Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Season 2 New life begins : Remember you


__ADS_3

Flashback on


"Duduk sendirian di sebuah kursi mini bar. Julian nampak menikmati segelas minuman wine yang ia pesan lewat seorang bartender cantik.


Sambil terus menegur minuman yang ada di tangannya. Julian terus saja memperhatikan wanita yang melayaninya.


"Hai, nama mu siapa?" tanya Julian pada wanita itu.


"Nama ku?" tanya lagi si wanita bartender itu.


"Siapa lagi kalau bukan kamu, dari tadi mata ku tertuju pada mu." ujar Julian.


"Valerie," jawab wanita itu.


"Sudah lama bekerja di sini," tanya Julian menyelidik.


"Lumayan," jawab lagi Valerie singkat, sambil membersihkan beberapa gelas yang sudah kosong di atas meja minibar.


"Apa kau juga melayani yang lain," tanya Julian lagi dengan pandangan mata tertuju pada Valerie dengan begitu instens.


Sejenak Valerie nampak memperhatikan Julian. Dalam hati, Valerie yakin jika Julian adalah pria kaya.


"Kau ingin one night stand?" tanya Valerie to the point, Julian kemudian tertawa getir.


"Aku tidak ingin one night stand. Tapi aku sedang mencari wanita yang mau mengandung anak ku." jawab Julian jujur.


"Apa yang akan aku dapatkan jika aku bisa memberi mu anak," tantang Valerie.


"Apapun yang kamu mau, aku akan berikan." jawab Julian tegas.


"Kau serius?" tanya Valerie lagi.


"Aku Julian Alexander, kau mau apa? Rumah, Penthouse, apartemen, mobil, saham atau semuanya. Asal kau bisa memberikan aku keturunan aku akan memberikan itu semua untuk mu."


Dan perkataan Julian yang memberikan Valerie tawaran yang cukup menggiurkan membuat Valerie langsung tertarik dengan tawaran itu.


"Boleh minta nomor ponsel mu," ujar Valerie.


Julian kemudian memberikan ponselnya. Valerie langsung mengambil ponsel milik Julian lalu mengetikkan nomor ponsel milik nya ke ponsel milik Julian.

__ADS_1


"Kita buat kesepakatan nanti." ujar Valerie.


"Oke," jawab Julian dan dengan tatapan mata penuh harap.


Flashback off


Julian yang saat ini sedang berada di ruang kerjanya. Nampak melamun ketika ingatannya tiba tiba teringat dengan pertemuannya untuk yang pertama kali dengan Valerie.


Entah kenapa Julian mengingat pertemuannya dulu dengan Vale di sebuah clup malam saat itu.


Di saat yang sama saat ini, sang putri juga menanyakan tentang keberadaan Valerie.


Bahkan Elenor berkeinginan untuk bertemu dengan Mommy nya.


"Vale di mana kau saat ini. Sudah lima tahun sejak kepergian mu. Kau benar-benar pergi. Kau tidak memberikan nomor ponsel mu dan juga tidak memberikan alamat tingal mu di Jerman. Kau pergi seperti di telan bumi. Putri mu sudah menanyakan mu. Kapan kau akan datang menemui putri mu Valerie?" ucap lirih Julian, yang saat itu sedang duduk sendirian di ruang kerja nya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sepulangnya Julian dari kantor saat itu. Julian mengarahkan laju kendaraannya untuk menuju Penthouse.


Tempat dimana Ia dan juga Valerie dulu pernah tinggal bersama.


Penthouse itu menjadi tempat kenangan tersendiri bagi Julian bersama dengan Valerie. Saat mereka kala itu masih menjalani pernikahan kontraknya.


Dan banyak sekali kenangan-kenangan yang lain yang pernah Julian lalui bersama Vale.


Dari kebiasaan Vale di saat pagi hari yang selalu ingin dibuatkan roti bakar berselai blueberry dan keju kesukaannya.


Dan saat Vale tengah hamil dan nyidam pancake. Mau tak mau Julian saat itu harus membuatkan pancake buat Vale. Padahal Julian tidak pernah sama sekali bisa memasak.


Setibanya di Penthouse, Julian langsung disambut oleh Aise dan juga Naina.


Kedua asisten rumah tangga itu masih tetap di pekerjaan oleh Julian untuk tetap merawat Penthouse dengan baik.


Julian tetap menganggap Penthouse itu adalah milik Vale.


Meskipun Vale sudah menyerahkan kembali Penthouse itu kepada Julian.


Namun Julian tetap kekeh ingin memberikan hak Vale dan tak ingin mengambil kembali imbalan yang sudah ia berikan.

__ADS_1


Penthouse, mobil, properti yang lain, saham, dan apapun yang sudah Julian berikan tetap Julian pertahankan untuk Valerie.


Julian tidak akan menariknya kembali, atau menerima kembali barang-barang yang sudah diberikan kepada Valerie, sekalipun Vale memaksa nya.


Setelah pertemuan mereka malam itu, dan terakhir kali mereka bertemu di hotel. Sejak saat itulah Julian putus komunikasi dengan Vale.


"Kopi nya tuan." ucap Naina, menyuguhkan secangkir kopi panas untuk Julian yang malam itu mampir ke Penthouse.


"Terimakasih Naina." jawab Julian, yang kemudian meraih kopi ada di nampan yang Naina bawakan.


"Apa tidak ada kabar dari Vale." tanya Julian basa basi, menanyakan tentang Valerie yang mungkin saja Vale memberi kabar pada Naina dan Aise.


"Tidak ada tuan. Selama Non Vale pergi, Non Vale tidak meningalkan pesan apapun. Dan tidak memberikan kabar apapun." jawab Naina.


"Bagaimana kabar Nona Elenor, saya sangat kangen dengan Non Elenor."


"Dia baik Naina. Dia semakin tumbuh besar dan cantik."


"Cantik seperti Non Valerie pastinya." ujar Naina sambil tersenyum. Dan Julian pun ikut tersenyum.


Setelah mengobrol beberapa saat dengan Naina. Julian kini membawa kopi nya ke ruang tengah dan ia ingin bersantai di sana sejenak, menikmati secangkir kopi dan membaca sebuah buku.


Ketika Julian sedang menikmati santainya saat itu di ruang tengah. Tiba-tiba saja bell pintu Penthouse berbunyi.


Julian pun merasa sedikit terkejut saat ada seseorang yang datang ke Penthouse.


Padahal sejauh ini, tidak ada yang tahu alamat unit Penthouse Valerie, kecuali kedua temannya David dan juga Indiana.


Naina yang juga mendengar suara bell pintu berbunyi langsung bergegas menuju pintu ruang tamu untuk membukakan pintu.


Saat pintu kini telah dibukakan oleh Naina, Naina nampak berteriak histeris menyebutkan nama seseorang.


"Non Valerie." teriak Naina histeris.


"Hai Naina, pa kabar, aku merindukan kalian." suara Valerie yang merdu mengema di ruang tamu.


Julian yang kala itu tengah berada di ruang tengah samar samar mendengar percakapan mereka.


Julian pun juga mendengar saat itu Naina meneriakkan nama Valerie.

__ADS_1


Dan saat itulah, Julian perlahan menaruh buku yang ia baca di meja. Lalu ia berjalan perlahan menuju ruang tamu.


Dan benar saja, Valerie saat itu tengah berpelukan dengan Naina di ambang pintu.


__ADS_2