Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Jenna & Valerie


__ADS_3

Setelah pembicaraan bersama di meja makan selesai. Jenna yang saat itu hendak kembali pulang ke Apartemen dicegah oleh Julian.


Julian menginginkan Jenna untuk menginap di Mansion malam itu.


Karena Roseline juga mencegah Jenna pulang malam itu, akhirnya Jenna pun menurut.


Seusai makan malam, Roseline pamit undur diri dari ruang makan. Ia sengaja ingin cepat-cepat meninggalkan ruang meja makan agar bisa memberikan privasi kepada mereka bertiga.


Mungkin saja mereka bertiga masih ada beberapa hal penting yang harus dibicarakan.


Untuk sesaat, Julian, Jenna dan juga Valerie saling diam di kursi mereka masing-masing.


Julian kemudian berdehem untuk memecah kebisuan.


"Hemmmmm, aku buatkan kalian susu ya." ujar Julian yang kemudian ia berlalu ke dapur untuk membuatkan Jenna dan juga Vale susu hamil.


"Semoga kehidupan pernikahan kalian akan harmonis dan bahagia. Kalian akan di kelilingi oleh anak-anak kalian yang lucu dan pintar. Dan putriku nanti akan punya saudara. Di saat usianya belum genap satu tahun, dia sudah akan menjadi seorang kakak." ujar Vale yang kemudian tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang ia paksakan. Jenna pun kemudian ikut tersenyum.


"Kenapa kau menyerah untuk memberikan anak mu pada Julian Vale, terlepas kau memang ada perjanjian dengannya?" tanya Jenna.


"Ada beberapa alasan yang tidak bisa aku utarakan dan jelaskan, kenapa aku menyerahkan anak ini pada Julian." jawab Vale.


"Semoga setelah ini, kau bisa menata hidup mu dengan semangat kembali." ujar Jenna memberikan semangat.


"Terimakasih Jen. Jangan khawatir, Julian pasti akan segera melegalkan pernikahan kalian secara sah setelah perjanjian pernikahan kontrak kami selesai. Dia hanya mencintai mu."


Mendengar itu, Jenna mendesah dan tersenyum tipis.


"Kerumitan yang terjadi antara diri ku dan Julian bukan hanya soal cinta Valerie. Tapi kerumitan ku dengan nya terjadi disebabkan oleh Julian sendiri. Dia sudah membohongiku dengan pernikahan rahasia kalian. Dalam hal ini aku sama sekali tidak menyalakan mu. Karena kau sendiri pun tidak tahu-menahu. Dan kini, dari hasil pernikahan kalian sudah ada anak. Bahkan Julian sendiri sangat kekeuh menginginkan anak yang saat ini masih kau kandung. Kau tau, dia sebelum melakukan transaksi rahim bayaran dengan mu, ia juga pernah menawarkan itu pada ku. Tapi aku menolak. Aku sebenarnya sudah sangat lama mengenal Julian, tapi barulah saat ini kami saling ada rasa tertarik. Dan kemudian terjadilah semua ini." ujar Jenna.


"Dia memang brengsek." ujar Vale dengan lantang sambil tersenyum sinis. Kemudian Vale mengalihkan pandangannya ke arah dapur. Melihat Julian yang tengah membuat susu. Ia berharap Julian mendengar ucapannya tadi.


Jenna kemudian juga ikut menoleh ke arah dapur.


"Aku ingin bertanya dengan mu satu hal Vale. Aku harap kau menjawabnya dengan sejujur-jujurnya." ujar Jenna serius.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Vale penasaran.


"Apakah kau mencintai Julian?" tanya Jenna, memandang wajah Vale dengan serius.


Valerie kemudian berpikir, jika dia mengatakan kejujuran tentang perasaannya pada Jenna, jika ia memang mencintai pria tampan itu, maka masalah baru akan muncul.


Dan oleh ada sebab itu, Vale memutuskan untuk berbohong kepada Jenna tentang perasaannya pada Julian.


"Aku tidak mencintai nya, hubungan kami hanyalah hubungan bisnis."

__ADS_1


"Sejak kau di nikahin sah oleh Julian, berapa lama jarak kau saat itu positif hamil." tanya Jenna lagi, dan pernyataan itu sedikit mengarah ke hal pribadi.


Karena Jenna sudah bertanya maka Vale pun menjawab.


"Kurang lebih dua minggu." jawab Vale tegas.


"Hemmmmm, apa yang sedang kalian bicarakan? Pasti membicarakan aku." ucap Julian yang kala itu sudah datang dengan membawa dua gelas susu hamil untuk diberikan pada Jenna dan juga Vale.


Vale dan Jenna kemudian saling tatap.


"Minumlah susu ini, aku ingin anak anak ku sehat." ucap Julian. Jenna dan Valerie pun kemudian meminum susu yang sudah di buatkan Julian.


"Sudah malam, sebaiknya kalian istirahat." ucap Julian memerintah.


"Kalau begitu aku pamit untuk beristirahat." ucap Vale yang kemudian berinsut dari kursinya.


"Kau tidur dimana Vale?" tanya Jenna.


"Tentu saja aku akan tidur di kamar ku sendiri. Aku tidur di kamar tamu." jawab Vale.


"Kalau begitu aku juga akan tidur di kamar tamu yang lain" ucap Jenna pada Julian.


"Kenapa kau harus tidur di kamar tamu Jen. Kau bahkan Nyonya di rumah ini. Kau adalah nyonya Alexander yang sebenarnya. Kau adalah istri Julian yang sebenarnya, jadi temani lah Julian tidur di kamar utama kalian. Bukankah kau sebelumnya juga sudah tinggal di sini." dan perkataan Vale itu membuat Julian dan juga Jenna tertegun.


Sejenak baik Julian maupun Jenna, memperhatikan langkah Vale yang kala itu sedang menuju kamar tamu.


"Ayo kita ke kamar," ucap Julian sambil menarik tangan Jenna. Mereka berdua pun akhirnya naik ke lantai dua, ke kamar utama.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Bersihkanlah diri mu, aku akan siapkan baju tidur untuk mu." ucap Julian pada Jenna yang saat itu sudah berada di dalam kamar mereka.


Jenna kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Karena saat ia pulang kantor tadi sore ia langsung menuju Mansion.


Saat Jenna sudah selesai dari kamar mandi. Julian sudah menunggu Jenna di tempat tidur.


"Selamat datang kembali ke rumah sayang." ucap Julian, menyambut Jenna yang saat itu telah duduk di rajang mereka.


"Aku hanya akan menginap untuk malam ini saja. Selama kamu belum meresmikan hubungan kita. Maaf Julian, aku belum bisa benar-benar kembali ke rumah ini. Apalagi saat ini di sini ada Valerie. Sebaiknya kau fokus untuk nya saat ini. Aku tidak apa apa, dia butuh banyak dukungan dan juga perhatian." ucap Jenna nampak tulus. Julian kemudian berfikir.


"Benar kau tidak apa apa?"


"Lalu aku harus bersikap bagaimana. Kau ini tidak paham dengan perasaan wanita!" seru Jenna yang kemudian perasaannya berubah menjadi kesal pada Julian.


Julian kemudian bergerak untuk berada lebih dekat dengan Jenna.

__ADS_1


"Maaf, maaf kan aku. Setelah ini aku tidak akan menyakiti mu lagi." ucap Julian yang kemudian mengecup kening Jenna dengan lembut dan sayang, ia tau Jenna saat ini sedang merajuk.


"Ayo kita tidur." ajak Julian.


Julian dan Jenna pun kemudian saling merebahkan diri mereka ke tempat tidur.


"Apa luka mu masih sakit?" tanya Jenna yang ini sudah berbaring di pelukan Julian.


"Sedikit," jawab Julian


"Demi Valerie dan juga bayi itu kau bahkan rela tertembak dan tak peduli dengan nyawa mu sendiri. Apa itu artinya?"


"Itu tindakan reflek Jen. Kau pikir apa. Mana mungkin aku membiarkan bayi ku yang ada di dalam kandungan Vale terancam. Penjahat itu sengaja mengarahkan pistolnya ke perut Vale. Dan aku tidak akan membiarkan bayi ku dalam bahaya." jelas Julian.


"Ku rasa kau melakukan itu tidak hanya untuk melindungi bayi mu. Tapi juga kau ingin melindungi Valerie. Kau memasang badan untuk mereka."


Julian kemudian menghela nafas panjang, ia tau seperti nya Jenna cemburu.


"Jika saja saat itu kau yang berada di posisi Vale, meski aku tidak berharap kau berada dalam posisi itu. Aku akan melakukan hal yang sama. Aku akan melindungi mu dan juga bayi kita. Kau tidak tau saja sayang, kalian berarti bagi ku." ucap Julian yang kemudian ia merubah posisi tubuh nya untuk bisa memandang wajah Jenna dengan intens.


"Kau sepertinya masih ragu, jika aku hanya mencintai mu?" tanya Julian.


"Kau ini pria yang lihai bersikap manis Julian." jawab Jenna. Julian kemudian terkekeh.


"Kau cemburu?"


"Aku kasihan pada Valerie." jawab Jenna.


"Kenapa."


"Aku melihat, ada sorot perasan cinta yang mungkin ia rasakan dengan mu. Entahlah, aku merasakan itu."


"Hubungan ku dengan Vale hanya sekedar hubungan bisnis."


"Tapi kalian juga bercinta kan. Maaf jika aku membahas ini. Meski hal itu sudah berlangsung lama. Tapi aku lebih baik utarakan ini agar aku tidak ada ganjalan kedepannya. Dan selama kau membuat Vale hamil, kau pasti terlibat hubungan itu, bukankah itu melibatkan perasaan dan emosional." ucap Jenna.


"Jen,"


"Aku hanya ingin tau bagaimana perasaan mu saat itu."


Julian tertegun sambil memandangi wajah Jenna dengan pandangan dalam.


"Ya, kami memang melakukan itu. Hanya beberapa kali. Aku tidak melibatkan perasaan dan emosional ku. Saat itu kami hanya melakukan hubungan intim hanya karena memang Vale harus hamil. Sudah ya, jangan bahas itu. Yang jelas, setelah Vale hamil, kami sudah tidak melakukannya lagi. Dia dia Penthouse dan aku kembali ke Mansion. Dan pada akhirnya aku bertemu dan jatuh cinta dengan mu."


__ADS_1


__ADS_2