
Di sebuah ruangan rumah sakit yang berkelas nan mewah serta eksklusif. Di sanalah saat ini Julian sedang di rawat.
Julian mengalami luka tembak di bagian punggungnya. Ketika ia sedang melindungi Valerie serta bayinya dari usaha penembakan yang akan di lakukan oleh Maxim.
Misi penyelamatan drastis yang dilakukan oleh Julian. Dan juga dibantu oleh David serta Indiana yang datang dengan membawa polisi. Membuat keadaan yang kala itu mencekam menjadi terkendali.
Meskipun Julian harus mengalami luka tembak yang lumayan parah di bagian punggung karena berusaha melindungi Vale.
Maxim dan teman-temannya kini sedang dalam penanganan polisi.
Mereka yang saat itu juga berupaya kabur. Berhasil di lumpuhkan polisi dengan menembak mereka di bagian kaki.
Sedangkan Vale saat itu yang sempat mengalami kontraksi langsung dengan segera di larikan ke rumah sakit bersamaan dengan Julian yang saat itu mengalami luka tembak dengan darah yang terus mengucur dari punggungnya.
Atas perintah Roseline, Valerie dan Julian kini di pindahkan dan dirawat dalam satu kamar yang sama. Di sebuah kamar rumah sakit khusus VVIP dengan dua tempat tidur di kedua sisi.
Valerie yang saat itu keadaannya sudah membaik. Nampak mulai mengerjabkan kedua matanya dari tidurnya.
Vale yang saat itu masih berbaring di tempat tidurnya kemudian menoleh ke arah samping.
Dan ia melihat, Julian masih belum sadarkan diri sesuai menjalani operasi pengangkatan proyektil yang bersarang di pundaknya.
Vale kini merasa berhutang budi kepada Julian. Karena dia telah memasang badan untuknya demi menyelamatkan dirinya dan juga bayi yang ada di kandungannya.
Bergerak perlahan dari tempat tidur, Vale kemudian berjalan dengan pelan ke arah Julian yang masih terpejam.
Mengambil sebuah kursi, Vale kemudian duduk di sisi tempat tidur julian. Lalu Vale meraih tangan suami kontaknya itu dan menggenggamnya.
Dalam hati, Vale merasa bersalah kepada Julian. Dan juga merasa sangat berhutang budi. Karena upaya penembakan yang akan dilakukan oleh Maxim terhadap dirinya justru malah mengenai Julian yang memang dengan sengaja kala itu ingin melindunginya.
__ADS_1
"Terima kasih kau telah menyelamatkan nyawaku dan juga nyawa bayi kita. Jika saja saat itu kau tak memasang badan untuk ku. Peluru itu pasti sudah mengenai perutku, dan aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya." ucap Vale lirih.
Dan beberapa saat kemudian, Julian nampak mengerakkan tubuhnya dan perlahan-lahan ia membuka matanya.
Sejenak, Julian nampak mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan kamar. Hingga akhirnya, pandangan mata nya kini bertemu dengan pandangan mata lembut Valerie.
Senyuman manis pun langsung terukir di wajah tampan Julian.
"Hai kau tidak apa-apa?" tanya Julian pada Valerie.
"Seharusnya aku yang bertanya. Apa kau baik-baik saja? tanya Valerie pada Julian sambil tersenyum tipis.
"Aku tidak apa apa, luka ini tidak berarti apa apa." ujar Julian.
"Kau tertembak, tapi masih bilang tak apa apa. Aku juga baik, bayi kita juga baik baik saja. Mereka sudah di tangani oleh polisi." ucap Vale lembut memberi tau.
"Aku tidak peduli dengan mereka, aku hanya peduli dengan keselamatan mu dan juga bayi kita. Tapi syukurlah, semua baik baik nya. Aku sangat lega, yang penting bagiku adalah dirimu." ujar Julian dengan masih menyunggingkan senyumnya.
"Bukankah aku sudah berjanji akan melindungi kalian. Jangan berterima kasih, karena itu tugas ku. Tapi jujur aku memang kesal dengan mu. Jangan berulah lagi ya." ujar Julian sambil menyentuh hidung mancung Vale dengan telunjuknya.
Vale kemudian tersenyum tipis dan kemudian menundukkan kepalanya.
Keheningan kemudian terjadi di antara Julian dan juga Vale.
Entah kenapa, tiba-tiba saja Valerie menjadi sangat mellow.
Air matanya menetes dengan sendirinya. Linangan air mata itu kian deras membanjir kedua pipi putih Vale.
"Valerie, kenapa kau malah menangis?" tanya Julian bigung.
__ADS_1
"Aku berusaha lari darimu, aku menyalahi janjiku dengan berniat kabur dari Penthouse. Aku ingin memiliki anak ini sendiri. Aku ingin membesarkannya sendiri. Setelah dulu aku dengan sadar membuat perjanjian dengan mu. Untuk mau memberikan mu seorang anak dan aku mendapatkan imbalan. Kini aku sadar, bayi ini nilainya bahkan lebih dari itu. Kau bahkan mengeluarkan uang 300 miliyar untuk menembus ku dan bayi ini. Dari semua hal itu, aku berfikir, Tuhan masih berpihak baik dengan ku. Dan kini sudah saatnya aku harus memperbaiki semuanya. Dan menerima segala konsekuensinya. Julian, aku tidak akan kabur lagi, aku akan memberikan bayi ini untuk mu. Semua akan sesuai dengan kesepakatan." ucap Vale dengan penuh rasa kesadaran dan dengan mata yang masih memerah.
Julian kemudian mengusap air mata di pipi Vale dengan salah satu tangannya.
"Sudah jangan bersedih." ujar Julian.
"Kemarilah." ujar Julian yang menyuruh Vale untuk naik ke atas tempat tidurnya.
"Jangan ragu, kemarilah Valerie, aku hanya ingin membuat mu tenang." ucap Julian lagi.
Dengan sedikit ragu-ragu, akhirnya Vale bergerak untuk naik keatas tempat tidur bersama dengan Julian.
"Hati hati perut mu," ujar Julian yang mengingatkan saat Vale sedikit kesulitan naik ke atas tempat tidur.
Julian kemudian bergeser sedikit untuk memberikan ruang untuk valerie, agar ia bisa berrebahan di sisinya.
Kini Vale sudah berada di sisi Julian dengan posisi yang sama sama rebahan. Vale kemudian meletakkan kepalanya di sisi pundak Julian yang tidak terluka.
"Tenang kan diri mu, jangan selalu menyalahkan diri mu sendiri. Kau tidak seburuk yang kau pikirkan Vale. Bahkan setelah usaha mu ingin kabur dari ku, demi bisa merawat bayi itu. Aku bisa menilai jika dirimu adalah calon seorang ibu yang baik. Yang rela melakukan apa saja demi anak mu. Kita akan bicarakan lagi soal bayi kita dengan baik baik. Yang penting saat ini kau tidak apa apa dan semua baik baik saja. Jangan banyak pikiran, ingat kata dokter, kamu harus tenang bahagia dan sehat menjelang persalinan."
"Sekali lagi aku minta maaf." ucap Vale lirih.
"Aku memaafkan mu " jawab Julian lembut. Yang kemudian ia mengusap usap lengan Vale dengan tangannya yang tidak terluka.
Vale dan Julian kemudian kembali berdiskusi santai membahas tentang bayi mereka di atas tempat tidur.
Saat itu Roseline yang hendak mengunjungi Julian dan mau memasuki kamar perawatan sang putera dan juga Vale, mengurungkan niatnya saat ia melihat Julian sedang bersama Vale di atas tempat tidur yang sama.
Tidak ingin menganggu mereka yang saat ini sedang berdiskusi, Roseline memilih untuk menunggu dulu di bangku yang ada koridor ruangan.
__ADS_1
Ia ingin memberikan waktu pada Vale dan juga Julian bisa saling berbicara dengan hati dan pikiran yang tenang.