Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Menguraikan Masalah


__ADS_3

"Jika Tante ingin mengecap ku sebagai wanita yang buruk, itu hak Tante. Saya juga tidak keberatan jika di sebut wanita murahan dan matrealistis." ungkap Vale jujur.


"Apakah aku ada bilang seperti itu Valerie." ucap Roseline sambil mengulas tersenyum tipis.


"Jangan panggil aku Tante, pangil aku Mama mulai sekarang!" seru Roseline.


Dan hal itu cukup membuat Valerie terbengong.


Mendengar pernyataan Roseline yang menyebutkan bahwa dirinya harus memangilnya mama, membuat Vale tak percaya.


Ia tidak menyangka jika penyambutan Roseline terhadap dirinya sedemikian baik.


Padahal Vale sendiri sudah bersiap jika mungkin saja ia akan diperlakukan buruk oleh Roseline. Mengingat imejnya yang sudah buruk menjadi rahim bayaran dan di nikahi kontrak.


"Aku tidak tahu harus berkata apa tentang mu. Aku tidak ingin buru-buru menilai mu buruk hanya karena kau menerima tawaran nikah kontrak dan mau menjadi tempat berkembangnya benih putera ku. Aku ingin menyelami kepribadian mu secara pribadi Vale. Dari sudut pandang yang berbeda." tutur Rosaline lembut.


"Bagaimanapun, saat ini kau tengah mengandung anak dari putra ku. Entah anak itu ada di rahim mu dengan cara apa. Kau juga sudah di nikahi secara sah kan oleh Julian. Anak yang kini telah hadir dari benih mu dan juga benih Julian itu adalah keturunan Alexander. Dan itu artinya dia adalah cucuku. Oleh sebab itu, aku tidak ingin terlalu mendramatisir masalah ini. Kedatangan ku kemari untuk memperjelas masalah ini agar bisa menemukan titik terang. Aku tidak ingin nasib cucu ku menjadi tidak jelas statusnya. Dalam artian aku tidak mau setelah dia lahir nanti dia akan di perebutkan. Bagaimanapun, kau juga pasti membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarmu," seru Roseline.


"Saya hanya punya diri saya sendiri Tante. Saya tidak punya siapa-siapa. Kerabat dekat yang masih saya miliki hanyalah paman dan bibi saya."


"Bukankah tadi aku menyuruhmu untuk memanggil ku Mama. Jangan panggil aku tante lagi. Pangil aku Mama, aku adalah mertua mu sekarang, aku sudah mengakui mu sebagai menantu ku. Jadi jangan ragu untuk memanggil ku Mama mulai sekarang " jelas Roseline mengingatkan Vale untuk memanggilnya mama.


Apakah Valeri terharu mendengar penuturan Roseline yang mengakui dirinya sebagai menantu? Iya, Vale sangat terharu karena telah di akui sebagai mantu oleh Roseline.


Vale kemudian menundukkan pandangannya. Kedua jari jemarinya saling bertautan, saling menggenggam. Ingin rasanya ia menangis karena terharu saat kini ada seseorang yang bisa ia panggil dengan sebutan mama.

__ADS_1


Dan detik itu juga, Vale jadi teringat kepada almarhum ibunya. Yang sudah lama meninggal saat ia masih berumur 5 tahun.


Saking tak kuasa menahan kerinduan terhadap sosok seorang ibu. Kini Valeri meneteskan air matanya. Bulir demi bulir air mata berjatuhan dari kedua pelupuk mata Valerie.


Roseline kemudian berinsut mendekati Valerie, dan meraih tubuh Vale kedalam pelukannya.


"Kenapa kau menangis, apa yang membuatmu sedih?"


"Saya teringat ibu ku. Sejak, saya berumur 5 tahun, saya sudah tidak lagi bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dan juga ayah. Saya hidup bersama bibik dan paman setelah kedua orang tua saya meningal. Terkadang, ingin rasanya saya menumpahkan segala rasa emosi,keluh kesah, ketakutan, kepedihan, dan semua yang saya rasakan pada seseorang. Tapi saya hanya bisa merasakannya sendiri, memendamnya sendiri." ucap Vale dengan nada suara parau, merasa sangat sedih.


Mendengar hal itu Roseline semakin merasa simpati kepada Vale.


"Valerie, jangan takut bicara jujur sama Mama. Katakan apa saja yang sedang kau rasakan. Keluarkan semua isi hatimu kepada Mama. Mama akan mendengarkan semua keluh kesah mu. Tenang saja, dalam hal ini, anggap saja aku adalah seseorang yang independen. Tidak membelamu dan juga tidak membela Julian putraku sendiri. Anggap saja mama teman mu."


Mendengar itu, Roseline langsung menghela nafas panjang. Ia sudah bisa menduga jika Vale mungkin saja akan berubah pikiran seperti itu.


"Saya merasakan sudah ada ikatan batin dengannya. Setiap malam saya merasa sedih membayangkan, jika suatu saat saya akan berpisah dengannya. Hati saya perih jika nantinya anak ini tidak mengenali ku sebagai ibunya, yang telah mengandungnya. Tapi jika saya berbicara seperti ini, rasa-rasanya Julian pasti akan menilai ku telah berbuat egois. Saya memang menyesali keputusan ku saat itu telah menerima rahim bayar dan menjadi istri kontrak dengan Julian karena tergiur imbalan. Tapi kini saya sudah menyadari, dia, janin ini ternyata jauh lebih berharga dari pada imbalannya. Saya sangat bersyukur dan beruntung mengandungnya. Tapi, apakah Julian dan juga mama mau merelakan dia hanya untuk ku?"ucap Vale yang mulai berubah pikiran.


"Baiklah, sekarang mama sudah paham tentang apa yang ada di pikiranmu. Jangan banyak tekanan dan jangan banyak pikiran Vale. Apalagi sebentar lagi kau akan melahirkan. Jaga kandungan mu, jaga pikiranmu untuk tetap tenang. Soal bagaimana nanti anak ini setelah lahir, mama tidak bisa membuat keputusan sendiri. Mama harus melibatkan Julian juga. Karena dia adalah ayah dari anak itu. Belum lagi dia sudah membuat perjanjian dengan mu kan. Tapi kau tenang saja, kita bisa bicarakan ini baik baik nanti." ujar Roseline bijak.


"Terima kasih, Mama sudah mau mendengarkan isi hatiku."


"Sama sama Valerie. Aku akan mencoba menguraikan masalah ini. Karena bagaimanapun, Julian saat ini juga memiliki istri yang lain yaitu Jenna. Mama juga harus menentukan sikap kepada Jenna."


"Saya sudah tau semua masalah yang di hadapi Julian dan Jenna." ujar Vale.

__ADS_1


"Apa kau juga tau, jika Jenna juga hamil anak Julian?"


Mendengar berita bila Jenna hamil tidak membuat Vale kaget. Karena waktu itu dia sempat mempergoki Jenna sedang membeli susu hamil.


Dan dari sana, Vale sudah bisa memprediksi, jika Jenna memang tengah berbadan dua, hasil hubungannya dengan Julian.


"Selamat untuk kehamilan Jenna. Julian pasti akan bahagia mendengar itu." ujar Vale tenang.


"Julian belum tau jika Jenna hamil, entah kenapa Jenna belum memberi tau Julian kalau dia sebenarnya telah hami. Tapi aku rasa, Jenna juga alasan sendiri dan juga butuh waktu untuk memberi tau Julian tentang kehamilannya."


"Terima kasih kamu sudah memberikan selamat kepada Jenna, kau baik sekali Vale." ujar Roseline sambil mengusap lengan Vale.


"Mama menyadari, ini semua adalah kesalahan Julian. Oleh sebab itu, Mama ingin masalah ini bisa selesai dengan cara baik dan dengan kepala dingin."


"Apakah Julian selama ini memperhatikan dirimu selama kau hamil?" tanya Roseline ingin tau.


"Julian sangat perhatian dengan calon bayinya dan juga perhatian denganku. Dia selalu mengantarkan saya untuk pergi ke dokter kandungan dan perhatian dengan makanan yang saya konsumsi setiap hari."


"Jadi di antara kalian memang sudah dekat ya." ujar Roseline mencoba menebak.


Sedikit ragu, akhirnya Roseline menanyakan hal yang sangat ingin ia ketahui.


"Valerie, apakah kau mencintai Julian? Apakah ada perasaan cinta di antara kalian berdua? tanya Roseline.


Pernyataan itu cukup membuat Valerie terdiam untuk sesaat. Apakah untuk hal yang satu itu dia juga akan jujur pada Roseline atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2