
Sesampai Valerie di tempat kostnya. Ia langsung bergegas mengambil sebuah koper yang ia simpan di atas lemari baju.
Kemudian, Valerie membuka koper tersebut dan ia mulai berkemas.
Sejenak, Valerie mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan kamar kost. Bagaimanapun, kamar itu telah menjadi bagian dari hidup Valerie.
Dia banyak menghabiskan waktunya berada di kamar kost itu.
Tempat ia melepaskan lelahnya, tempat ternyaman baginya, tepat tingal yang menjadi saksi ia selama ini berjuang untuk hidup mandiri.
Rasanya, Valerie begitu berat jika harus meninggalkan kamar kost tersebut. Dan ia tidak rela jika kamar itu nantinya akan di tempati oleh orang lain.
"Di sinilah aku selama ini belajar tentang, betapa hidup akan terus berjalan dan aku harus tetap berjuang untuk bisa hidup lebih baik. Tempat ini spesial untuk ku. Dari sini aku menjadi orang yang mandiri."
"Dari tempat ini aku belajar untuk bertahan walau susah. Dan di tempat ini aku belajar bahwa setiap kerja keras itu tidak ada yang sia sia."
"Selama aku hidup sendiri dan mandiri. Aku begitu menikmati waktu yang ku jalani. Pergi bekerja, kuliah, pergi dengan beberapa temen dekat. Dan kadang aku hanya tiduran sepanjang hari di waktu libur."
"Aku sangat menikmati hidup bebas ku. Menikmati setiap helaan nafas yang keluar dari hidung dan mulut ku. Aku bebas, lepas, dan bahagia."
"Itulah aku, itulah hidup ku, sebelum diri ini mengenal seseorang yang bernama Julian Alexander. Yang menawari ku kemewahan dan kemudahan hidup yang selama ini aku inginkan. Yang aku pikir, jika aku bisa hidup bahagia dan lebih baik jika aku banyak uang."
"Tetapi, setelah aku memiliki segalanya, hampir. Dan di saat yang bersamaan aku jatuh cinta pada pria itu setelah kami saling terikat perjanjian. Hidup ini rasanya berubah."
"Hati ku bahagia hanya dengan melihat wajahnya. Jiwa ku bergetar saat aku ada di dekatnya. Diri ini merasa senang saat ia mengajak ku berkomunikasi. Dan hal hal yang luar biasa yang lain yang membuat aku senang ada pada dirinya."
"Tapi, saat aku harus menerima kenyataan bahwa, hubungan ku dengan nya hanya sebatas kerja sama yang saling membutuhkan dan menguntungkan (simbiosis mutualisme). Aku tidak berdaya dengan cinta ku. Yang bahkan sebenarnya, Julian adalah cinta pertama ku."
"Aku tidak pernah jatuh hati pada seseorang sedalam ini. Karena perjanjian itu, aku harus tetap merahasiakan perasaan ku sendiri. Hanya ada satu keajaiban yang bisa membuat cinta ku tidak bertepuk sebelah tangan. Jika, Julian sendiri juga mencintai ku."
__ADS_1
"Tapi apakah ia akan jatuh cinta pada ku?"
"Apakah aku layak untuk nya?"
"Apa yang harus aku lakukan demi perasaan yang aku rasakan padanya!"
"Apakah diam diam aku harus bisa membuat nya jatuh cinta pada ku?"
Bukannya berkemas, Valerie justru malah melamun. Bergumam dengan dirinya sendiri.
"Persetan dengan semuanya, persetan dengan cinta. Hidup ku tidak serumit ini saat aku belum jatuh cinta. Tapi aku harus berfikir realistis. **** with love, hamil lah dengan segera Vale. Ambil uang mu dan pergi." ucap Valerie menyemangati dirinya.
Dan ia pun kembali melanjutkan aktivitas berkemasnya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Menghentikan mobilnya tepat di sebrang jalan. Julian menoleh ke arah tempat kost an Valerie. Ternyata Julian menyusul istri kontrak sampai ke kostan.
Setelah beberapa saat menunggu, wanita yang ia tunggu-tunggu akhirnya muncul.
Valerie yang berpakaian kasual, keluar dari gerbang kost-an nya sambil mendorong satu buah koper. Julian kemudian buru buru keluar dari mobil nya dan langsung menyebrang ke arah Vale.
"Valerie," suara yang lembut dan khas itu terdengar oleh Vale. Tau siapa sang pemilik suara itu membuat Vale langsung menoleh kearah sang pemilik suara.
"Julian, kau di sini!" seru Vale.
"Aku datang untuk menjemput mu." jawab Julian lembut. Yang kemudian dengan begitu gentle, meraih handle koper yang tadi di pegang oleh Vale.
"Tidak usah, biar aku yang bawa." ucap Vale.
__ADS_1
"Jangan keras kepala, biarkan aku yang bawa koper mu." ujar Julian lembut.
"Ayo, menyebrang." ajak Julian. Yang kemudian menarik pergelangan tangan Vale di satu sisi tangannya. Dan satu sisi tangannya yang lain ia menawarkan koper milik Valerie.
Setelah mereka sampai di samping mobil mewah Julian. Julian langsung membukakan pintu penumpang untuk Vale. Setelah Valerie masuk ke dalam mobil. Julian kemudian bergegas untuk memasukkan koper yang ia bawa tadi ke bagasi mobil belakang nya.
Setelah itu, ia kembali ke mobilnya dan mengemudikan kendaraannya.
"Kenapa tak menelpon ku?" tanya Valerie.
"Aku tidak sempat telepon.Tadi aku ada rapat, biasalah, setiap hari kerjaan ku selalu rapat. Minggu depan aku juga akan pergi untuk kunjungan pekerjaan di Bali."
"Berapa lama?" tanya Vale ingin tahu.
"Mungkin satu Minggu." jawab Julian jujur.
"Semoga sukses."
"Terimakasih Vale, aku sudah sukses, tapi doa mu baik, aku Aamiin kan." jawab Julian sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Please, jangan tersenyum manis seperti itu padaku Julian. Desis Valerie dalam hati.
"Oya, aku harap, selama aku tingal satu Minggu nanti. Dan pas di saat aku kembali dari luar kota. Aku sudah bisa mendengar kabar gembira dari mu." ujar Julian.
"Maksud mu?" tanya Vale bigung dan tak paham dengan kabar gembira yang Julian maksudkan.
"Kabar gembira jika kau sudah positif hamil." Valerie langsung menoleh ke arah Julian.
"Apa bisa secepat itu, kita baru sekali melakukannya." jawab Vale.
__ADS_1
"Kita akan making love setiap malam selama aku belum pergi keluar kota." jawab Julian. Dan jawaban itu membuat Valerie melongo.