Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
130. Kembarannya Adam?


__ADS_3

Laura membawa Adam menepi. Sepanjang jalan dia tidak berhenti-hentinya menggerutu, mencoba untuk menyalahkan Adam dalam segala situasi.


Setelah suasana dirasa cukup sepi, Laura melepaskan genggaman tangannya. Ditatapnya pria jangkung yang berdiri depannya. "Pak Adam ini aneh sekali!"


"Justru kamu yang aneh tiba-tiba menarikku begini," jawab Adam. Dia tertawa kecil sembari mengacak-acak rambut Laura. "Kamu yang membuat kita berdua jadi aneh depan teman-temanmu. "


Laura menunjuk dirinya sendiri. "Pak Adam menyalahkan aku?" Dia tertawa renyah kemudian. "Wah! Kalian bertiga sama saja!"


Adam menghela napas. "Aku bekerja di sini mulai hari ini. Kembali jadi guru di tempat ini."


"Jujur kalau aku tidak peduli." Laura melipat tangannya di depan perut. Dia memandangi penampilan Adam, seakan sedang menggampangkannya. "Aku sama sekali tidak penasaran. Itu bukan urusanku."


Adam tersenyum. Lagi-lagi dia mengusap kepala Laura. "Hei, kamu terlalu memaksakan, Laura. Jangan berakting."


Laura menyingkirkan tangan Adam. "Jangan menyentuhku," gerutu gadis itu. "Kita sudah tidak ada hubungan apa pun. Aku yang memutuskannya, bukan Pak Adam."


Laura tetap memberi pandangan tak suka. Dia hanya berusaha untuk terlihat senatural mungkin, meskipun ada gejolak di dalam hatinya. Laura tidak bisa menerangkan itu secara gamblang.


"Aku ingin minta maaf, Laura."


Akhirnya, Laura mendengar kalimat yang paling ingin dia dengar dari Adam. Namun, gadis itu mencoba untuk tidak luluh begitu saja. Dia tidak akan mengembangkan senyum sedikit saja. Pandangannya masih terlihat begitu kesal padanya.


"Entah itu Bu Wanda atau Nurwa, mereka hanya ingin mengutarakan isi hati mereka." Adam mengakhiri. "Aku tidak meminta kamu untuk mengerti, Laura. Aku hanya ingin kita ...."


"Barusan terdengar seperti sebaliknya," sahut Laura sembari tersenyum tipis. Tiba-tiba dia tertawa. "Tidak meminta aku untuk mengerti mereka?" Dia masih dengan tawa yang sama.


"Pak Adam!" Laura membentaknya. "Biarkan aku yang bicara sekarang," ucapnya. Satu langkah lebih dekat dengan Adam. "Aku tidak peduli dengan Nurwa atau Bu Wanda. Namun, bagaimana bisa kamu datang padaku hanya untuk mewakili mereka berdua?"

__ADS_1


Adam memahami kemarahan Laura. Dia tidak akan mencari kebenaran atas diri sendiri. Kali ini ada makan mendengarkan apa pun yang menjadi keluh kesah Laura.


"Mereka tidak bisa datang sendiri dan meminta maaf?" tanya Laura sembari memalingkan wajahnya. "Wah! Dia kemarin mengajari aku untuk menyelesaikan masalah dengan dewasa, sekarang dia kabur begitu saja."


"Laura ...."


"Aku aku akan menggugurkan kandungan ini," sahut Laura lagi. Dia memotong kalimat Adam.


Jelas sekali dari raut wajahnya, Adam begitu terkejut mendengar keputusan Laura. Padahal ini ada dalam dugaannya. Tentang Laura mungkin saja berubah pikiran suatu saat nanti. Adam hanya tidak menyangka akan secepat ini.


"Kandungannya baru dua minggu berjalan, masih bisa digugurkan." Laura mengimbuhkan lagi. Dia begitu percaya diri di hadapan Adam yang hanya bisa terdiam. "Aku pernah merasakan sakitnya, jadi jangan khawatir."


Laura mendekatinya. Dia berbisik di telinga Adam. "Seperti Daffa, Pak Adam hanya tinggal siapkan uangnya saja. Aku yang akan mencari tempat."


Tubuh Adam merinding hebat mendengar kepercayaan Laura. Namun, Adam tak berkutik di tempatnya ketika Laura memandangnya dengan senyuman yang begitu puas setelah menghantam mental Adam.


Laura hendak berpaling dan pergi meninggalkan Adam, tetapi laki-laki itu mencegahnya. Dalam benak Laura ketika tatapan mereka bertemu, ada satu dugaan. Adam Mungkin saja akan menceramahi dirinya tentang hal ini. Tentu saja pria baik sepertinya tidak akan setuju.


Laura tersenyum miring. Dia melepaskan genggaman tangan Adam dengan begitu kasar. "Aku tidak menerima wejangan kamu," ucapnya ketus. "Aku tidak akan berubah pikiran. Jadi jangan berpikir untuk menceramahiku."


Adam mengulum ludahnya. "Laura."


"Aku tahu ini anak kamu," ucap Laura lagi. Dia tidak sabar hingga tidak memberikan waktu untuk Adam berbicara. "Namun sayang sekali, ini adalah tubuhku."


"Aku yang berat atas tubuhku dan aku yang punya keputusan atas diriku sendiri, bukan?" Laura menyungging senyum. "Jadi jangan ikut campur. Aku sudah dewasa."


"Aku hanya ingin tanya," sahut Adam pada akhirnya.

__ADS_1


Keduanya saling bertukar pandang kemudian.


"Kamu yakin mau menggugurkannya?" tanya Adam sekali lagi. "Tidak ada keraguan ketika kamu memutuskan itu?"


Laura tidak langsung menjawab. Dia perlahan-lahan mengerutkan dahi, Laura mengendus sesuatu yang aneh dari Adam kali ini.


"Jawab aku," desak Adam lagi. "Kamu yakin?"


Laura manggut-manggut kemudian. Sifat tengilnya kembali lagi. "Hm! Memangnya kenapa? Kamu tidak terima?"


Adam manggut-manggut. "Aku akan mencarikan uangnya. Aku akan menghubungimu besok," ucapnya tiba-tiba.


Tanpa menunggu respon dari Laura, Adam berpaling dan pergi begitu saja.


"Pak Adam!" Laura mencegahnya. Dia menghadang langkah kaki Adam. "Apa ini?" tanyanya. Tatapan matanya meneliti Adam. Barangkali pria ini bukan sosok Adam yang dia kenal, hanya fisik dan rupanya saja yang sama.


"Apanya yang apa?" Adam ikut menatap Laura. Santai. "Ada yang salah? Kamu butuh sesuatu selain uangnya?"


Laura perlahan-lahan menurunkan tangannya yang terlentang. Dia menggigit bibir bawahnya. Sedikit kebingungan, pasalnya jawaban Adam mengejutkan dirinya.


"Ada yang kamu butuhkan lagi?" Adam bertanya kembali. "Jika tidak, aku akan pergi. Bel sudah berbunyi. Aku harus masuk kelas."


Adam berlalu begitu saja. Dia meninggalkan Laura tanpa kata-kata lagi.


Laura memandangi punggung lebar pria itu. Dia bergumam, "Ada apa dengan dia? Dia marah padaku?"


Next.

__ADS_1


__ADS_2