
Begitu mendapati Valerie telah kabur dari Penthouse, membuat Julian menjadi tidak tenang.
"Halo, Ma." ucap Julian saat ada panggilan masuk di ponselnya.
"Ada apa Julian? Tadi kau langsung pergi saja dari meja makan. Dan mama sempat mendengar mu menyebut nama Valerie. Ada apa dengan Valerie?" tanya Roseline dari sebrang telepon.
"Valerie pergi dari Penthouse Ma. Sepertinya dia sudah berniat kabur dari ku, tepatnya dia membawa kabur calon putri ku." Jawab Julian.
"Ya Tuhan, tenangkan diri mu Nak. Apa rencana mu setelah ini?" tanya sang Mama.
"Tentu saja aku akan mencari dan akan mendapatkannya lagi Ma. Dia telah membawa pergi calon putri ku." ujar Julian.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Apartemen
"Sepertinya rasa antusias mu terhadap bayi yang aku kandung ini berbeda. Diri mu sepertinya tidak seantusias bagaimana kau akan menjadi ayah dari anak yang di kandung Valerie?" ujar Jenna sesaat setelah kini ia masuk kedalam apartemen, setelah tadi dia memeriksakan kandungannya ke dokter bersama dengan Julian.
"Kau bicara apa Jen, aku sangat antusias dengan kehadiran bayi kita. Kenapa kau berpikiran seperti itu?" ucap Julian yang kemudian berjalan menghampiri Jenna, dan berdiri tepat di hadapan Jenna sambil meraih kedua pundak sang istri dengan kedua tangannya.
"Aku tadi perhatikan dirimu selama berada di dokter. Kamu nampak lebih banyak diam, kau lebih banyak melamun dan termenung. Jika kau sangat bahagia, seharusnya kau juga akan sangat antusias bertanya kepada dokter. Tapi kau malah diam saja." cecar Jenna.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan itu tidak benar. Aku sangat senang akan menjadi ayah dari bayi yang kau kandung. Maaf jika aku tadi lebih banyak diam. Sebenarnya aku sedang memikirkan sesuatu." ucap Julian.
"Memangnya apa yang kau pikirkan?" tanya Jenna menyelidik.
Julian kemudian berpikir, tidak mungkin dia memberitahu Jenna tentang kepergian Valerie. Karena dia juga tidak ingin mencampur adukkan masalah nya bersama Vale dengan Jenna.
"Biasa, masalah perusahaan Jen. Sekali lagi aku minta maaf, jika tadi aku kau anggap kurang antusias. Tapi percayalah, aku sangat bahagia, aku sangat senang dengan kehadiran calon anak kita." ucap Julian sambil tersenyum manis pada Jenna.
"Kalau begitu kau lebih baik pulang. Mama belum benar-benar memaafkan mu. Dia masih sangat kecewa dengan dirimu."
"Apa itu artinya kau mengusirku?"
"Aku berjanji, akan membereskan semua kekacauan yang aku perbuat. Bersabarlah sebentar lagi Jen, aku akan segera melegalkan menikah kita. Aku janji, sebelum anak kita lahir, kau sudah akan menjadi istri sah ku secara hukum." ucap Julian kemudian meraih kedua tangan Jenna dan mencium nya dengan lembut.
"Ini bukan hanya persoalan kau mengesahkan aku sebagai istri sah mu saja Julian. Setelah aku menjadi istri sah mu, bukankah mau tak mau aku harus menerima juga anak mu dari Valerie?" ucap Jenna, dan hal itu membuat Julian tertegun.
"Bagaimanapun, aku harus menyiapkan diri sebagai ibu sambung anak mu kan." tegas Jenna.
"Apa kau tidak mau bertanya kepadaku. Apakah aku bersedia menjadi ibu sambung untuk anak mu dari Valerie? Kau pikir, aku akan bersikap bagaimana jika nanti dia akan hidup bersama kita. Kau pikir aku akan tega mengabaikan anak itu." ucap Jenna serius.
"Meskipun kau tak memintanya, pikirkan saja Julian. Kau membawa anak dari seorang wanita lain ke kehidupan rumah tangga kita. Dan saat itulah, mau tidak mau, anak itu pasti akan menjadi anakku juga. Meskipun jatuhnya sebagai anak tiri ku."
__ADS_1
"Maafkan aku sayang." ucap Julian nampak menyesal.
"Semua sudah terjadi, itu sebabnya aku sangat kecewa dengan semua apa yang telah kau rahasiakan kepadaku. Karena bukan tentang pernikahan siri kita saja yang menjadi masalah, tetapi juga kehadiran anakmu dari Valerie cukup mempengaruhi ku. Aku tidak menyalahkan anak itu. Anak itu tidak bersalah, anak itu sama sekali tidak berdosa. Dia bahkan tidak tau jika kehadirannya adalah sebuah taruhan. Aku hanya membayangkan. Bagaimana nanti dia tumbuh tanpa kehadiran sosok ibu kandung yang seharusnya ada di sampingnya. Dia juga tidak bisa merasakan kasih sayang dan kehangatan orang tua yang lengkap. Dan kau tau Julian, aku sampai membayangkan bagaimana jika seandainya dia itu adalah anak ku. Sebagai seorang ibu, aku tidak akan tega membiarkan anak itu dalam keadaan dan situasi seperti itu." ucap Jenna menanggapi soal anak Julian dari Valerie.
"Oleh sebab itu, aku memberimu kesempatan. Karena aku memikirkan calon anakku, bagaimana nanti dia lahir dan aku sebagai seorang ibu sangat menginginkan anakku mendapatkan kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya, dari Papa dan Mamanya."
"Aku mengerti, kau benar soal ini Jen?" ucap Julian.
"Pulanglah, sudah malam. Aku juga ingin istirahat."
"Baiklah, aku akan pulang. Tapi besok aku jemput kamu ya, kita berangkat ke kantor bersama sama."
Melabuhkan satu kecupan manis ke kening Jenna dengan lembut, Julian kemudian pamit pada istri sirinya untuk kembali ke Mension.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sepulangnya Julian dari Apartemen Jenna. Julian yang saat itu sedang menyetir, nampak memasang earphone ke telinganya. Kemudian ia menghubungi William, orang kepercayaannya.
"Will, datanglah ke Mansion ku. Ada suatu hal yang penting, yang ingin aku bicarakan dengan mu."
"Oke," jawab William singkat dari sebrang telepon.
__ADS_1