
"Seharusnya aku pikir ulang dulu sebelum menerima tawaran mu dulu." sesal Valerie, entah kenapa kata kata itu meluncur begitu saja dari mulut Vale ketika ia sudah duduk di kursi penumpang bagian depan di samping Julian.
Julian yang tadinya sudah mengemudikan mobilnya. Kemudian menepikan mobilnya kembali di pinggir jalan.
Mendengar perkataan Valerie, membuat Julian menautkan kedua alisnya, merasa heran. Kemudian ia menoleh ke arah wanita yang sudah sah menjadi istri nya itu, walau mereka menikah kontrak.
"Apa kau menyesali sesuatu!" tanya Julian. Valerie justru tertawa getir dengan kenyataan yang terjadi pada dirinya sekarang. Yang hanya ia bisa rasakan sendiri dan ia simpan sendiri.
Ternyata semua yang ia rasakan saat ini bertolak belakang dengan apa yang ia bayangkan di awal-awal.
"Aku tidak menyesal, hanya berfikir, ternyata apa yang aku bayangkan semuanya tidak sama dengan apa yang aku pikirkan di awal, saat aku menerima tawaran mu. Tapi apa boleh buat, aku sudah menjalaninya. Bahkan aku sudah menikmati hasil dari apa yang aku inginkan." ujar Valerie dengan wajah tertunduk.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan Vale?"Aku melihatmu perbedaan sikap dari awal-awal aku mengenalmu. Kau tidak se bar bar yang aku kenal dulu. Kau sekarang justru lebih pendiam. Apakah aku menyakitimu?" tanya Julian merasa penasaran.
Karena Julian sendiri merasakan ada perubahan pada wanita yang tak lama lagi akan berusia 21 tahun itu.
"Tidak, kau tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku saja yang tidak profesional menjalankan bisnis ini." jawab Vale.
"Apa maksudnya kau tidak profesional?"
"Tidak perlu ku jelaskan padamu, karena kau pun juga tidak akan mengerti." jawab Valerie dengan wajah yang masih terduduk.
"Jujurlah padaku Vale, kau bisa bercerita apa saja dengan ku. Kita sekarang ini bukan orang lain. Kau bisa menganggap aku teman, kakak, atau saoudara." tukas Julian diplomatis.
Bahkan kau tak menyebutkan diri mu suami untuk ku Julian, meski hanya suami kontrak, Vale membantin.
Julian kemudian berfikir.
"Apa kau menyukai ku?" tebakJulian.
Mendengar tebakan itu, Valerie akhirnya menoleh kearah Julian.
Julian menatap Valerie dengan tatapan tajam. Lewat netra nya yang berwarna abu-abu, Julian mencoba menelisik, mencari tau dan berusaha membuat Vale jujur dengan perasaannya.
"Aku sudah sering mengingatkan mu, jangan pernah menggunakan hatimu untuk urusan bisnis kita ini. Dari awal aku sudah jelaskan, jika aku hanya menginginkan keturunan dari mu. Kita memang berhubungan fisik, kita memang bercinta, dan hal itu memang harus kita lakukan demi bisa menghasilkan seorang bayi yang aku inginkan. Tapi ingat Valerie, aku tidak mencintai mu. Dan jika boleh aku jujur, aku masih mencintai seseorang wanita yang kini justru meningalkan aku dan memilih kembali pada suaminya. Setelah kami bertunangan lima tahun lamanya. Aku mencintai dia, aku menginginkan dia, tapi ada akhirnya aku tidak memilikinya. Vale, aku tau rasanya di kecewakan. Aku tau rasanya sakit hati, aku tau rasanya memendam perasaan. Oleh sebab itu Valerie, aku mau, kau buang perasaan mu terhadap aku, jika benar kau mulai ada rasa dengan ku. Karena jujur saja, di hati ku masih ada cinta untuk wanita yang tak mungkin bisa aku miliki lagi."
Valerie tercenang mendengarkan cerita yang Julian ungkapkan dengan nya.
"Tidak hanya pernah gagal berumah tangga, aku juga gagal menikah untuk yang kedua. Bahkan aku malah patah hati Vale untuk saat ini. Patah hati yang hanya bisa aku rasakan sendiri. Cinta yang besar yang hanya aku bisa nikmati sendiri, tanpa bisa mengekspresikan nya. Tapi aku mencoba iklas. Melihat dia bahagia sudah cukup membuat aku bahagia juga."
__ADS_1
"Boleh tau siapa wanita itu?" tanya Valerie penasaran ingin tau siapa wanita yang di cintai Julian begitu besar.
"Dia rekan bisnis ku, namanya Andrea Sahara. Seorang Ibu dua anak, sekarang ia sudah bahagia kembali dengan mantan suaminya." jelas Julian.
"Aku sudah bercerita tentang wanita yang aku cintai. Sekarang ceritakan apa yang membuat mu gundah seperti itu." tanya Julian lagi.
"Seperti yang kau rasakan pada wanita yang kau masih kau cintai saat ini Mr. Aku sepertinya menyukai mu, aku sudah salah mengunakan hati ku. Aku tidak boleh suka pada mu. Tapi tenang saja, aku akan membuang nya." ujar Valerie yang kemudian terkekeh sendiri, mencoba menghibur diri.
"Jangan jatuh cinta pada ku Valerie, jatuh cinta lah pada pria yang bener bener menerima mu dan yang bisa membalas cinta mu. Wanita itu butuh untuk di sayang, bukan di sakiti. Jika aku sayang dengan mu, ingat. Sayang ku dengan mu bukan sayang cinta, tapi sayang karena aku menyukai karakter dan kepribadian mu." ucap Julian, sambil menguap rambut blonde Valerie.
"Siap Mr," jawab Valerie sambil mengembangkan senyumnya yang manis.
"Ini dia Valerie ku." puji Julian yang juga tersenyum manis pada Vale.
Sesampainya mereka di Penthouse, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Mereka kemudian menikmati sajian makan malam yang sudah di siapkan pelayan mereka.
Seperti pasangan suami istri sungguhan. Julian dan Valerie menikmati makan malam sambil berbincang ringan.
Setelah Valerie bisa bicara jujur dengan Julian, membuat Valerie merasa sedikit lega dan tentunya suasana hati nya kini semangat lagi.
"Makanlah yang banyak dan makan makanan yang bergizi ya Vale. Aku sudah suruh pelayan untuk memasakkan makanan yang bergizi untuk mu. Pokoknya kamu harus sehat. Aku ingin calon bayi ku sehat sejak ia diciptakan. Aku sengaja menyuruh para pelayan untuk memasakkan makanan yang bermutu untuk kau makan."
"Aku berharap keturunan seorang bayi laki-laki. Tapi bagiku, laki-laki atau perempuan sama saja. Yang penting aku memiliki keturunan. Mamaku tidak mempermasalahkan soal gender. Laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting keluarga ku ada generasi penerus yang lahir dari benih ku." jelas Julian.
"Jangan lupa berdoa untuk meminta anak laki-laki saat kita bercinta nanti, jika kau ingin bayi laki-laki." ucap Valerie sambil tertawa. Dan tak di sangka, Julian pun menanggapi bercandaan Vale dengan tawa yang lebih keras.
Keduanya pun saling tertawa lepas. Dan baru kali itulah Julian dan Valerie bisa saling tertawa ringan tanpa beban. Ketika mereka sedang bercakap di meja makan malam itu. Diskusi yang hangat dan sangat ringan, santai serta tenang.
Seolah-olah mereka berdua saling menunjukkan ke profesional lan mereka.
Dan seusai makan malam pun, benar saja. Mereka sama sama naik ke lantai dua Penthouse. Dan mereka bercinta dengan berbagai gaya di kamar mereka.
Bertukar peluh, keringat dan saling bersautan ******* yang membahana di kamar. Yang hanya bisa di dengar oleh Julian dan Valerie saja. Julian sangat bersemangat untuk membuat Valerie cepat mengandung benih nya.
ππππ
Malam itu, Jenna tertidur dengan begitu lelap di ranjangnya. Wanita lajang 28 tahun itu seperti nampak sedang kelelahan, karena akhir-akhir ini dia banyak pekerjaan yang harus dia urus. Belum lagi setiap hari dia harus meeting dengan beberapa klien penting perusahaan.
Kesetiaan dan kerja keras nya untuk Sahara Corp membuat Jenna Shamanta sudah seperti seorang CEO wanita. Tak kalah berkarisma dengan bos nya yang juga seorang perempuan yaitu Andrea Sahara.
__ADS_1
"Jen, aku mencintaimu."
"Jen, maukah kau menjadi istriku?"
"Menikahlah denganku Jen, jadilah Ibu dari anak-anakku. Aku ingin keturunan yang terlahir dari rahim mu. Aku mencintaimu, aku jatuh cinta padamu Jenna."
"Julian!" seru Jenna, yang seketika langsung terbangun dari tidur lelapnya.
Ucapan seorang pria tampan yang saat ini membuat ia kesal tapi juga yang diam diam membuat Jenna kagum.
Julian Alexander.
Jenna kemudian terbangun dengan deru nafas yang deg deg kan. Serta keringat yang sudah membanjiri tubuhnya.
Ia kemudian bangkit dari tidurnya. Menghela nafas panjang dan ia sadar, ternyata apa yang baru saja ia alami tadi hanyalah mimpi.
Sambil masih terduduk di ranjangnya, Jenna menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hati Ia berpikir, bisa-bisanya dia bermimpi tentang Julian.
Pria yang saat ini membuat dia kesal, dan di lain sisi juga yang telah menyita perhatiannya.
Kadang Jenna memikirkan pria berwajah tampan itu tanpa ia bisa kontrol.
Bahkan sebagai wanita normal, ia kadang berimajinasi bisa bersama Julian Alexander.
Meskipun pikirannya menolak, tapi hati nya menginginkan pria itu.
Hati dan pikirannya tidak sejalan dan itu membuat Jenna menjadi sangat gusar dengan dirinya sendiri.
Saat melihat jam di atas nakas, kala itu waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Karena ia merasa sangat haus kemudian Jenna keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Mengambil satu botol air dingin kemudian ia menuangkan air putih itu kedalam gelas. Sambil duduk, Jenna meminum air putih itu sampai tandas. Dan mimpi yang baru saja ia alami kembali berputar putar di kepalanya.
"Kenapa aku jadi semakin sering memikirkannya. Tidak mungkin aku menyukai Julian." pikir Jenna dalam hati sambil memainkan gelas kosong yang ada di tangannya.
Tatapan mata mu bang π₯°π€
Well, siap siap love triangleπ¬π€
__ADS_1
Kalau vote nya masih nganggur, boleh doang kasih ke novel ini, terimakasih yang sudah kasih like, komen dan juga gift serta vote nya. I love you β₯οΈπ₯ππ€π