Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Broken heart part 2


__ADS_3

Julian tiba di Mansion pada saat Vale tengah bersantai di ruang tengah. Vale bersantai sambil menonton sebuah acara reality show di televisi yang membahas seputar kehamilan.


Sambil tiduran di sofa panjang, Vale nampak sangat fokus menonton acara tersebut.


Tiba tiba Julian berdiri di sisi televisi sambil berkacak pinggang.


Kedatangan Julian yang tiba-tiba berdiri di hadapannya membuat Valerie kaget, dan kemudian menatap suaminya dengan tatapan bigung.


Julian melayangkan pandangan ke arah Vale dengan tatapan tajam. Bahkan vale tidak pernah melihat julian menatap dirinya dengan tatapan seperti itu sebelumnya.


Tapi Vale sudah bisa menebak, kenapa Julian bersikap seperti itu.


"Apa kau ke sini untuk memarahi ku?" ucap Vale menebak dengan nada suara santai.


"Apa yang sudah kau katakan kepada Jenna. Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika Jenna datang kemari." cecar Julian dengan masih menatap Valerie dengan tatapan penuh tuduhan.


"Dia memang ke sini, kemarin. Dan saat itu kau sedang mandi. Aku hanya bicara apa adanya." ucap Vale tenang.


"Lalu kau bicara apa pada Jenna?"


"Dia ke sini memang sedang mencari mu. Dia bilang, kau suami nya. Dan aku juga menjelaskan padanya jika aku juga adalah istri mu. Bahkan istri sah mu. Hanya itu saja yang aku katakan pada nya. Tidak ada hal lain lagi."


"Kenapa kau tidak bilang kepada Jenna jika kita hanya menikah kontrak?" cecar lagi Julian seolah menuduh.

__ADS_1


"Aku tidak perlu menjelaskan itu. Karena cepat atau lambat, dia pasti akan tahu dari mulutmu sendiri. Jadi aku tidak ingin menjelaskan itu terhadapnya." ujar vale tetap bersikap tenang.


Sedangkan Julian sendiri nampak terlihat mondar mandir, julian menahan emosi.


"Jika kau ke sini hanya untuk memarahi ku, membela dirinya dan menuduh ku. Silahkan katakan apa saja yang ingin kau katakan pada diriku." tantang Vale, yang merasa Julian saat ini tengah menyalahkan dirinya.


Julian yang saat itu memang sedang dalam keadaan emosi sempat ingin meluapkan kemarahannya pada Vale. Karena Vale ia anggap sebagai provokasi.


Tapi, saat Julian melihat wajah lemah Vale dan kemudian ia memandang perut bulat Valerie yang sedang mengandung benihnya tiba tiba membuat emosi Julian kini perlahan menguap, hilang.


Yang ada hanyalah, sebuah rasa kasihan dan iba melihat Vale yang tengah mengandung benihnya.


Mengalihkan perhatiannya, Julian kemudian berjalan ke arah mini bar yang ada di ruangan tengah.


"Jangan membawa masalah mu ke dalam rumah ku Julian. Kalian sudah punya rumah sendiri kan. Bahkan kalian hidup bahagia di Mension istimewa mu." ucap Vale, yang saat itu sudah berada di belakang Julian.


"Aku tidak ingin kau membawa bawa diriku ke dalam masalah pribadi mu dengan istri siri mu. Jangan bawa-bawa aku jika kau ada masalah dengan istrimu. Urus lah urusan kalian sendiri. Jangan hubungan dengan ku. Sepertinya Jenna tidak tau kan jika selama ini ternyata kau telah menikah. Apa kau telah membohongi dirinya?" tanya Vale.


"Sudah Vale jangan di bahas. Aku sudah tidak ingin membahas nya dengan mu. Lupakanlah saja jika aku tadi menanyai mu." ujar Julian yang kemudian menuang kan lagi satu gelas wine ke gelas nya dan kemudian meneguknya.


"Kau yang memutuskan menikah lagi dengannya dengan cara siri. Padahal jika kau mau sabar, empat bulan lagi perjanjian pernikahan kontrak kita selesai. Tapi sepertinya kamu memang menyukai tantangan. Ataukah dia terlalu istimewa untuk mu?"


"Sudah Vale jangan di bahas."

__ADS_1


"Kau serahkan Julian." ucap Vale lagi, tak peduli dengan ucapan Julian yang menyuruhnya diam.


"Kenapa aku bilang kau sangat serakah. Karena kau tidak tahan lagi kan untuk tidak menikahi Jenna dan tidak bersabar menunggu sampai pernikahan kita selesai. Atau kah servis yang aku berikan untuk mu dengan suka rela itu kurang panas untuk mu. Sehingga kau menikahi Jenna secara siri." ucap Vale berani.


"Jaga kata kata kata mu Valerie. Memangnya kau siapa. Kau hanya seorang rahim bayaran untuk ku, tidak lebih. Aku selalu ingatkan pada mu, jangan campuri urusan pribadi ku." ucap Julian dengan suara lantang. Dan seketika membuat Vale kaget dan juga sangat tersinggung.


Julian sepertinya sedang emosi.


"Aku mau bicarakan kembali soal perjanjian pernikahan kontrak kita di awal-awal. Katamu, kita harus bersikap profesional. Aku tidak boleh berhubungan dan menjalin kasih dengan laki-laki lain dan misal aku saat itu berpancaran pun, aku harus putus. Karena kau ingin aku fokus untuk kehamilan ku. Kesalahan ku hanyalah, aku jatuh cinta dengan mu. Di saat aku tau kau ternyata telah menikah siri kala itu. Kau tau Julian, hati ku sakit. Sakit karena kau tidak jujur padaku walau aku tidak punya kuasa untuk membuat mu harus jujur dengan ku. Aku mengunakan perasaan ku itu juga kesalahan ku. Dan aku sudah jujur dengan mu saat itu jika aku mencintaimu. Sebuah kesalahan yang ku buat sendiri. Dan akhirnya aku pun menanggungnya sendiri. Aku menanggung perasaanku sendiri. Kau tau kan bagaimana rasanya mencintai tapi seseorang tidak mencintai kita. Kau tau kan bagaimana rasanya menahan perasaan mencintai padahal seseorang itu ada di dekat kita, di sekitar kita. Itu membuat aku tersiksa Julian. Kau tau bagaimana rasanya dekat dengan seseorang dan kau sangat pemujanya tapi merasa tertolak. Kau tahu bagaimana aku merendahkan diriku seperti seorang pelacur yang hanya ingin memuaskan mu. Tapi kau selalu mengatakan aku tidak mencintaimu. Kau tahu bagaimana rasanya sakit mencintai seorang diri. Itulah yang aku rasakan. Dan kau, Julian. Berbahagia di atas perjuangan ku mengandung anak mu. Fine, ini adalah konsekuensi yang aku harus tagung. Tapi kau juga sudah egois." ucap Valerie yang kini sudah berlinang air mata.


"Atas ke egoisan mu, aku bahkan khilaf berubah menjadi seorang monster yang tega ingin mencelakakan janin ku sendiri. Semua itu karena diri mu. Kau tak bisa menjaga perasaan ku sedikit saja. Kau tidak tau bagaimana rasanya mengandung benih mu ini Julian. Kau tidak tau aku melalui masa-masa sulit di setiap malam ku. Terimakasih untuk luka hati, kekecewaan dan cinta yang hanya bisa ku peluk sendiri. Jika kau ada masalah dengannya, jangan bawa bawa diriku."


Setelah berbicara pajang lebar dengan Julian. Meluapkan semua emosi yang tertahan selama ini. Vale kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Dengan sedikit membanting daun pintu kamarnya. Vale merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya kini telah sedikit teruraikan.


Julian saat ini benar-benar diharapkan pada situasi yang sulit. Menghadapi dua wanita yang secara bersamaan menyalahkan dirinya.




__ADS_1


__ADS_2