Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Bertemu Menantu lainnya


__ADS_3

Keesokan paginya setelah selesai sarapan. Rosaline menyuruh Julian untuk menyiapkan mobil untuknya.


Rosaline berniat untuk menemui Valerie di Penthouse.


Awalnya, Julian menawarkan diri untuk menemani sang Mama.


Akan tetapi Roseline menolak untuk ditemani oleh Julian.


Karena ia memang ingin berbicara empat mata langsung dengan Valerie tanpa ada Julian yang mendampingi.


Akhirnya Julian pun pasrah. Sebenarnya Julian ada satu kekhawatiran yang membuat ia ingin ikut serta saat sang mama ingin menemui Vale.


Julian khawatir jika sang Mama akan berkata yang tidak tidak kepada Valerie. Dan menuduh Vale sebagai wanita nakal atau murahan.


Julian juga sangat tidak ingin Vale dituduh seperti itu. Karena ia sudah sangat mengenali kepribadian Valerie seperti apa.


Karena tidak bisa ikut serta bersama sang Mama pergi ke Penthouse. Julian memutuskan pergi ke apartemen untuk menemui Jenna.


Saat ia sampai di apartemen, ternyata Jenna sudah berangkat ke kantor.


Dan Julian akhirnya hanya bisa bertemu sang Mama mertua.


Kedatangan sang Mama ke Indonesia karena ada campur tangan oleh sang mertua membuat Julian bertanya-tanya.


Julian yang kala itu tidak bisa bertemu dengan Jenna kemudian berbincang dengan sang Mama mertuanya.


Awalnya, Julian bertanya pada Reina apa yang sudah mama mertuanya itu katakan pada Mamanya.


Reina pun kemudian dengan jujur mengatakan semua hal yang berkaitan dengan retaknya hubungan sang putri dengan Julian.


Reina mengaku telah menceritakan pada Roseline tentang pernikahan kontrak itu, bahkan juga mengatakan jika Vale telah hamil.


Tapi Reina tidak bilang jika Jenna kini juga sedang hamil.


Ia masih merahasiakan hal itu pada Julian.


"Sebelumnya Mama minta maaf karena telah lancang membuka rahasia mu. Ini sebenarnya juga bukan wewenang Mama untuk mengatakan pada Mama mu. Tapi makin kesini Mama liat, kamu sendiri tidak ada usaha untuk memperbaiki masalah." tuduh Reina pada julian.


"Julian sudah berusaha Ma, tapi Jenna justru memblokir nomor ponsel ku dan selalu menghindari ku. Julian sudah mengatakan semuanya pada Jenna.


"Masalahnya tidak sesederhana itu Julian. Masalah yang kau timbulkan tidak hanya soal pernikahan rahasia mu. Tapi ini juga tentang masa depan putri ku. Memangnya Jenna akan siap untuk menerima anak mu dari wanita lain. Apa kau tidak memikirkan hal itu. Kau terlalu menggampangkan soal pengasuhan anak mu. Misal kau masih tetap bersama Jenna, apa kau tidak memikirkan sikisnya?" ujar Reina bertutur tegas pada Julian.


"Mama sangat tau sifat Jenna. Yang Jenna kecewakan terhadapmu bukan hanya masalah pernikahan kontrak itu saja. Kebohongan mu telah membuatnya terluka Julian. Sama sama sebagai seorang wanita. Jenna pasti mempunyai perasaan yang tidak ingin saling melukai perasaan sesama wanita, termasuk dengan istri sah mu Valerie. Saat ini kenapa Jenna memilih mundur, karena ia memposisikan dirinya yang hanya sebagai istri siri."


"Hanya sebagai istri siri sementara Ma. Harus berapa kali Julian jelaskan, jika Julian dan Valerie hanya menikah kontrak. Pernikahan kontrak kami sebentar lagi akan berakhir, dan saat itu juga Julian akan mengurus pernikahan ku dengan Jenna secara hukum."


"Istri siri sementara, mana ada seperti itu Julian. Kau terlalu egois untuk memiliki Jenna kala itu."


"Maafkan Julian Ma, Julian tau, saya telah salah." uangkap Julian, yang tidak ada ada hal lain selain minta maaf.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Ketika Rosaline sudah sampai di Penthouse. Dirinya di sambut oleh Naina dan juga Aise.


Julian sudah memberitahu Naina dan juga Aise sebelumnya jika sang Mama akan datang ke Penthouse.


Naina mempersilahkan Roseline untuk duduk di ruang tengah. Sedangkan Aise naik ke lantai dua untuk memanggil Valerie.


Valerie yang di beri tau oleh Aise ada Roseline, sang Mama dari Julian merasa sangat kaget mendengar hal itu.


Pasalnya ia tidak pernah bermimpi untuk bertemu dengan Mamanya Julian.


Berbagai perasaan panic dan juga tidak siap untuk bertemu dengan Roseline membuat Vale di landa kegugupan.


Ia bigung harus berbuat apa dan bersikap bagaimana.


Vale kemudian meraih ponselnya dan berniat untuk menghubungi Julian. Menanyakan tentang Mamanya yang datang ke Penthouse.


Belum sempat Vale menelpon Julian, satu buah pesan singkat terpampang di layar ponsel nya. Dan pesan itu dari Julian.


Dalam pesan itu Julian memberitahukan pada Vale jika sang Mama akan menemuinya.


Dan dalam pesan itu juga Julian berpesan kepada Valerie untuk menjawab semua pertanyaan sang Mama apa adanya.


Dan mengatakan sejujur-jujurnya perihal pernikahan kontraknya.


Akhirnya, dengan menghela nafas panjang. Vale mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Roseline.


Valerie kemudian membuka pintu kamar dan menuruni anak tangga dengan langkah pelan.


Kemudian ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok wanita yang ingin bertemu dengannya.


Ia kemudian menangkap sosok wanita paruh baya yang kala itu tengah memandangi sebuah lukisan yang ada di ruang tengah.


Valerie pun kemudian berjalan pelan untuk mendekati wanita itu.


"Selamat pagi," sapa Valerie, bersuara dengan lembut menyapa Roseline.


Rosaline kemudian langsung menoleh kearah sumber suara.


Dan kini Roseline telah melihat sendiri seseorang yang di sebut sebagai istri kontrak Julian, puteranya.


Sejenak, Roseline memperhatikan Valerie dari ujung kepala hingga kaki.


Seorang wanita muda yang begitu cantik, berkulit putih bak batu pualam. Dengan rambut sedikit pirang dan perut yang sudah membuncit besar.


Kesan pertama yang Roseline tangkap saat itu hanyalah. Ia melihat seseorang wanita muda yang tengah hamil besar dengan tatapan mata sayu.


Wajah Vale yang teduh dan kalem itu langsung membuyarkan semua prediksi Roseline yang berfikir buruk tentang Vale.


Sehingga Roseline memilih untuk bersikap tenang dan tidak mau gegabah dalam persepsinya.


"Hai, Valerie. Aku Roseline, mamanya Julian. Senang akhirnya aku bisa bertemu dengan mu." ujar Roseline dengan nada ramah.

__ADS_1


Vale sendiri pun tidak menyangka jika reaksi Roseline ternyata hangat padanya.


Padahal, tadi dia sudah siap dan menyiapkan mental untuk menerima berbagai tuduhan dan juga hinaan.


Karena pasti dirinya akan di cap buruk karena mau menerima tawaran rahim bayaran dan juga istri kontrak.


"Silahkan duduk," ucap Vale mempersilahkan Roseline untuk duduk di sebuah sofa pajang yang ada di ruang tengah.


Mereka berdua pun akhirnya sama sama duduk di satu baris sofa yang ada di ruang tengah.


"Oya, aku lupa memperkenalkan diri. Saya Valerie, Valerie Florencia." ucap Vale lembut dan di balas senyum manis oleh Roseline.


"Sudah berapa bulan?" tanya Roseline santai.


"Sekarang masuk bulan ke-7" jawab Vale lembut dan singkat.


"Apa ada keluhan selama hamil?" tanya Roseline ingin tau.


"Tidak, dia bayi yang pintar." jawab Vale dengan kalimat pendek dengan lembut.


Roseline pun untuk sesaat menghela nafas panjang.


Sebenarnya, tadi ia ingin banyak sekali langsung menodong Vale dengan berbagai pertanyaan.


Tapi entah kenapa ia kemudian mengurungkan semuanya.


Dan malah berbicara santai dengan Valerie, yang sebenarnya Vale juga telah menjadi mantunya.


Setelah beberapa saat mengobrol santai. Roseline pun akhirnya sampai pada satu obrolan yang membahas tentang rahim bayaran dan pernikahan kontrak itu.


Dan sesuai perintah Julian, Vale pun menceritakan semua tentang bagaimana pernikahan kontrak nya dengan Julian bisa terjadi.


Dan apa alasan yang membuat ia menerima tawaran Julian untuk bersedia hamil anaknya pun di ceritakan Vale pada Roseline apa adanya.


Tanpa ada yang di tutupi. Bahkan, Vale juga mengaku bahwa ia telah jatuh cinta dengan Julian.


Rosaline mendengarkan dengan baik semua cerita Vale.


Bahkan, kehidupan Vale yang seorang yatim-piatu pun di ceritakan pada Roseline.


Tidak hanya itu, Vale juga bercerita tentang dirinya yang masih kuliah dan ingin mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri.


Roseline kini benar-benar bigung harus bersikap tegas bagaimana.


Naluri hatinya mengatakan, jika dia menilai Valerie sebenarnya adalah wanita baik dan terpelajar.


Terlepas dari dia menerima tawaran Julian untuk bersedia di hamili dengan iming-iming uang dan sejumlah fasilitas fantastis.


"Jika Tante ingin mengecap ku sebagai wanita yang buruk, itu hak Tante. Saya juga tidak keberatan jika di sebut wanita murahan dan matrealistis." ungkap Vale jujur.


"Apakah aku ada bilang seperti itu Valerie." ucap Roseline tersenyum.

__ADS_1


"Jangan panggil aku Tante, pangil aku Mama mulai sekarang!" seru Roseline.


Dan hal itu cukup membuat Valerie terbengong.


__ADS_2