
"Jadi kamu mengikuti Laura dan kehilangan jejak dia?" Adam mengulang kalimat penjelasan dari Belen.
Belen manggut-manggut. "Benar," jawabnya dengan canggung. "Aku tidak tahu daerah sini," imbuh Belen. "Ini pertama kali aku datang ke sini."
Adam berusaha tersenyum sewajarnya. Masih untung Belen tidak berhasil mengikuti Laura sampai ke rumah ini. Adam diselamatkan oleh kegelapan malam.
"Temanku ada yang bilang kalau Pak Adam rumahnya juga sekitaran sini," kata Belen lagi. Sebenarnya Belen bahagia tak terkira. Belen melihat Adam sebelum pagi kembali datang. Dia mengakhiri waktu yang sibuk dengan cara yang mengesankan.
Adam mencoba mencari alasan, sesegera mungkin dia harus mengusir Belen tanpa melukainya.
"Aku tidak bisa mengantarkan kamu pulang," kata Adam tiba-tiba. "Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, Belen."
Belen nampak kecewa. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Belen harus mengerti kesibukan Adam.
Belen mengangguk. "Pak Adam cukup antar aku saja sampai halte bus. Aku tidak bisa menemukan jalan utamanya."
Adam mengangguk lagi. "Kalau begitu aku ambil jaket dulu. Kamu tunggu di sini."
Belen tersenyum sopan. Tanpa kata-kata, dia hanya menganggukkan kepala. Membiarkan punggung lebar Adam menghilang setelah pria itu masuk ke dalam kamarnya.
Belen menyapu setiap sudut ruangan dengan mata bulatnya. "Pak Adam punya selera yang bagus," gumamnya. "Sesuai dugaanku."
Pandangan mata Belen berhenti tepat di samping sofa berukuran sedang yang ada di depannya. Bukan tentang keadaan sofa yang sudah tua, tetapi sebuah sepatu di dekatnya.
"Sepatu siapa itu?" gumam Belen. Dia mulai mendekatinya. "Sepertinya tidak asing."
Belen hampir mengambilnya, tetapi Adam datang menghentikan niat Belen.
"Ada apa, Belen?" Adam ikut menatap ke lantai. Matanya terbuka lebar ketika melihat sepatu Laura di sana.
"Itu sepatu siapa, Pak Adam?" Belen menunjuk sepatu itu. "Sepertinya bukan sepatu, Pak Adam."
__ADS_1
"Seperti sepatu perempuan ...." Belen menerka-nerka sembari memanjangkan nada bicaranya. "Modelnya juga tidak asing."
Adam berdehem. "Tadi keponakanku datang." Adam berusaha berdusta. "Mungkin sepatunya tertinggal."
Belen mendekatinya. "Boleh aku lihat? Sepertinya modelnya cantik," kata Belen sembari tersenyum kuda. "Aku ingin beli juga kalau ada."
Adam menghadang langkah Belen tepat di depannya. Memangkas jarak di antara mereka berdua secara tiba-tiba.
Respon yang menyebalkan! Itulah arti pandangan Belen saat ini. Seharusnya dia sengaja menabrakkan diri dan memeluk Adam saat ini. Kesempatan tidak datang dua kali, bukan?
"Katanya kamu mau pulang," ucap Adam. Lelaki itu memaksakan senyum. "Ini sudah malam. Aku tidak yakin ada bus yang bisa mengantarkan kamu pulang kalau kita terlambat."
Belen melirik kaki Adam yang berusaha menyingkirkan sepatu itu dari hadapan Belen.
"Belen?" Adam menyadarkannya lagi. "Aku juga harus menyelesaikan pekerjaanku."
Belen mengalah dan terpaksa menganggukkan kepala. Kalau banyak bertanya, Belen akan sangat merepotkan Adam.
Sesaat kemudian, Laura keluar dari dalam kamar. Dia memandang pintu rumah yang baru saja ditutup Adam.
"Baru kali ini aku membenci Belen," gumamnya pasrah. Laura memandang satu sepatunya yang tertinggal. "Aku harus ganti sepatu besok pagi."
>>>><<<<
"Maaf karena merepotkan Pak Adam." Belen melirik Adam yang sibuk dengan ponselnya. "Harusnya aku tidak ceroboh seperti ini."
Adam menutup ponsel dan menyimpannya ke dalam saku jaketnya. "Tidak masalah."
"Sebagai gurumu, aku harus lebih perhatian dengan kamu," jawab Adam dengan lembut. Senyuman tak pernah absen dari wajahnya.
Itu pesonanya! Belen seakan dibuat jatuh cinta berkali-kali dengan bujang tampan satu ini.
__ADS_1
Belen melirik jari jemari Adam. Fokusnya tertuju pada cincin yang melingkar di jari manisnya. "Pak Adam sudah menikah?"
Pertanyaan itu terlalu berani, padahal mereka baru saja menghabiskan waktu bersama selama tujuh menit berjalan.
Adam menoleh. Ditatapnya Belen yang tak gusar.
"Aku hanya ingin tahu aja," kata Belen menyahut lagi. "Dulu Pak Adam bilang belum menikah. Hanya selang beberapa hari, aku melihat Pak Adam pakai cincin kawin."
Adam menunduk untuk menyembunyikan senyumannya. "Aku hanya iseng," jawab Adam. Bukan tidak mau mengakui Laura, tetapi inilah perjanjian mereka.
Belen tersenyum miring. "Lalu dokumen perceraian itu?" tanya Belen lagi. Dia menggali banyak informasi tentang Adam. Begitulah Belen ketika menyukai seseorang.
Adam tiba-tiba berhenti. Helaan napas memberi tahu tentang rasa lelah yang dia rasakan sekarang.
Belen mulai merasa tak enak. "Bukannya aku mau ikut campur ... hanya penasaran saja."
"Jalan raya ada di depan sana." Adam menunjuk ujung gang yang mereka lalui. "Tidak jauh bukan?"
Belen memusatkan pandangan mata ke arah Adam menunjuk. Anggukan kepala dia berikan sebagai bentuk pemahaman.
"Aku balik ke rumah dulu kalau begitu," tutur Adam lembut. "Kamu hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku."
Belen tak sempat menjawab, Adam sudah memilih pergi dari tempatnya. Adam tak nyaman dengan pembicaraan mereka sekarang.
"Bagaimana caranya aku mengabari Pak Adam kalau aku saja tidak punya nomornya Pak Adam?" tanya Belen sembari berteriak. Adam cukup jauh posisinya.
Adam menoleh. Dia memandang Belen dengan iba. Sekarang Adam jadi tahu alasan persahabatan Laura dan Belen bisa awet selama ini. Mereka mirip.
Belen mengulurkan ponselnya. "Bisa mintanya nomornya Pak Adam?"
Next.
__ADS_1