
"Apa tugas kuliah mu sedang banyak? tanya Julian yang tau tau sudah ikut masuk di kamar.
"Aku sedang mengerjakan tugas skripsi sekarang." jawab Vale yang saat itu duduk di tepian ranjang sambil melepaskan sepatunya.
"Kapan kau berhenti kuliah? Maksudku, kapan semester mu selesai?" tanya Julian berbasa-basi.
Sebenarnya Julian hanya ingin mengajak Vale mengobrol. Dia merasakan sesuatu yang hilang dari diri seorang Valerie.
Vale yang ia kenal sangat ceria, ceplas-ceplos, manja dan juga berani.
Julian merindukan sifat manja yang Vale kerap lakukan pada dirinya seperti dulu.
Saat ia manja, Julian seperti menjadi pria yang sangat di butuhkan.
Berbeda dengan Jenna yang tidak manja dengan dirinya. Jenna justru sangat mandiri. Dua hal berbeda yang Julian sukai dari kedua wanita yang ia nikahi.
Vale yang dulu selalu berani menunjukkan keinginan. Bahkan selalu merayu nya yang akhirnya dia pun luluh dan menuruti semua keinginan Valerie.
Tapi sejak Vale mengetahui dirinya telah menikah siri dengan Jenna. Sifat manja dan ceria Valerie seakan hilang.
__ADS_1
Berubah menjadi dingin serta irit bicara. Bahkan Vale tak pernah sekalipun mengirimkan pesan atau menghubungi dirinya lagi.
"Vale, apa kau tidak malu, jika nanti perut mu membuncit dan kau tetap kuliah." ujar Julian, mendengar pernyataan itu, Vale langsung bereaksi. Vale melayangkan pandangan ke arah Julian dengan tajam.
"Memangnya kenapa? Aku hamil toh dengan suami ku sendiri. Tidak perlu juga kan, mengatakan pada mereka aku menikah kontrak. Tidak perlu juga kan aku mengatakan pada mereka, bahwa seorang CEO kaya raya Julian Alexander sedang membeli rahim bayaran dari seorang wanita bartender Valerie Florencia. Yang kau butuhkan dari dulu hanyalah anak, keturunan. Iya kan Julian. Aku sudah memberikannya saat ini untuk mu. Jadi jika saat ini aku hamil, kenapa aku harus malu." jawab Vale tegas.
Julian tertegun mendengarkan ocehan Vale. Sepertinya Vale saat ini sedang tersinggung dengan ucapannya tadi.
Dan akhirnya, Julian memutuskan untuk tetap bersikap tenang dan juga sabar menghadapi Vale yang sedang emosional. Dan juga menyadari jika pernyataan tadi itu memang salah.
"Vale, aku tidak berniat apa apa. Aku hanya menanyakan. Ya sudah, tidak usah di bahas lagi."
"Maaf jika perkataan ku menyinggung mu Vale. Aku minta maaf ya. Maksud ku hanyalah, aku ingin kau hati-hati."
"Kau tenang saja, aku yang mengandungnya. Aku yang merasakan semua rasanya. Toh aku sudah berjanji dengan janin ini bahwa aku tidak akan menyakitinya lagi. Jika kau sayang dengan nya, aku pun sekarang juga akan menyayangi bayi ini. Waktu ku hanya 9 bulan denganya." ucap Vale kemudian di menyentuh perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Aku sudah kehilangan kehormatan ku Mr Julian Alexander. Aku tidak mau lagi kehilangan kesempatan punya pendidikan yang bagus yang bisa aku banggakan. Setidaknya aku bisa bangga untuk diri ku sendiri. Aku tidak punya orang tua, aku tidak punya saudara, aku hanya punya diri ku sendiri. Bahkan anak yang tumbuh di rahim ku ini saja sudah menjadi milik mu. Jadi, berikan aku kesempatan untuk tetap berkuliah sampai aku lulus."
"Aku mengizinkan mu Vale. Bahkan tawarkan untuk membiayai kuliah mu ke luar negri pun masih berlaku untuk mu. Setelah kau lulus dan setelah kau melahirkan. Kau bisa meneruskannya pendidikan kuliah mu keluar negri. Pilih saja universitas yang kau inginkan. Aku akan mengurusnya."
__ADS_1
"Terimakasih, untuk itu. Sebaiknya kamu sekarang pulang. Ini sudah malam, jangan sampai istri tercinta mu mencari mu. Sedangkan kau malah sibuk di rumah istri kontrak mu." sindir Vale.
Julian pun tersenyum mendengar celotehan Vale. Kemudian Julian menghampiri Valerie yang saat itu tengah berdiri di samping jendela kaca di kamar.
"Bukankah kau juga istriku, justru kau malah istri sah ku." sindir balik Julian.
"Itu tidak lucu, tapi harus aku akui, dia sangat beruntung dicintai. Sedangkan aku," Vale kemudian tidak meneruskan kata-katanya.
Karena sampai saat ini pun dia masih berjuang untuk menghapus rasa cintanya ada Julian.
Julian terdiam, termenung sejenak. Dia tidak ingin begitu menanggapi perkataan Vale yang membahas tentang perasaan.
"Kau tau kan Vale, aku sungguh sayang padamu. Terlepas dari apapun, aku memang sudah sayang dengan mu. Kita sudah punya keterikatan. Meski aku tidak bisa membalas cinta mu, tapi kau tau kan aku memang sayang dengan mu."
"Iya aku tau, kau sayang dengan ku. Dan itu sudah cukup bagi ku. Aku tidak akan meminta lebih."
__ADS_1