Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
kecurigaan Jenna


__ADS_3

Berada di kamarnya di Mension, Jenna nampak gelisah.


Sudah jam sepuluh malam sejak kedatangan mereka yang baru saja kembali dari luar negeri, tapi Julian belum juga kembali ke Mension.


Dengan mengenakan jubah baju tidurnya, Jenna keluar dari kamar dan berniat untuk turun ke lantai bawah. Mengecek Julian, mungkin saja suaminya itu ada di bawah.


Tapi setelah ia sudah berada di lantai bawah, Julian masih belum nampak. Dan di seluruh ruangan masih sepi.


Tidak ada tanda-tanda keberadaan Julian di rumah.


Jenna pun akhirnya kembali ke kamarnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Masih berada di Penthouse, Julian kini berada di kursi mini bar di ruang bawah.


Seperti biasa, di saat dia sedang gelisah ia selalu meneguk wine kesukaannya untuk mencoba menenangkan pikirannya.


Saat ini dia di hadapkan pada situasi yang sedikit rumit.


Di satu sisi dia harus tetap melindungi Vale dan bayinya.


Di sisi lain ia harus bisa terus berakting untuk tetap bisa membuat Jenna percaya pada dirinya.


Sebenarnya, Julian tidak pernah punya niat untuk menyakiti dua wanita itu. Baik Jenna maupun Valerie sama sama punya tempat tersendiri di hati Julian.


Pernikahan kontrak dan juga rahim bayaran yang sudah ia sepakati bersama Vale tidak mungkin Julian tinggalkan begitu saja.


Julian adalah tipe pria yang bertanggung jawab dengan komitmennya.


Siapa sangka di saat dia sudah melakukan pernikahan kontrak dan menjalani bisnis rahim bayaran dengan Vale, tiba-tiba dia jatuh cinta dengan Jenna.


Hal itu di luar dugaannya, bisa kembali jatuh cinta di saat ia saat itu masih sangat kecewa dengan Andrea Sahara, sang mantan tunangannya yang juga bos dari istri nya saat ini Jenna.


Berawal dari sebuah kesalahan yang sudah mereka lakukan di Bali saat itu. Membuat Julian mengucapkan janji pada Jenna bahwa ia akan secepatnya menikahi Jenna.


Dan untuk membuktikan jika dirinya memang serius terhadap Jenna saat itu. Akhirnya Julian kepikiran untuk menikahi Jenna secara siri.


Karena ia tidak bisa menikahi Jenna secara hukum.


Rasa cinta yang Julian rasakan terhadap Jenna membuat ia takut. Jika suatu saat dia bisa kehilangan Jenna, sama seperti dirinya saat itu pernah kehilangan Andrea.


Oleh sebab itu, menikahi Jenna secara siri adalah pilihan satu satu nya untuk bisa mengikat Jenna.


Dan saat ini, pesan sang Mama yang menyuruhnya untuk segera melegalkan pernikahannya dengan Jenna juga membuat Julian berfikir keras.


Karena hal itu tidak mungkin bisa Julian penuhi.


Sebelum perjanjian kontrak pernikahannya dengan Valerie benar-benar berakhir.


Belum lagi, ada sedikit rasa takut yang Julian rasakan jika Jenna semisal tau soal pernikahan kontraknya dengan Valerie.


Apalagi soal rahim bayaran itu. Yang Jenna sendiri sangat menentangnya.


Julian sangat paham dengan sifat Jenna.


Jika Vale sudah tau tentang pernikahan sirinya dan dia tidak mempersoalkan itu. Belum tentu bagi Jenna Shamanta.

__ADS_1


Jenna pasti menuntut penjelasan yang konkrit.


Apakah Jenna nanti juga bisa menerima kenyataan jika dirinya telah menikahi Valerie? Meskipun status pernikahan mereka hanyalah pernikahan kontrak.


Saat hati Julian berada di tengah kegalauan, deringan ponsel yang ia simpan di saku celananya mengagetkan dirinya.


Saat tau Jenna yang menghubunginya, Julian kemudian langsung mengangkat panggilan itu.


"Halo, Jen."


"Kau di mana Julian?" tanya Jenna dari sebarang telepon.


"Aku baru saja mau pulang." jawab Julian.


"Memangnya kau di mana sekarang?" tanya Jenna lagi.


"Aku,......Aku sedang di Bar bersama temen bisnis." jawab Julian berbohong.


"Sudah malam, pulanglah." pinta Jenna dengan suara lembut.


"Ia sayang, aku kembali ke rumah sekarang." jawab Julian.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sesampainya di Mansion, Julian langsung naik ke atas ke lantai dua rumahnya.


Saat ia membuka pintu kamar, ia melihat Jenna nampak sudah tertidur di rajang mereka.


Julian yang melihat Jenna tertidur, kemudian menghampirinya. Lalu Julian membungkukkan badannya dan mencium lembut puncak kepala Jenna.


Wanita yang ia cintai yang sudah bersedia menjadi penghangat ranjangnya.


Setelah berganti baju seperti biasa, celana panjang dan tanpa mengenakan baju atasan. Julian langsung ikutan merebahkan dirinya tepat di samping Jenna.


Sambil merangkul dan mendekap tubuh Jenna saat itu. Julian memejamkan mata dan tertidur pulas.


Jenna saat itu sebenarnya tidak benar-benar tidur.


Ketika Julian tidur sambil memeluknya, Jenna perlahan membuka matanya kembali.


Rencananya ia tadi ingin menanyakan sesuatu pada Julian. Karena sang suami kini telah tidur, Jenna pun akhirnya mengurungkan niatnya. Dan ia memutuskan untuk ikut tidur.


🍁🍁🍁🍁


Pagi hari itu nampak terlihat begitu cerah. Awan biru terhampar luas di angkasa dan sinar matahari yang hangat seolah-olah menjadi selimut yang menyenangkan saat itu.


Di sebuah meja makan di rumah yang super mewah dan juga megah. Julian dan Jenna sedang bersiap untuk sarapan pagi bersama di meja makan.


Jenna yang telah mengenakan baju kantornya yang pas melekat di tubuhnya, nampak terlihat begitu sangat cantik dan elegan.


Dengan cekatan, Jenna terlihat sibuk melayani sang suami. Membuatkan sang suami kopi dan juga menyiapkan sarapan untuk sang suami.


Hal yang selama ini sudah menjadi kebiasaan Jenna ketika ia sudah menjadi istri seorang Julian Alexander.


Jenna memang selalu menyiapkan semua kebutuhan sang suami. Ia ingin melayani sang suami dengan sangat baik.


Dari menyiapkan sarapan sampai baju yang akan di kenakan Julian pun tak lepas dari Jenna yang menyiapkannya.

__ADS_1


Julian meskipun sudah terbiasa hidup sendiri dan mandiri selama ini. Ia menjadi bangga saat dia di layani dengan begitu baik oleh Jenna.


Bahkan Jenna tidak mengizinkan para asisten rumah tangga melayani suaminya jika dia ada d rumah. Ia benar-benar ingin menjadi istri yang baik di mata Julian.


"Mau pake selai apa sayang." tanya Jenna ketika ia sudah selesai memanggang roti mereka pada sebuah alat Toaster, sebuah alat pemanggang roti.


"Terserah kamu saja sayang, aku pasti akan memakannya." jawab Julian sambil tersenyum manis pada Jenna.


Dan tak lama kemudian, Jenna meletakkan sepasang roti yang sudah ia olesi dengan selai dan menaruh nya di piring makan Julian.


"Selamat makan." ucap Jenna pada Julian sambil mengecup pipi Julian sebelah kini.


Julian semakin terkesan dengan segala tindakan yang Jenna lakukan untuknya.


"Terima kasih untuk semua pelayanan yang selama ini kamu sudah lakukan untuk ku Jen. Aku tidak pernah menyangka kau akan sangat begitu mengurusi ku." ujar Julian yang saat ini duduk di kursi kebesarannya di meja makan.


"Aku selalu ingat dengan pesan Mama untuk harus bisa melayani suaminya dengan baik. Aku hanya berusaha untuk menjadi istri yang baik." ujar Jenna tersenyum manis pada Julian.


"Kau sudah melakukan itu Jen." jawab Julian, kemudian ia memiringkan tubuhnya dan melayangkan satu kecupan manis tepat di bibir ranum Jenna.


"Ciuman hadiah untuk istri ku." ucap Julian setelah ia mengecup bibir ranum Jenna dengan lembut.


"Malu sayang, di rumah mu banyak pelayan." desis Jenna.


"Ini rumah ku, aku bebas melakukan apa saja."


Kemudian mereka pun melalui pagi itu bersarapan bersama dengan penuh semangat dan kebahagiaan.


"Bolehkah aku nanti menumpang di mobil mu, nanti saat berangkat ke kantor?" tanya Jenna.


"Tentu saja boleh, sangat boleh Jen. Aku akan mengantarmu nanti untuk ke kantor. Dan juga akan menjemputmu jika aku tidak banyak pekerjaan di kantor. Jika kau mau, kita bisa saja pergi ke kantor dan pulang kantor sama sama. Dan aku akan lebih senang lagi jika kau berada di rumah saja, tidak usah bekerja." ujar Julian menyarankan.


"Tapi aku masih suka bekerja Julian. Aku sudah terbiasa bangun tidur dan berangkat bekerja."


"Tapi jika kita sudah punya anak nanti, aku harap kamu bisa berhenti bekerja dan urus saja anak anak kita. Aku yang akan mengaji diri mu, dengan nominal angka yang terserah kau mau aku gaji berapa." ujar Julian memberikan gambaran pada Jenna tentang masa kedepannya jika mereka sudah punya anak.


"Untuk hal itu sepertinya aku harus menurut pada suami." balas Jenna.


Setelah selesai sarapan, mereka pun kini bersiap untuk pergi ke kantor.


Sebenarnya Julian sudah menyiapkan satu mobil mewah untuk Jenna lengkap dengan sopirnya pribadi.


Tapi karena hari itu Jenna ingin pergi bersama dengan Julian, akhirnya Julian pun tak bisa menolak.


Dan di sepanjang perjalanan, Jenna yang dari semalam telah berniat untuk menanyakan sesuatu pada Julian pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Julian, sebenarnya aku ada pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan kepada mu."


"Pernyataannya apa? Tanya saja Jen. Jangan sungkan." jawab Julian.


"Belakangan ini aku lihat kau sering pergi di saat malam. Bahkan juga di siang hari kau kadang ada urusan. Sebenarnya kau sedang ada urusan dengan siapa? Dengan rekan bisnis atau dengan teman? Aku minta maaf jika bertanya seperti ini, padahal kita juga menikah belum lama. Aku hanya bertanya Julian."


Mendengar itu, Julian langsung berusaha untuk tetap bersikap tenang. Dan berfikir.


"Aku ada urusan pekerjaan dengan teman sayang. Kami ngobrol tentang bisnis."


"Kenapa sampai larut sekali, padahal kemarin kita baru saja tiba dan kau sudah pergi juga. Aku minta maaf jika pertanyaan ku ini sangat panjang tapi jujur ini sangat menggangguku."

__ADS_1


"Maafkan aku Jenna, jika aku akan memberikan alasan kebohongan untuk mu. Tapi percayalah, aku tidak mungkin berkata jujur soal Valerie kepada mu saat ini. Aku akan menjelaskan semuanya nanti jika waktunya sudah tepat." desis Julian dalam hati.


__ADS_2