
Valerie mengambil sebuah tas ransel kecil untuk mengemasi beberapa barang-barang yang menurutnya sangat penting yang akan dia bawa pergi.
Valerie sengaja tidak membawa banyak barang.
Dia hanya membawa barang secukupnya dalam sebuah tas ransel kecil, mengingat saat ini dirinya sedang hamil. Maka Valerie pun tidak ingin membebani dirinya dengan barang-barang yang berat.
Valerie hanya membawa barang-barang yang sangat berharga untuknya seperti uang, kartu ATM, dan juga dokumen penting miliknya.
Valerie sampai saat ini belum tau arah tujuan yang akan dia tuju setelah ia keluar dari Penthouse.
Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah ia harus menjauh dari jangkauan Julian yang tetap kekeuh menginginkan anaknya.
Meski ia tau dalam perjanjian itu memang ia harusnya memberikan bayinya pada Julian. Tapi saat ini dia telah berubah pikiran dan tak akan memberikan bayi nya pada pria yang menjadi ayah dari bayinya itu.
Valerie dengan teliti memasukkan beberapa barang penting yang akan ia bawa ke dalam tas ranselnya.
"Mommy akan berusaha untuk menyelamatkanmu sayang dari tangan Daddy yang akan memisahkan kita. Mommy tidak mau berpisah dengan mu nak. Mommy sudah jatuh cinta dengan mu. Saat ini bagi ku, kamu adalah hal yang paling terpenting. Sebentar lagi kamu akan lahir dan Mommy akan merawat mu. Kita akan hidup bersama, kau dan Mommy, kita berdua. Meskipun Mommy tidak punya apa apa untuk bisa Mommy berikan untuk mu. Percayalah sama Mommy, Mommy akan memberikan hidup Mommy untuk mu. Mommy akan berjuang untuk mu sayang. Jadi, bantu Mommy ya. Baik baik di dalam kandungan Mommy, misi kita sekarang adalah pergi jauh dari jangkauan Daddy. Maaf kan Mommy juga telah memisahkan mu dengan Daddy mu" ucap Vale dalam hati sambil berkemas.
Setelah memastikan semua barang barang yang penting sudah ia masukan kedalam tas. Valerie kemudian keluar kamar dan menuruni anak tangga untuk pergi ke lantai bawah.
Vale harus memastikan jika kondisi dan situasi di lantai bawah aman.
Vale kemudian berjalan ke arah kamar Aise dan juga Naina. Ia ingin memastikan kedua asisten rumah tangganya itu sudah tidur.
Setelah memastikan semua kondisi aman, Valerie kemudian dengan langkah pelan kembali menaiki anak tangga untuk pergi ke kamarnya.
Vale kemudian membuka lemari pakaian dan mengambil satu sebuah mantel jaket panjangnya.
Ia langsung memakai jaket itu agar dia tidak kedinginan saat ia akan pergi malam malam seperti itu.
Lalu Vale mengambil tas ransel dan menaruhnya di pundaknya.
Setelah Vale yakin semua barang-barang yang penting telah dibawa. Kemudian ia keluar dari kamar, dan menutup pintu kamar dengan pelan.
"Maafkan aku Julian, telah membawa pergi anak kita." ucap Vale dalam hati.
Setelah berhasil keluar dari Penthouse, Vale yang telah sebelumnya memesan taksi, langsung segera masuk kedalam taksi yang sudah menunggunya di lobby gedung.
Saat sudah masuk ke dalam taksi, Valerie kemudian menyuruh sang sopir taksi untuk melajukan mobilnya.
Ketika taksi itu sudah melaju, Vale belum tahu arah dan tujuannya mau ke mana.
__ADS_1
"Kita mau ke mana Non?" tanya sang sopir taksi pada Valerie.
"Lajukan saja mobilnya, yang penting menjauh dari wilayah sini Pak. Nanti akan ku beritahu setelah saya mendapatkan tujuannya." ujar Vale.
"Baik Non." jawab sang sopir taksi tersebut.
Dan akhirnya sang sopir taksi pun melajukan mobilnya menjauh dari area itu.
Duduk di kursi penumpang bagian belakang, Vale saat ini sedang berpikir ke mana tujuan yang akan ia tuju.
Sebenarnya ia hendak pergi keluar kota dan meninggalkan Jakarta. Tapi mengingat saat ini ia sedang hamil besar, ia tidak mau mengambil resiko.
Tujuannya saat ini adalah menjauh dan menghilang dari hadapan Julian. Dan Vale tidak ingin mempertaruhkan keselamatan kandungannya hanya karena ia sedang melarikan diri dari Julian.
Bagaimanapun, Valerie juga memikirkan keselamatan kandungannya. Mengingat ia saat ini tengah hamil besar.
Akhirnya Valerie kini telah mendapatkan arah tujuan yang akan ia tuju. Kemudian ia memberikan sebuah alamat kepada sang sopir taksi tersebut.
Atas perintah Valerie, sang sopir taksi kini melajukan kendaraannya menuju alamat yang Valerie berikan.
Di sebuah tempat kost sepetak, akhirnya yang Valerie pilih untuk menjadi tempat persembunyiannya untuk sementara.
Dia tidak mungkin menginap di sebuah hotel atau semacamnya karena akan dengan mudah bagi Julian akan menemukannya.
Untuk sementara tempat kost itulah yang akan menjadi tempat persembunyian Valerie dengan aman bersama bayinya.
"Kita akan aman di sini sayang." ucap Vale pada bayinya, sambil mengelus elus perutnya yang besar dan janin yang ada di dalam perut Vale sepertinya merespon. Ia bergerak gerak dari dalam sana. Dan hal itu membuat Vale tersenyum.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi itu Julian sedang menikmati sarapan pagi bersama sang Mama.
Julian berniat untuk mengunjungi Valerie di Penthouse setelah ia selesai sarapan.
Ketika ia sedang menikmati sarapan bersama sang Mama, tiba tiba ponselnya berdering. Begitu melihat yang menelpon adalah Naina, Julian langsung mengangkatnya.
"Ada apa, Naina?" tanya Julian pada Naina langsung, ketika panggilannya sudah tersambung.
"Tuan, Non Valerie!" seru Naina dengan nada suara bergetar.
"Ada apa dengan Valerie?" Julian balik tanya dengan nada khawatir.
__ADS_1
"Non Valeri tidak ada di kamarnya. Saya sudah mencari nya di seluruh ruangan, tapi saya tidak menemukannya. Non Vale pergi tanpa pamit pada kita. Sepertinya Non Vale pergi dari Penthouse Tuan."
"Apa, Vale pergi dari Penthouse!" seru Julian.
Tanpa menyelesaikan sarapannya, Julian langsung pergi meninggalkan meja makan.
Bahkan saat di tanya oleh Roseline tentang apa yang terjadi, Julian tidak menghiraukan pertanyaan sang Mama.
Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Julian langsung melesatkan mobilnya untuk pergi menuju Penthouse.
Sesampainya di Penthouse, Julian langsung berlari menaiki anak tangga dan langsung membuka kamar Valerie.
Dan benar saja, Valerie sudah tidak ada di kamar. Kamarnya kosong, Julian melihat kamar Vale sedikit berantakan.
Ada beberapa sisa-sisa dokumen yang ada di atas tempat tidur.
Ketika ia membuka lemari pakaian milik Vale. Pakaiannya masih tertata rapi. Sepertinya Vale tidak membawa banyak pakaian.
Pandangan Julian kini tertuju pada sebuah laci di sisi tempat tidur.
Julian kemudian memeriksa laci tersebut dan mengecek beberapa berkas yang ada di sana.
Ada yang aneh saat ia memeriksa beberapa dokumen yang masih tercecer di sana. Julian meraih sebuah kartu kredit card unlimited yang sempat Julian berikan kepada Valerie.
Ternyata Valerie tidak membawa kartu kredit card yang ia berikan.
Julian kemudian beralih ke brangkas. Ketika ia membuka brankas yang juga sudah ia berikan pada Vale, mata Julian terbelalak kaget saat melihat uang tunai yang bernilai milyaran itu masih tertata rapi di sana.
Valerie sepertinya hanya membawa beberapa saja, tidak membawa semua uang cash itu.
Dengan mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Julian merasa sangat geram mendapati kelakuan Valerie yang mencoba kabur darinya.
"Vale apa yang kau lakukan. Setelah pembicaraan kita kemari soal bayi itu, sekarang kau sengaja ingin lari dari ku, membawa kabur anak ku. Jangan harap kau berhasil Vale." ujar Julian sambil mengerutu.
"Sekarang kau nekat untuk kabur dariku Valerie. Kau sudah melanggar janji mu sendiri dan melanggar perjanjiannya. Aku pasti akan menemukan mu Vale." ucap Julian lagi dengan rahang tegas dan kedua tangannya mengepal serta mata yang sudah memerah.
__ADS_1