
Dengan diantar oleh seorang sopir perusahaan. Valerie yang saat itu berada di mobil dan sedang menuju kantor Julian Corp, terlihat sedikit sibuk mengecek beberapa berkas yang ada di laptopnya.
Ia saat ini sedang akan melakukan negosiasi proposal kerjasama antara perusahaanya dengan perusahaan Julian Corp.
Sepanjang perjalanan menuju kantor Julian, Vale dalam hati berusaha untuk bisa bersikap profesional.
Valerie ingin menunjukan jika dirinya saat ini bisa bersikap profesional. Meski antar dirinya dan juga Julian serta Jenna punya masa lalu yang saling berkaitan. Dan bahkan antara dirinya dan Julian adalah orang tua bagi Elenor.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 40 menit dari kantornya. Valerie kini telah sampai di The building Alexander Corp.
Dimana gedung perkantoran itu adalah gedung perkantoran milik Julian.
Jenna pun juga berkantor di gedung tersebut. Ia menjabat sebagai komisaris anak salah satu perusahaan milik Julian yang bergerak di bidang properti.
"Excuse me, saya Valerie Florencia, manager dari perusahaan Anabatic Technologies. Hari ini saya sudah ada janji dengan Pak Julian dan juga Bu Jenna Shamanta untuk meeting. Bisa tolong sampaikan pada sekertaris Pak Julian jika saya sudah sampai di kantor." ucap Vale dengan ramah pada seorang petugas resepsionis.
"Baik, tunggu sebentar ya Bu. Akan saya sampaikan pada sekertaris Pak Julian jika anda sudah tiba" jawab dengan ramah petugas resepsionis tersebut pada Vale. Valerie pun membalas dengan tersenyuman.
"Bu Valerie, silahkan naik ke lantai 10 gedung. Di sana sudah ada Bu Diana yang sudah menunggu anda. Tepatnya di ruang meeting room ya Bu." jelas seorang resepsionis itu.
"Oke, saya akan kesana. Terimakasih untuk informasinya, selamat siang."
Valerie kini berjalan ke arah lift dan ia segera menuju lantai 10 gedung.
Sesampainya di lantai 10, Vale yang baru saja keluar dari lift langsung di sambut oleh Diana, sekertaris Julian.
"Bu Valerie," sapa Diana.
"Ya, saya sendiri."
"Selamat datang di kantor kami, saya sudah atur jadwal anda untuk meeting dengan Pak Julian dan juga istri nya Bu Jenna jam 2 siang. Saat ini masih jam 1:30. Pak Julian masih ada rapat di lantai 7, oleh sebab itu, mari saya tunjukan tempat meeting nya. Bu Valerie bisa menunggu di sana. Sambil menunggu Pak Julian selesai meeting." jelas Diana pada Vale.
"Baiklah, saya akan menunggu"
Diana pun kemudian mengajak Vale untuk menuju ruang meeting di ruangan itu.
"Pak Julian dan Bu jenna akan segera datang kemari. Tunggu sebentar ya, saya kan ambillah minuman untuk anda." ucap Diana ramah.
Valerie yang saat itu mengenakan pakaian kantornya nampak begitu cantik, anggun dan terlihat sangat elegan.
__ADS_1
Vale yang saat ini sedang duduk menunggu kedatangan Julian dan juga jenna, memilih untuk mengecek ponselnya.
Vale melihat lihat foto Elenor yang ada di galeri ponselnya. Makin hari putri nya itu nampak semakin cantik dan bertambah besar. Elenor tumbuh menjadi gadis kecil yang memiliki kecantikan rupawan.
Menurut Vale, wajah Elle lebih mirip dengan Papanya dari pada dirinya. Membayangkan itu, Vale pun tersenyum. Di hati nya saat ini hanya ada Elenor dan Elenor.
"Kau cantik sekali sayang, Mommy sangat mencintai mu." ucap Vale, yang sedang mengagumi kecantikan putrinya.
Setelah menunggu beberapa saat, Julian dan Jenna memasuki ruangan.
Vale yang saat itu duduk pun kemudian langsung berdiri dan menghadap ke arah Julian dan Jenna yang saat itu telah tiba.
"Selamat siang Pak Julian, Bu Jenna." sapa Vale terlebih dahulu memberikan salamnya.
"Selamat siang Valerie." jawab Jenna sambil tersenyum.
Sejenak, ada aura ketegangan yang melingkupi mereka bertiga.
"Hem, pertama tama, perkenalkan, saya Valerie Florencia. Saya manager pemasaran di perusahaan Anabatic Technologies. Saya ditugaskan oleh perusahaan tempat saya bekerja untuk menawarkan sebuah proposal kerjasama dengan perusahaan milik anda, Julian Corp." ucap Vale dengan nada suara tegas dan lugas sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Julian dan Jenna saling menoleh. Kemudian jenna mengulurkan tangannya terlebih dahulu untuk menjabat tangan Vale. Dan kemudian di ikuti oleh Julian.
Lalu mereka bertiga duduk di sebuah kursi untuk melakukan meeting.
"Perusahaan kami menawarkan kerjasama untuk pengadaan jaringan internet dalam pembangunan Villa dan sejumlah proyek apartemen yang akan Anda bangun di kota Bogor dan Bandung. Kami di sini mengajukan dan menawarkan untuk kerjasama dalam pengadaan alat-alat elektronik dan juga jaringan internet serta komputer untuk proyek anda."
Valerie kemudian menunjukkan proposal yang sudah ia susun sebelumnya kepada Julian dan Jenna.
Julian dan Jenna pun kemudian memeriksanya.
"Bagaimana menurutmu." tanya Jenna pada Julian, setelah beberapa saat mereka telah mempelajari proposal tersebut.
"Penawarannya bagus, tapi aku belum pernah melakukan kerjasama dengan perusahaan itu. Aku akan tetap melanjutkan kerjasama ku dengan perusahaan sebelumnya." jawab Julian.
"The point is?" tanya Jenna lagi.
__ADS_1
"Aku menolak ini. Mungkin lain kali untuk proyek yang lain." jawab Julian pada Jenna, Vale yang saat itu memperhatikan pasangan suami-istri yang sedang berdiskusi itu pun kemudian menginterupsi.
"Tapi ini bisa buat bahan pertimbangan Pak Julian. Karena kami tentu saja punya beberapa keunggulan dari perusahaan yang lainnya. Kami akan memberikan penawaran spesial jika perusahaan anda mau bekerja sama dengan perusahaan kami." imbuh Valerie, Valerie begitu profesional dalam menjalankan tugasnya saat itu. Baik Jenna dan juga Julian dalam hati begitu surprise dengan sikap dan perubahan Valerie.
"Iya, tapi aku rasa, aku belum bisa menerima proposal ini." ucap Julian tegas.
Wajah Vale kini berubah kecewa. Tapi Jenna nampak mempertimbangkan sesuatu.
"Tapi aku setuju Julian." seru Jenna pada Julian.
"Jen," seru Julian yang nampak tidak setuju dengan keputusan sang istri.
"Selama kita belum menandatangani kontrak perjanjian kerjasama dengan mereka. Aku rasa kita bisa menerima proposal kerjasama yang di tawarkan Valerie." ucap Jenna.
"Jangan ambil resiko Jen."
"Resiko apa maksud mu. Perusahaan tempat Vale bekerja ini juga bukan perusahaan sembarangan Julian. Kita harus profesional. Ini bukan soal karena Vale," Jenna tak meneruskan kata-katanya. Vale hanya diam di tempatnya saat kedua pasangan suami-istri itu sedang berdiskusi.
"Ini adalah tentang keprofesionalan dalam bisnis dan pekerjaan. Aku mau ambil kerjasama itu. Karena aku telah memikirkan dan mempertimbangkan berbagai keuntungan dalam kerjasama ini. Proposal yang ditawarkan ini sangat bagus. Jika kita bisa menjalin bekerja sama dengan mereka kenapa tidak. Apa lagi kita sudah mengenal manager nya dengan baik." ujar Jenna pada Julian, kemudian Jenna mengalihkan pandangannya ke arah Valerie.
"Jadi bagaimana? Apakah kalian menerima tawaran kerjasama dengan perusahaan kami? tanya Vale menegaskan.
"Kami menyetujui dan menerima proposal kerjasama ini Vale." ujar Jenna sepihak.
"Jen, aku belum mengatakan jika aku setuju." keluh Julian.
"Aku komisaris di perusahaan ini, aku juga berhak untuk membuat keputusan-keputusan."
Dan akhirnya, Julian pun hanya bisa pasrah. Sebenarnya Julian hanya ingin menghindari benturan masalah yang mungkin akan terjadi kedepannya. Bagaimana pun Vale adalah masa lalu nya. Yang Julian khawatir kan justru adalah Jenna. Karena menurut Julian, sejauh ini Jenna belum benar-benar bisa memahami hubungan dirinya dengan Vale seperti apa.
"Terima kasih Bu Jenna. Telah menerima proposal kerjasama dengan perusahaan kami."
"Please jangan panggil Bu, pangil saja aku Jenna. Bukankah kita sudah saling mengenal, bahkan putrimu adalah putriku juga. Selamat Valerie, proposal mu kami terima."
"Terimakasih Jen," ucap Vale, yang dengan spontan justru memeluk Jenna.
"Terimakasih sudah mendampingi Elenor selama ini." ucap Vale di luar topik pembahasan pekerjaan.
"Aku tidak melakukan apa apa, aku hanya berbagi kasih sayang dengan Elenor. Dia anak yang manis."
"Kau ibu yang baik." puji Vale pada Jenna.
__ADS_1
"Kau banyak berubah Vale, kau luar biasa. Kau juga hebat."
Julian hanya bisa menghela nafas panjang, ketika menyaksikan kedua wanita yang sama sama punya hubungan dengan nya itu justru malah membahas hal lain.