Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Pencarian Valerie & keputusan Jenna


__ADS_3

"Will, aku berikan kamu 2x24 jam untuk bisa menemukan Valerie. Aku yakin, dia tidak akan pergi jauh, dan dia masih ada di Jakarta saat ini. Mengingat dia kini telah hamil besar dan tak tidak mungkin dia akan bisa menempuh perjalanan jauh. Kandungan Vale sedikit rawan. Dia pernah hampir keguguran saat itu. Aku ingin secepatnya menemukan dia. Aku mengkhawatirkan kandungannya dan juga keselamatannya" ucap Julian pada William, dengan penuh rasa kekawatiran.


William pun mendengarkan dengan seksama semua penuturan dan penjelasan yang di sampaikan oleh Julian.


William kemudian mengatur sebuah strategi. Bagaimana dirinya dan juga bersama beberapa anak buahnya untuk bisa menemukan Valerie.


Dan terhitung sejak Julian memerintahkan dirinya untuk bisa menemukan Valerie. William pun langsung bergerak cepat.


Hal pertama yang di lakukan oleh anak buah William adalah dengan penyelidikan di Penthouse.


Oleh sebab itu, beberapa orang kepercayaan William kini telah berada di Penthouse untuk melakukan penyelidikan.


Mereka akhirnya meminta akses untuk memeriksa tekaman CCTV yang ada di sekitaran gedung Penthouse milik Valerie.


William mengerahkan anak buahnya yang seorang detektif untuk bisa dengan segera melacak keberadaan valerie.


Maxim adalah seorang detektif andalan William. Pertama tama Max memeriksa sebuah CCTV yang ada di sekitar unit Penthouse milik Valerie.


Karena melalui rekaman CCTV itu, ia bisa mengetahui jam berapa Vale meninggalkan Penthouse.


Dan, Maxim memeriksa melalui rekaman CCTV yang mengarah dari dalam koridor gedung sampai ke lobby.


Maxim bisa melihat Valerie yang kala itu nampak membawa satu buah tas ransel dan sebuah tas kecil di tangannya. Melalui rekaman CCTV itu, Maxim juga bisa melihat Vale sedang menaiki sebuah taksi yang telah menunggunya di lobby.


Melalui taksi itu, Max kemudian mencatat nomor kode taksi yang tertera di taksi tersebut.


Melalui kode nomor itu, Max kemudian menghubungi layanan Taksi tersebut.


Dan akhirnya dari sana, Max mendapatkan informasi kemana tujuan terakhir taksi itu membawa Valerie.


Setelah melacak taksi yang membawa Vale ke tujuan akhir. Kini Max melacak nomor ponsel milik Valeri.


Dan untuk yang satu itu, Max nampaknya sedikit kesulitan. Karena lokasi terakhir sinyal yang ada di ponsel milik Vale tak sesuai dengan lokasi akhir Vale berada.


Dan, penyelidikan Max terhadap Vale terus ia lakukan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Malam itu, Vale yang tengah merasa lapar, keluar dari kamar kostnya untuk mencari makanan.


Nasi goreng gerobak akhirnya menjadi pilihan Vale untuk mengisi perutnya yang lapar kalaitu.

__ADS_1


Saat ia sedang membeli nasi goreng, Vale melihat sebuah counter yang menjual sim card. Vale kemudian memutuskan untuk membeli satu nomor telepon baru dari counter tersebut. Ia bermaksud untuk menganti nomor ponsel lama dengan nomor ponsel yang baru.


Karena, nomor ponsel yang lama telah ia buang ke jalanan ketika ia kala itu masih berada di dalam taksi.


Bagaimanapun, Vale harus memiliki nomor ponsel yang baru. Agar memudahkan dirinya untuk menelpon di saat ia sedang dalam masalah emergency.


Setelah nasi goreng yang ia pesan sudah jadi, Vake kemudian membawa nasi goreng yang ia beli ke kamar kost.


Setelah menghabiskan satu brungkus nasi goreng yang sudah lama ia tidak memakannya. Vale kemudian meminum vitamin untuk kandungannya.


Kandungannya yang sedikit rawan membuat dia harus extra berhati hati untuk menjaganya. Oleh sebab itu, Vale belum bisa pergi jauh dari area Jakarta untuk saat ini.


Vale sudah berniat untuk pergi jauh lagi setelah anaknya nanti lahir. Dia tidak mau ambil resiko untuk memaksakan pergi jauh, jika pada akhirnya, hak itu hanya akan membahayakan kandungannya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan bayinya.


Karena tidak lama lagi, kurang lebih 3 Minggu, dirinya akan melahirkan. Itupun jika sesuai dengan prediksi dari dokter yang saat itu memeriksanya. Dan bisa jadi, anaknya akan lahir di awal awal sebelum tanggal prediksi lahir.


Yang Vale konsentrasikan saat ini hanyalah, bersembunyi dari jangkauan Julian. Sambil memikirkan bagaimana dirinya bisa mencari tempat bersalin yang aman, jika dia sewaktu waktu akan melahirkan.


Anak yang saat ini sedang tumbuh dalam kandungannya, benar benar telah merubah segalanya bagi Vale. Bahkan ia tidak pernah menyangka jika dia bisa senekat ini untuk pergi demi bisa bersama dengan calon putri nya.


Menjadi seorang ibu yang tak pernah Valerie duga jika dia bisa melakukan apa saja.


Apartemen


Malam itu Reina baru saja pulang dari toko kue miliknya.


Ketika ia memasuki area dapur, Reina melihat Jenna yang sepertinya sedang membuat segelas susu untuk nya. Reina kemudian mendekati Jenna dan duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan.


"Ma, sudah pulang." sapa Jenna yang saat ini masih mengenakan pakaian kantornya.


"Iya, tadi Mama melihat mobil Julian? Apa dia kemari." tanya Reina.


"Kami pergi ke dokter untuk mengecek kandungan ku Ma." jawab Jenna, yang kemudian ia meneguk satu gelas susu khusus ibu hamil yang ia barusan buat sampai tandas.


"Apa sudah ada titik terang untuk masalah mu. Kapan Julian akan segera menikahimu?" tanya Reina penasaran.


"Dia tetap akan menunggu sampai Vale melahirkan dan sesuai perjanjian kontrak mereka. Dia baru akan menikahi ku setelah anaknya lahir." ujar Jenna yang kemudian ia ikut duduk di kursi yang lain di meja makan.


"Mama masih marah dengan nya. Mama harap kali ini dia tidak bermain-main lagi denganmu. Setelah semua apa yang terjadi. Dan setelah semua apa yang sudah kau terima dari semua masalah yang ia timbulkan. Sebagai seorang wanita, kau sudah cukup bersabar Jen. Mama tidak ingin kamu di lukai lagi oleh Julian. Padahal sebelum menikah, kamu sangat menjaga dirimu, menjaga martabat mu dan juga harga diri mu sebagai wanita. Tetapi Julian telah merusaknya dengan kebohongan yang dengan lihai dia mainkan."ujar Reina yang masih sangat kecewa dengan kelakuan Julian. Yang bagi Reina, ia juga merasa ikut di bohongi.


"Untuk kali ini, Jenna memberikan dia kesempatan Ma. Karena bagaimanapun, Julian adalah ayah dari bayi yang aku kandung saat ini. Apalagi saat ini, Jenna hanya berstatus sebagai seorang istri siri, yang status nya lemah, tidak jelas. Jenna tidak mungkin untuk tidak menuntut Julian. Jenna bagaimanapun harus bisa untuk resmikan hubungan pernikahan kami. Aku harus memberikan status yang jelas untuk anak ku." jelas Jenna pada sang Mama. Memberikan penjelasan kepada sang Mama jika keputusannya masih bertahan di sisi Julian juga karena demi anaknya.

__ADS_1


Tidak mungkin Jenna membiarkan anaknya lahir tanpa status yang jelas. Terlebih ia tidak ingin anaknya tidak mengenali ayahnya juga. Karena ia sendiri sudah mengalami bagaimana rasa nya hidup tanpa pendamping seorang Ayah.


Soal perasaan nya terhadap Julian, meski Jenna juga sebenarnya masih mencintai Julian. Tapi rasa cinta itu kini sudah ternodai oleh kebohongan yang Julian sengaja lakukan pada dirinya.


Sehingga cinta yang ia miliki pada pria yang akan memiliki dua anak itu sudah cacat.


Tapi demi status nya dan juga demi status anaknya. Jenna mengambil keputusan untuk menunggu Julian. Dan siap untuk menghadapi segala resikonya.


Termasuk, ia harus menyiapkan diri untuk menerima anak Julian dari Vale sebagai anak tirinya.


Bagaimanapun Jenna membutuhkan dokumen-dokumen yang penting untuk bisa membuat anak nya jelas statusnya.


Dalam hati, Jenna hanya memberikan kesempatan Julian satu kali ini untuk memperbaiki semuanya.


Jika Julian masih saja tidak berubah dengan sikapnya. Jenna tak akan berfikir dua kali untuk tetap bertahan.


"Kamu harus tegas dalam mengambil sikap Jen. Kau tidak boleh lemah." ujar sang Mama.


"Jenna hanya memberikan satu kali kesempatan untuk Julian. Untuk dapat memperbaiki semua kekacaun yang telah ia lakukan. Jenna memberi dia kesempatan untuk aku bisa melihat, seberapa besar keinginannya untuk mempertahankan dan memperhatikan Jenna dan juga anak nya dalam satu hubungan sebuah keluarga."


Jenna Shamanta







Valerie Florencia





__ADS_1


__ADS_2