
"Ini kan hari Sabtu. Kenapa kau sudah menemui ku sesiang ini. Harusnya kamu bersama dengan istri yang katanya sangat kamu cintai itu kan. Menikmati hari akhir pekan bersama dengan santai dan bahagia." ucap Valerie dengan nada penuh sindiran pada Julian, yang kala itu tengah fokus menyetir.
Julian hanya diam saja. Tidak menjawab pertanyaan Valerie. Pandangannya lurus ke depan memperhatikan jalanan.
Karena Julian tidak menjawab pertanyaannya, Vale pun tidak meneruskan lagi kata katanya.
Vale memilih untuk menoleh ke samping kaca mobil. Memperhatikan pemandangan yang ada di sisi jalan di sepanjang jalan Julian membawanya pergi entah kemana.
"Kita mau ke mana? Ini kan bukan jalan menuju Penthouse." ujar Valerie.
"Kita akan cek kandungan. Bukankah kamu pernah bilang, di saat usia kandungan mu sudah enam bulan. Baru kamu ingin tau jenis kelamin nya." sahut Julian.
Valerie kemudian ingat itu, lalu ia menyentuh perutnya yang sudah kian membesar.
"Aku mencintai janin ini, aku sudah jatuh cinta dengannya. Tapi aku harus menyiapkan hati untuk berpisah dengannya saat dia nanti lahir." ucap Vale sambil mengelus elus perutnya.
"Kau akan mencintai bayi ini kan?" tanya Vale, merasa sedikit takut jika Julian nanti tidak sayang dengan bayi nya.
"Kau ini bicara apa, tentu saja aku akan sayang. Dia ini spesial, dia adalah keturunan Alexander pertama. Aku akan bangga dengannya. Jika saja kau tau perasaan ku saat tau aku akan menjadi seorang ayah. Aku merasa bangga menjadi seorang laki-laki. Karena aku berhasil membuktikan jika aku bisa punya anak dan bisa memiliki keturunan. Aku dulu sudah 5 tahun menikah tapi aku tidak bisa memiliki anak. Dan akhirnya aku bercerai dengan mantan istri ku dulu. Kemudian aku bertemu dengan Andrea dan kami bertunangan. Aku sudah merencanakan punya anak kala itu dengan wanita itu. Tapi sayangnya, hubungan kami kandas. Dan jadilah aku trauma. Dan akhirnya aku bertemu dengan mu." jelas Julian menceritakan masa lalunya.
"Siapa Andrea ini?" tanya Valerie.
__ADS_1
"Kau tidak akan tau dia. Dia wanita yang pernah membuat ku kagum. Dan kriteria wanita idaman ku."
"Oya, pantas saja aku tidak masuk dalam kriteria wanita idaman mu. Apalah aku, hanya seorang wanita miskin dan hanya seorang bartender." ujar Vale sambil terkekeh kecil.
"Jangan merendah Vale. Setiap orang punya kehidupan sendiri. Meski kamu seperti itu, kau sebenarnya adalah wanita hebat." puji Julian.
"Itu hanya pujian semu. So, Jenna jadi kurang lebih apakah seperti si Andrea ini?" tanya Vale menyelidik tentang kriteria wanita idaman Julian.
"Jangan bahas soal ini, nanti kamu sakit hati." seloroh Julian gemas.
Vale pun kini tertawa lepas. Entahlah, pembicaraan tentang hal itu kini menarik perhatian Vale.
"Tenang saja, aku sudah kebal mental." ujar Vale santai, yang kemudian menoleh ke arah Julian dengan tersenyum.
"So, Jadi Jenna ini juga mirip dengan Andrea. Yang akhirnya membuat diri mu jatuh cinta denganya?"
"Aku sudah move on dari Andrea. Aku memang mencintai Jenna. Sudah ya, Vale. Jangan bahas lagi. Wanita itu kan tidak suka di bandingkan." ujar Julian bijak.
"Iya, iya." jawab Vale.
"Jadi, nanti kira-kira kamu ingin jenis kelamin apa?Laki-laki atau perempuan?" tanya Vale pada Julian. Kembali membahas tentang anak mereka.
__ADS_1
"Laki-laki atau perempuan bagiku sama saja. Mereka sama-sama keturunanku. Aku tidak ingin mempermasalahkan jenis kelamin. Karena yang penting bagiku adalah, aku memiliki keturunan. Dan aku sudah mendapatkannya saat ini, dari dirimu." jawab Julian sambil tersenyum manis pada Valerie.
"Saat nanti ketemu dengan dokter kandungan, kau harus bisa memutuskan. Kau akan melahirkan anak itu dengan cara apa. Dengan cara cesar atau dengar cara normal. Tapi kalau aku sarankan, sebaiknya kau melahirkan secara cesar saja. Sehingga kau tidak perlu merasa kesakitan untuk melahirkan bayi itu." ucap Julian menyarankan.
"Memangnya apa bedanya melahirkan secara cesar atau secara normal?" tanya Valerie kepada Julian.
"Secara spesifik melahirkan secara caesar itu akan lebih mudah untukmu dan mengurangi berbagai resiko, menurut ku. Kamu hanya perlu dibedah di bagian perut dan dikeluarkan bayinya. Sedangkan lahiran secara normal, kau harus bersusah payah untuk mengeluarkan dia dengan cara yang alami. Dan itu aku sangat khawatir, karena seperti yang sedikit aku tahu, melahirkan normal itu sakit. Ya aku juga tidak tahu bagaimana rasanya. Tapi aku akan sangat kasian dengan mu."
"Nanti kita konsultasikan saja dengan dokter supaya jelas. Makanya hari ini aku akan mengurusi mu untuk mengecek kandungan. Jadi jangan banyak memprotes jika seharian ini aku akan bersamamu. Dan satu lagi Valerie, di saat aku bersamamu. Jangan mengungkit masalahku dengan Jenna. Karena apapun yang terjadi antara aku dengan Jenna, itu urusan aku dengannya. Saat aku bersama mu saat seperti ini, berarti aku sedang mengurus mu. Aku punya tangung jawab yang sama. Apalagi saat ini kandungannya mu makin besar. Aku tidak mungkin abay begitu saja." ujar Julian menjelaskan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Nih, aku up lagi biar pada senang 🥰 like komen poin seiklas nya, ngk di kasih juga ngk apa apa wkkwwk, kalian bebas komen pokok 🙏🙏🙏🙏 Terimakasih atas segala dukungan dari kalian untuk novel satu ini..komen, like dan dukungan kalian buat aku semangat 🙏💐🥰🔥♥️🤗
__ADS_1