
"Hari ini pokoknya Mama ingin bertemu kedua cucu Mama. Entah dengan cara apa. Kamu harus bisa membawa pulang Elenor dan Louis." ucap Roseline pada Julian.
Ketika mereka saat itu sedang menikmati sarapan pagi di meja makan.
"Hari ini Julian akan jemput Elle. Sudah jadwalnya Elenor bersama ku. Setelah sarapan aku akan menjemput Elle di rumah Vale." ucap Julian pada Mamanya.
"Kasian Elenor, anak itu sejak kecil harus terpisah pisah dengan kedua orang tua nya. Entah bagaimana perasaannya. Mama hanya kasihan pada Elenor ku. Ini semua gara-gara keputusan mu dulu menyewa rahim bayaran. Kau tau sendiri kan, apa yang terjadi sekarang. Elenor adalah buah dari ke egois orang tua yang tidak punya rasa tanggung jawab." ucap Roseline sedikit kesal. Jika ia memikirkan nasib cucu perempuannya.
"Jika Vale dulu profesional menyerahkan Elle pada Julian sesuai kesepakatan dan perjanjian. Elle mungkin hanya akan fokus bersama ku Ma. Tapi nyatanya Vale justru merubah semuanya. Aku bisa saja egois membawa pergi jauh Elenor. Tapi Julian tidak lakukan itu. Justru kini Julian berbagi Elenor untuk bisa kami rawat bersama dengan Vale."
"Jadi kau menyalahkan Vale. Untuk semua hal yang sudah terjadi ini." tuduh Roseline pada putranya.
"Aku tidak sepenuhnya menyalahkan dirinya."
"Tapi dari perkataan mu, kau menyalahkan Vale. Ingat Julian, kamulah yang salah di sini. Kau sudah salah punya ide gila ingin punya anak tapi kau tidak menginginkan ibu dari anak itu. Kau sudah egois di dalam hal ini."
"Tapi saat itu Vale setuju Ma."
"Iya setuju, karena pada saat itu Vale masih polos Julian. Dia baru berumur 20 tahun, dan kau sudah menjeratnya. Kau cukup beruntung bertemu dengan Vale. Karena kau bertemu dengan nya semua ide gila mu terwujud. Dan kau berhasil menjerat Vale dengan iming-iming imbalan yang kau janjikan. Dan lihatlah. Vale menerima kan semua persyaratan dan juga menyetujui perjanjian itu. Itu karena apa, karena pada saat itu Vale belum memikirkan segala sesuatu yang akan terjadi setelahnya. Dan semua terbukti. Setelah berjalannya waktu. Vale menyadari, apa yang ia lakukan itu dalam suatu tindakan yang bodoh yang pernah dia lakukan. Dan buktinya lagi, Vale tidak mau menerima imbalan itu dan justru mengembalikan semua aset-aset yang sudah kamu berikan. Dia kini ia hanya ingin Elenor." Julian hanya bisa pasrah mendengar penuturan sang Mama.
"Semua sudah terjadi Ma. Aku tidak ingin keberadaan Elenor di dunia di ungkit ungkit. Yang jelas, Elenor terlahir dari sebuah hubungan yang sah dan tidak terlarang." ucap Julian membela diri.
"Tapi kau mempermainkan sebuah kesakralan pernikahan Julian. Kau inginkan seorang anak dari sebuah hubungan yang sah dengan cara menikah kontrak. Setelah itu kau membuang begitu saja seseorang yang sudah memberikan mu anak."
__ADS_1
"Karena itu sudah jadi kesepakatan Ma. Banyak anak yang lahir justru dengan cara zina. Aku tidak melakukan itu. Dan banyak juga orang melakukan pernikahan kontrak. Dengan berbagai motif dan juga berbagai kepentingan."
"Jangan alihkan pembicaraan Julian. Iya, tentu saja hal itu mudah untuk mu. Karena kau merasa punya uang kan."
"Tapi ya sudahlah, sudah terlambat untuk membahas masalah ini. Toh semua sudah terjadi. Elle aku harap bisa tumbuh menjadi anak yang kuat secara mental. Karena ia tidak bisa merasakan kehangatan kedua orang tua nya yang lengkap."
"Maaf Ma." sesal Julian.
"Dan sekarang, jangan buat Louis seperti Elenor. Selesaikan masalah mu dengan Jenna sejelas jelasnya. Bawa kembali Jenna dan Louis ke Mansion." ucap Roseline tegas pada Julian. Kemudian, Roseline pergi meninggalkan meja makan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Flashback
Jenna lalu mengarahkan pandangannya ke wajah Julian.
Wajah seorang pria yang sudah membuat nya merasakan berbagai macam rasa.
"Mencintai dan jatuh cinta dengan mu, Julian Alexander. Seolah-olah membuat ku menjadi seorang yang bodoh. Tapi aku bisa apa. Tapi ingat Julian, dan kau harus ingat ini. Bahwa aku hanya memberikan mu satu kali kesempatan. Aku tidak ingin hal semacam ini terulang. Aku sudah menerima semuanya dengan lapang dada. Tapi jika suatu hari kau mengkhianati kepercayaan ku. Sorry, aku akan pergi untuk selamanya dari sisi mu." ucap Jenna tetap memberikan penegasan untuk dirinya yang saat ini sudah cukup bersabar dan berkorban perasaan.
"Aku akan ingat ucapan mu ini. Kembali lah ke Mansion, pulanglah." pinta julian pada Jenna.
Flashback off
__ADS_1
Julian yang saat ini sudah berada di dalam mobilnya. Tiba tiba teringat dengan janji dan juga kata kata yang pernah Jenna ungkapkan padanya.
Julian memahami, istrinya itu punya sifat keras kepala. Julian merasa kawatir dengan sikap Jenna yang masih dingin dengannya sampai saat ini.
Ia harus segera melunakkan hati Jenna. Sebelum jenna benar-benar mengambil sikap dan keputusan yang Julian takutkan.
Julian kemudian mengedarai mobilnya menuju apartemen untuk menemui anak dan istrinya. Sebelum menjemput Elenor di rumah Vale.
Dan, kedatangan Julian Sabtu pagi di apartemen membuat Louis sangat senang dan bahagia.
Kecintaan Julian terhadap anak anak nya membuat dirinya di sayangi Louis dan Elenor begitu dekat.
Saking dekatnya Julian dengan anak anaknya. Mereka sangat tergantung pada Julian. Saat Julian telah pulang dari kantor pun, biasanya kedua anaknya itu sudah mencari cari dirinya.
Setiap pagi, Julian lah yang selalu menyiapkan sarapan untuk anak anaknya.
Menemani mereka sebelum tidur dan juga selalu meluangkan waktu bermain bersama sama.
Begitu Julian datang ke apartemen. Louis langsung bergegas menghamburkan diri ke arah Julian. Dan dengan kedua tangannya yang terbuka. Julian menangkap Louis dan memeluk putra kesayangannya itu dengan erat.
Sejenak Julian dan Louis bermain guling gulingan di lantai. Julian mengetitiki Louis sampai anak itu berteriak minta tolong.
Jenna yang saat itu menyaksikan kedekatan putra dan suaminya yang tengah asik bersenda gurau itu hanya bisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
Kemudian ia melanjutkan kegiatannya untuk membuatkan puding coklat untuk Louis di dapur.