Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Kemarahan yang tertahan


__ADS_3

Setelah Vale memakan buah nanas yang ia beli dan meneguk 1 botol minuman yang mengandung alkohol habis tanpa sisa.


Tiba-tiba saja dia merasakan perutnya sangat mulas dan juga sangat sakit.


Rasa mual itu seketika langsung menyeruak dari dalam perut nya.


Sehingga ia pun buru buru menghamburkan diri ke kamar mandi.


Sesampainya Vale di kamar mandi, ia langsung memuntahkan semua isi perutnya ke dalam closet.


Buah nanas yang ia makan serta minuman beralkohol yang ia teguk tadi semua Vale muntahkan.


Sambil menunggu dirinya bisa kembali kuat untuk berdiri. Vale mencoba mengatur napasnya.


Beberapa saat kemudian, setelah ia merasa lebih baik. Vale mencoba untuk berdiri dan keluar dari kamar mandi dengan berjalan perlahan menuju rajang.


Sesampainya di ranjang, kemudian Vale merebahkan dirinya. Sambil terus memegangi perutnya yang terasa sangat tidak nyaman.


Tidak hanya perut nya yang sakit, kini kepalanya pun terasa pusing berkunang-kunang.


Valerie kemudian mencoba untuk memejamkan matanya.


Mengistirahatkan tubuh nya yang terasa sangat lemah dan lelah itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Keesokan harinya


Dengan kondisi badan yang masih lemas. Pagi itu Vale sudah duduk di kursi makannya untuk bersarapan.


Seperti biasa, Naina dan Aise selalu menyuguhkan sarapan yang sehat dan bergizi untuk sang majikan.


Tapi entah kenapa, sudah beberapa hari ini Vale tidak memakan makanan yang sudah di siapkan Naina.


Hal itu sempat membuat Naina dan Aise bingung.


Vale hanya turun ke lantai bawah untuk minum air putih saja.


Selebihnya, Vale sering mengurung diri di kamar.


"Non, jangan lupa ya di makan makanan sehat ini. Bagaimanapun, janin yang ada di kandungan Non Vale harus tetap di perhatikan asupan gizi nya. Saya sudah di perintahkan tuan Julian untuk mengurusi Non Vale." ujar Naina dengan sangat lembut mengikatkan Vale untuk makan makanan yang sudah di siapkan di atas meja makan pagi itu.

__ADS_1


"Ia Bik Naina, terima kasih." jawab Vale singkat.


"Kalau Non Vale ingin sesuatu, katakan saja. Saya pasti akan dengan senang hati membuatnya untuk Non." imbuh lagi Naina.


"Aku sedang tidak ingin sesuatu Bik Naina." jawab Vale lagi dengan nada lemah.


"Non sehat kan, Non Vale nampak pucat." sergah Naina.


"Bisa tingal kan aku sendiri saja Bik. Aku sedang ingin sendiri!" jawab Vale, dengan nada suara agak ketus.


Naina pun kembali sedikit heran. Karena, tak biasanya Vale berbicara dengan nada tinggi seperti itu.


Tapi Naina memaklumi, mungkin saja itu bawaan ibu hamil yang memang kadang sensitif perasaannya.


Belum lama Naina pergi dari hadapan Valerie.


Teriakan Valerie dari ruang meja makan terdengar oleh Naina dan Aise dari dapur. Dan membuat dua wanita paruh baya itu langsung berlari ke arah Vale berada.


"Bik tolong aku" seru Vale kala itu.


"Non, Non Valerie!" sentak Naina yang langsung memelototkan kedua matanya saat melihat darah segar mengalir dari arah tubuh Valerie ke lantai.


"Astaga Non!" seru lagi Aise yang langsung menghamburkan diri memegangi tubuh Vale yang terlihat lemah.


Dan sebuah darah segar nampak mengalir dengan derasnya dari organ kewanitaan Valerie. Darah itu bahkan mengalir sampai lantai.


"Non Vale pendarahan!" seru Naina, yang seketika langsung sigap menghubungi seseorang.


"Pak William, terjadi sesuatu dengan Non Valerie."


Naina pun menjelaskan pada William apa yang terjadi pada Valerie.


William adalah orang kepercayaan Julian sekaligus partner pengacaranya.


Mendengar kabar buruk terjadi pada Valerie. Julian yang saat itu tengah berada di Athena langsung mencarter sebuah pesawat pribadi untuk mengatarkan dirinya terbang ke Indonesia.


Julian sampai di Indonesia pada malam harinya.


Tidak mau membuang waktu, Julian langsung segera menuju rumah sakit di mana kini Valerie sedang menjalani perawatan.


Ketika itu, Julian langsung bertemu langsung dengan tim dokter yang menangani Valerie.

__ADS_1


Saat sang dokter menjelaskan sebab kenapa Valerie mengalami pendarahan membuat Julian syok.


Setelah paham dengan semua penjelasan yang sang dokter sampaikan padanya. Julian kemudian menemui Aise dan juga Naina yang kala itu menjaga Valerie di rumah sakit.


Dua asisten rumah tangganya itu tak luput dari introgasi Julian.


"Ini adalah kejadian terakhir ya Naina, Aise. Aku tidak mau hal yang sebahaya ini Vale alami. Kalian boleh kembali ke Penthouse. Aku yang akan menjaga Vale." ujar Julian.


Kemudian Aise dan Naina pun undur diri dari hadapan Julian.


Dan kini, Julian ingin menemui Vale yang sudah di pindahkan ke ruang pemulihan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Dengan menahan amarah yang bergemuruh menyesakkan dada.


Julian menghela nafas dalam-dalam, mencoba untuk bersabar.


Meski sebenarnya ia sangat ingin sekali meluapkan kemarahannya terhadap Valerie. Atas pencobaan pengguran kandungan yang telah Vale rencanakan.


Akan tetapi, Julian memilih untuk tidak meluapkan amarahnya.


Sambil mengatur nafasnya yang berat, dan mengarahkan pandangannya yang tajam ke arah Valerie.


Wanita yang kini sedang terbaring lemah dengan selang infus yang terpasang di tangannya itu nampak terlihat pucat dan begitu menyedihkan.


Julian sebisa mungkin menampakkan wajah ramahnya.


Tidak ingin rasa kecewa yang ia rasakan terlihat oleh Vale.


"Vale, sebenarnya apa yang kau inginkan. Kenapa kau tega menyakiti darah daging mu sendiri. Dia adalah anakmu, darah daging mu, benih mu juga." Julian berucap sambil menyentuh pundak Vale dengan sentuhan lembut.


Sedangkan Vale sendiri justru melegos ke samping, tidak berani menatap wajah Julian.


Vale hanya diam seribu bahasa. Tidak menjawab satu patah katapun pertanyaan Julian.


"Persetan dengan perjanjian itu, lupakan sejenak jika janin yang kau kandung saat ini adalah janin pesanan ku. Lupakan soal rahim bayaran. Sekarang, aku tanya baik baik pada mu Vale. Seumpamanya saat ini kau hamil bukan karena rahim bayaran, atau mungkin kau hamil dengan pria yang kau cintai dan kalian saling mencintai. Apakah kau tega, membunuh mahluk hidup yang masih sangat kecil dan mungil di dalam rahim mu. Coba pikirkan Vale, apa kau tega menyakitinya. Membuatnya mati dan tak bisa berkembang karena kesalahan yang sengaja kau lakukan?" Tutur Julian mencoba untuk menasehati Valerie.


Dan kini air mata Vale sudah mengalir membahasi pipinya, tak bisa ia bendung perasaan bersalah nya.


"Kau sendiri tahu kan, meminum minuman beralkohol itu bisa membayangkan dia di perut mu. Kau tau apa yang kau lakukan ini membahayakan tidak hanya untuk janin kita. Tapi juga sangat bahaya untuk mu Vale. Kau mengalami pendarahan hebat dan kau hampir saja kehilangan nyawa mu." ujar julian dengan nada suara yang kini sedikit tinggi. Julian nampak terdiam sejenak, menghela nafas panjang, kemudian berucap kembali.

__ADS_1


"Aku tidak marah dengan mu saat ini, bukan berarti aku tidak marah sebenarnya dengan mu Vale. Marah pun percuma. Yang penting bagi ku saat ini adalah, kau dan bayi kita masih bisa di selamatkan. Itu bagi ku sudah suatu hal yang masih harus kita syukuri. Tapi bukan berati kau setelah ini akan bebas dari pengawasan ku. Aku hanya ingin kau sadar Vale. Jangan pernah kau ulangi lagi melakukan hal bodoh dan konyol seperti itu"


"Jika ada sesuatu yang tidak kau sukai dariku. Katakan padaku, katakan dengan jujur. Maafkan aku jika ada sikap atau tutur kataku yang mungkin membuat mu kesal. Tidak apa apa kau lampiaskan kekesalan itu pada ku. Tapi aku mohon, jangan lampiaskan lagi pada janin kita, bayi kita, anak kita, dia tidak salah dan tidak berdosa."


__ADS_2