
Setelah Maxim mengantongi alamat keberadaan Valerie. Maxim nampak berfikir.
Maxim tidak langsung menginfokan keberadaan Valerie kepada Julian maupun kepada William. Akan tetapi, ia sepertinya punya rencana lain.
Maxim kemudian menghubungi seseorang temannya yang lain. Dan mengirimkan sebuah alamat ke temennya itu untuk menuju lokasi di mana keberadaan Valerie saat ini berada.
Dalam komunikasinya bersama temannya. Maxim yang berwarganegara asing, Rusia itu, menyuruh temannya untuk bersiaga dan berjaga-jaga di lokasi yang sudah Maxim berikan sebelumnya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi itu, Vale sudah bangun dari tidurnya dari sebuah tempat kost yang baru semalam ia sewa. Sebuah ruangan sepetak yang tak begitu luas namun cukup nyaman baginya untuk bersembunyi sementara bersama bayi yang masih ia kandung.
Menyibakkan sebuah mantel jaket yang ia gunakan untuk selimut. Vale kemudian dengan perlahan bangkit dari tidurnya.
Rasa pegal di pinggang belakangnya makin hari makin terasa sakit ia rasakan.
Mungkin itu efek dari peradangan tulang belakang yang merengangn akibat posisi janin yang sudah semakin turun di kedua sisi panggulnya. Wajar saja, karena saat ini memang kehamilan Vale telah masuk di bulan ke sembilan.
Setelah ia mencuci muka dan menggosok gigi di kamar mandi. Vale berganti baju dan kemudian memakai kembali jaketnya. Ia berniat untuk keluar dari kamar kost untuk mencari sarapan.
"Tenang sayang, Mommy akan cari sarapan dulu. Bagaimanapun, Mommy harus tetap sehat demi bisa melahirkan mu nanti. Mommy nanti belikan kamu susu ya. Dan Mommy akan meminum nya agar kamu kuat di dalam sana." ujar Vale berkomunikasi dengan bayinya yang masih ada di dalam perut itu. Sambil mengusap usap perut nya dengan sayang.
Vale kemudian membeli makanan di sebuah rumah makan di pinggir jalan tak jauh dari tempat kost.
Saat Vale sedang mengantri untuk membeli makanan. Perhatiannya tertuju pada sebuah mobil yang mencurigakan dengan beberapa orang yang baru saja keluar dari mobil itu. Dengan pakaian yang serba hitam, serta berpostur tubuh mereka yang semua nampak tinggi besar.
Vale kini sudah dalam firasat yang tidak enak. Ia berfirasat, mungkin saja mereka adalah orang-orang suruhan Julian yang ditugaskan untuk mencari dirinya.
__ADS_1
Setelah selesai membeli makanan, Vale kemudian dengan segera langsung bergegas menuju kamar kostnya.
Valerie yang saat itu sudah berada di dalam kamar kostnya, berjalan ke arah jendela. Ia kembali memperhatikan sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya saat ini.
Mobil itu masih berada di sana, tapi Vale tak melihat ada seseorang di dalam mobil tersebut.
Mengabaikan perasaannya yang sudah tidak enak. Vale kemudian memaksakan untuk memakan makanannya.
Setelah dia selesai bersarapan, Vale kemudian berkemas kemas. Vale yakin, orang orang itu adalah orang orang suruhan Julian. Dan ia harus segera meninggalkan tempat kostnya saat ini. Karena keberadaannya sudah terendus.
Dari tiga pria yang tadi di liat Vale, salah satu dari ketiga pria itu ternyata adalah Maxim.
Maxim sendiri ternyata telah menyimpan agenda tersendiri untuk menculik Valerie. Sebuah agenda besar yang muncul di benak nya untuk mendapatkan uang dengan jumlah yang lebih besar dengan berniat menculik Valerie.
Niat jahat Maxim muncul ketika ia mengetahui jika Julian Alexander adalah seorang pengusaha kaya raya. Raja properti dan punya banyak bisnis.
Oleh sebab itu, terbesit di pikiran Maxim yang juga seorang warganegara Rusia itu merencanakan untuk menculik Vale dan minta uang tebusan yang sangat besar pada Julian.
"Nak, semoga kamu baik baik saja ya di kandungan Mommy. Mommy akan berjuang untuk kita bisa hidup bersama, tanpa ada yang akan memisahkan." ucap Vale lirih.
Ketika Vale baru saja membuka pintu kamar kost nya. Seseorang langsung mendorongnya dan langsung membekap mulut Vale. Dan Vale yang tak bisa banyak berontak pun kini telah lemas akibat biusan yang di lakukan oleh beberapa orang yang tadi menyergapnya.
Setelah Valerie pingsan, Maxim dan beberapa teman yang lain menunggu sampai waktu yang kondusif untuk membawa Vale pergi.
Maxim kemudian menghubungi Julian, dan berniat untuk meminta uang tebusan.
Saat itu, Julian sedang berada di kampus tempat Valerie berkuliah.
__ADS_1
Ia sengaja datang ke sana untuk menemui beberapa teman Vale dan mencoba untuk bertanya pada mereka apakah mereka ada yang tau keberadaan Valerie.
"Aku memang dekat dengan Valerie, tapi sejak kemarin ponselnya sudah tidak aktif. Dan aku sama sekali tidak tau keberadaan Vale." ucap Indiana saat ia di tanya oleh Julian.
Julian yang mulai cemas dan khawatir akan keselamatan Vale dan bayi yang ada di kandungannya merasa tidak tenang.
Oleh sebab itu dia juga berusaha untuk bertanya pada teman-teman Vale di kampusnya. Tapi hasilnya semua nihil.
Saat Julian tengah berbicara dengan Indiana, ponsel milik Julian berdering.
Julian langsung cepat cepat mengangkat telepon tersebut tanpa melihat siap penelponnya.
"Halo." sapa Julian.
"Hello, dengan Julian Alexander." tanya seseorang dari sebrang telepon.
"Iya, aku sendiri. Ini siapa?" tanya Julian yang langsung curiga dengan suara sang penelpon.
"Selamat, istri anda dan calon bayi anda saat ini ada bersama ku. Aku beri waktu 6 jam dari sekarang. Untuk menyiapkan uang cash senilai 300 milyar dan taruh uang itu kedalam koper. Dan ingat, jangan bawa polisi atau pun menelpon polisi. Karena begitu aku tau kau membawa polisi, nyawa istri dan bayi mu sudah ku pastikan akan lenyap bersamaan. Jadi, Mr Julian, dengarkan semua aba aba ku." ucap seseorang itu.
"Bang sat, ba ji gan, siapa kau. Berikan aku buktinya, jika kau saat ini benar bersama Valerie?"
"Oke, aku akan kirimkan foto wanita cantik bertubuh seksi ini, kau tau dia terlihat mempesona sekali saat hamil." ucap pria itu sambil terkekeh, dan hal itu sudah semakin membuat Julian naik pitam.
"Kau sentuh dia, ku bunuh kamu." desis Julian penuh emosi.
"Periksalah ponsel mu, aku akan mengirimkan foto istri mu yang cantik ini." ujar sang penelpon.
__ADS_1
Dan tak lama bunyi notip pesan masuk di ponsel milik Julian. Ia pun dengan segera langsung mengeceknya. Dan benar, kedua mata Julian terbelalak kaget saat melihat tubuh Valerie terkulai lemas dengan kedua tangannya diikat serta mulut di lapban.
"Valerie." sebut Julian, dengan perasan hati bergetar. Melihat wanita yang saat ini sedang mengandung benihnya itu kini tak berdaya dan dalam bahaya.