
Sabtu malam kali ini, dilalui dengan hati sedikit sedih oleh Valerie. Karena sore tadi, Elenor sudah di jemput oleh sang sopir dan juga babysister nya untuk kembali ke Mansion.
Tidak adanya Elenor di rumah membuat suasana rumah kini mendadak sepi dan sunyi.
Selama seminggu ini rumah terasa ramai dengan kehadiran Elenor.
Saat kini sang putri harus bergiliran untuk tingal bersama Daddy-nya. Vale menjadi sangat kesepian.
Biasanya ada suara elenor ketika ia sedang memasak untuk makan malam. Elenor akan menunggu Vale di meja makan sambil membawa buku mewarnai.
Setelah Vale selesai masak, Elle akan menunjukkan hasil mewarnainya pada Vale.
Kemudian setelah itu, mereka akan makan malam bersama sambil bercerita dan ditutup dengan bercengkrama di atas tempat tidur sebelum akhirnya tidur.
Keberadaan Elenor sungguh merubah hidup Valerie. Seorang janda 26 tahun depan satu anak berumur 5 setengah tahun.
Vale tidak menyangka, keberadaan Elle yang sama sekali tidak ia rencanakan justru membuat banyak sekali perubahan dan cara sudut pandang yang berbeda dalam hidupnya.
Bahkan untuk urusan percintaan, dirinya belum sama sekali ingin kembali membuka hati.
Menjadi seorang wanita single dengan satu anak kini tidak membuat hati Vale galau.
Justru ia merasa bahagia dan bangga menjadi seorang ibu untuk putrinya Elenor.
Ketika Vale sedang menikmati makan malamnya sendirian. Suara ketukan pintu di ruang tamu mengangetkan nya. Vale pun kemudian bergegas ke ruang tamu dan membukakan pintu.
"Hai, malam Valerie. Aku membawakan mu makanan." ucap David, sambil tersenyum manis dan menunjukan sebuah paper bag yang berisikan makanan untuk Vale di tangan kanannya.
"Hai David, malam juga. Kau tak perlu repot-repot. Aku baru saja makan malam tadi." ujar Vale lembut dari ambang pintu.
"Oya, wah, aku sepertinya sedikit terlambat. Ada Elenor?"
"Sekarang giliran Elle tingal dengan Daddy-nya."
'O, kalau begitu. Simpan saja makan ini di kulkas. Ini daging steak lengkap dengan sayurannya. Bisa kau panaskan besok untuk bersarapan." ucap David sambil memberikan paper bag tersebut.
"Terimakasih David. Kau baik sekali." ucap Valerie sambil menerima paper bag yang David berikan.
"Aku tadi sedang meeting bersama klien di sekitar sini. Makanya aku pesan kan makanan untuk mu dan aku mampir ke sini."
__ADS_1
"Kau sungguh baik, terimakasih. Hemm, mau masuk dulu?" tawar Vale.
"Tidak perlu, karena kau sendirian dan pasti tidak tenang jika ada tamu pria di rumah mu. Sedangkan tetangga kiri kanan mu kan tau kau tingal sendirian selama ini."
"Sebut saja aku janda!" seru Vale sambil terkekeh, David pun ikut terkekeh.
"Kalau begitu aku pulang. Besok aku dan Indiana akan camping kecil kecil lan. Jika kau mau ikut, aku akan menjemputmu." ujar David memberi tau.
"Hemmm, aku akan hubungi dirimu besok." jawab Vale sambil berfikir.
"Oke, kalau begitu aku pamit. Selamat malam Valerie."
"Malam David, sekali lagi, terimakasih untuk makanannya, hati hati di jalan."
"Sama sama Vale."
Setelah itu David bergegas untuk kembali ke mobilnya yang terparkir di tepi jalan.
Setelah selesai melambaikan tangannya pada David, Vale langsung bergegas kembali masuk kedalam rumah dan menutup pintu.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Mansion
Jenna kemudian mengetuk pintu kamar Elenor dengan pelan. Lalu, ia memutar handle pintu kamar Elenor dan membukanya perlahan.
Dan ternyata, Elenor saat itu belum tidur.
Elenor masih nampak sedang bermain-main di ranjangnya.
"Elle, kenapa kamu belum tidur." sapa Jenna pada anak sambungnya itu.
Kemudian, Jenna melangkahkan kakinya menuju rajang dan duduk di tepian ranjang Elenor.
"Elle belum merasa ngantuk Ma," jawab Elenor kepada Jenna dengan ada suara yang lembut.
Jenna kemudian mengecup puncak kepala Elenor.
"Louis sangat merindukanmu seminggu ini. Dia selalu menanyakan mu. Dia tidak bisa jauh dari kakaknya." ucap Jenna, bercerita pada Elenor tentang Louis yang selalu mencari cari kakaknya.
__ADS_1
"Aku juga rindu Louis. Aku rindu rebutan mainan dengannya." imbuh Elenor sambil terkikik.
Jenna kemudian tersenyum dan mengusap satu sisi pipi Elle.
"Sepertinya kau punya mainan baru." ucap Jenna yang kala itu pandangannya menangkap sesuatu yang baru di ranjang Elenor.
"O, ini boneka baru dari Mommy dan Daddy." jawab Elle.
"Daddy?" ucap ulang Jenna. Ia merasa asing dengan sebutan Daddy yang Elle maksudkan.
"Iya Ma, sekarang, Elle memanggil Papa Julian dengan sebutan Daddy. Karena aku memanggil Mommy Vale dengan sebutan Mommy, maka Elle mulai sekarang pangil Papa dengan sebutan Daddy.
"Oh begitu, tidak masalah, Papa ataupun Daddy sama saja." imbuh Jenna sambil tersenyum, meski ia merasa sedikit aneh dengan perubahan pangilan terhadap Julian.
"Daddy membelikan Elle boneka kanguru, dan Mommy membelikan Elle boneka pinguin." seloroh Elenor, kemudian Elle memberi unjuk dua boneka barunya pada Jenna.
Jenna kemudian memperhatikan dua boneka baru milik Elle. Yang berbentuk kanguru dan satu lagi berbentuk pinguin.
"Kenapa Daddy Julian membelikan mu boneka kangguru ini. Apa ada alasannya?" tanya Jenna menyelidik.
"Daddy bilang, Mommy dulu adalah kanguru nya Daddy." ucap Elenor polos.
"Oh, benarkah? Maksudnya apa, Daddy menyebut Mommy Vale dengan kangguru nya Daddy?" tanya lagi Jenna kurang paham dengan maksud Elenor.
"Daddy bilang, Mommy Vale itu seperti Kangguru bagi Daddy. Jadi jika melihat kangguru ini, Daddy pasti akan teringat dengan Mommy." jelas Elenor penuh kepolosan. Setelah Elle menjelaskan itu, Jenna akhirnya paham.
"Daddy Julian bilang seperti itu pada Elle?"
"Iya Ma, Daddy yang menjelaskan itu pada Elle. Jika Mommy adalah kangguru nya Daddy."
Dan penjelasan Elle sudah membuat Jenna mengaitkan dengan video yang pernah dan sempat ia tonton.
Dalam video yang pernah sekilas ia saksikan. Saat itu Vale nampak menemplok pada Julian di sebuah kamar.
Dan hal itu sudah jelas bagi Jenna. Kanguru adalah semacam nama panggilan kesayangan yang mungkin Julian berikan khusus untuk Valerie.
Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Elle. Jenna kemudian meninggalkan kamar Ellen dan berjalan menuju kamarnya.
Entah kenapa potongan demi potongan dan kejadian demi kejadian yang terjadi saat ini. Begitu mengukuhkan prasangkanya. Jika Julian, suaminya, memang masih menyimpannya perasaan pada Valerie.
__ADS_1
Dan hal itu tentu saja semakin membuat Jenna merasa di dustai perasannya.
Dan, dugaan selingkuh pun kini membayangi pikiran Jenna terhadap Julian bersama dengan mantan istri kontaknya, Valerie Florencia.