang sudah hancur lebur di dalam kantong plastik. "Sialnya, aku malah bikin kesalahan baru."
Laura mendengus panjang. "Ah! Padahal harganya mahal!"
Adam kembali menempelkan plester luka di atas lutut Laura setelah gadis itu menyelesaikan cerita pendeknya.
"Sekarang aku malah terlilit hutang," geram Laura pada nasibnya. "Lengkap sudah!"
Adam bangun dari jongkoknya. Duduk di samping Laura, sedikit bercelah. Membiarkan dinginnya udara bekas hujan siang ini lewat begitu saja.
__ADS_1
"Kamu kerja?" tanya Adam memastikan. Pembicaraan kembali berlanjut. "Paruh waktu?"
Laura manggut-manggut. Dia menunduk. "Tante Danira tidak sekaya mama dan papa. Kak Nia juga membenciku."
Adam menoleh, begitu juga Laura. Keduanya saling bertukar pandang dalam diam.
"Kak Nia itu anaknya Tante Danira." Laura mempersingkat. "Intinya, usaha suaminya Tante Danira sedang goyah, jadi mereka harus berhemat."
"Itu sebabnya kamu mengambil kerja paruh waktu?" Adam menyahut. Dia menyimpulkan. "Sebagai apa?"
Laura menaikkan bahu. "Pelayan barang kali?" pikirnya. "Aku tidak tahu sebutannya. Pembantu terlalu rendah."
Laura memandang hujan di depannya. Hujan seakan membawa ceritanya dari masa lalu. Sekelebat ingatan hampir membuatnya menangis.
"Dulu ... aku duduk di dalam mobil mewah menerjang hujan," gumam Laura lagi. Adam menyimak dengan saksama. "Sekarang aku duduk dengan keadaan basah dan mengenaskan di pinggir ruko tak terpakai begini."
Laura tersenyum miris. Takdirnya dibanting 180 derajat. Seakan semuanya hilang dalam sekejap mata.
"Papa dan mama meninggal tanpa warisan sepeser pun." Laura mendengus lirih. "Mereka membuangku setelah kabur dari masalah di dunia."
Adam hampir mengasihani Laura. Namun, kalimat itu menghilangkan rasa ibanya. Benar, Laura tetap Laura. Kalimat menyakitkan seperti itu dianggap biasa olehnya.
"Hidup miskin itu tidak enak," kata Laura lagi. "Kenapa Pak Adam tidak bunuh diri saja dan ...."
"Memangnya itu menyelesaikan masalah?" Adam mengambil alih pembicaraan. Dia menunjuk langit di atas sana. "Langit menyembunyikan surga dan neraka."
Laura ikut mendongak. Dia hanya melihat awan mendung yang meneteskan air hujan.
"Jika kita terbang ke surga, maka masalah selesai." Adam menuturkan lembut. "Namun, bunuh diri saja sudah membuat kita jauh dari surga. Neraka jauh lebih mengerikan."
Laura mengangguk. "Jadi, mama masuk neraka?"
__ADS_1
Adam langsung menoleh. Kalimat Laura membuatnya terkejut.
"Bukan begitu yang aku maksudkan, Laura," gumam Adam. "Kenapa kamu gamblang sekali jadi orang?" Adam mengerutkan keningnya. "Itu terlalu blak-blakan."
Laura menyeringai tipis. "Aku hanya ingin hidup berdasarkan kenyataan. Tidak perlu mencoba menghiburku setelah semua yang terjadi."
"Jujur saja aku tidak peduli papa dan mama mau masuk neraka atau surga." Laura mengimbuhkan. Adam kalah dalam berbicara. Dia pernah berada di posisi Laura ketika orang tuanya meninggalkan dirinya pergi begitu saja.
"Nyatanya mereka menempatkan aku di neraka, aku harap mereka juga merasakan hal yang sama." Laura menatap Adam. "Tidak adil jika mereka bahagia dan nyaman di atas sana, tetapi aku berjuang untuk hidup."
Adam mengulum ludah. Pemikiran Laura jelas-jelas terkontaminasi dengan keadaannya. Namun, dia juga tidak bisa menyalahkan gadis ini. Laura hanya gadis muda yang digempur keadaan. Sudah syukur dia tidak mengakhiri hidupnya.
"Terserah kamu saja," jawab Adam menyerah. "Aku tidak bisa mengubah pikiran bodoh itu."
Laura tertawa ringan.
Adam menoleh padanya. Tiba-tiba saja dia merasakan pesona tawa milik Laura, meskipun Adam tahu itu artinya Laura mulai gila.
"Ngomong-ngomong, bagaimana Pak Adam tahu kalau uangnya aku berikan pada Daffa?" tanya Laura. "Pak Adam menyelidikinya?"
Adam menggelengkan kepalanya. "Itu rahasia."
Laura berdecak. "Cih!"
"Kamu hanya perlu mengembalikan uangnya," ucap Adam tegas. "Untuk biaya aku modal nikah dengan Nurwa."
Senyuman Laura surut begitu saja. Kalimat Adam barusan, sukses membuat hatinya terluka. Akan tetapi, sampai sekarang Laura tidak tahu, apa yang membuatnya sakit hati.
"Pak Adam benar-benar akan menikah dengan dia?" tanya Laura lirih.
Adam manggut-manggut. "Aku mencintainya."
__ADS_1
Sialnya, pengakuan itu membuat rasa sakit di dalam hati Laura semakin terasa. Dia tidak tahu, yang pasti Laura hanya merasa ini tidak adil.
Next.