
Edward menghentikan mobilnya tepat di depan halaman rumah Valerie. Ketika ia mengatarkan Vale untuk pulang sore itu.
"Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang Edward." ucap Vale, sesaat sebelum ia keluar dari mobil mewah Edward.
"Sama-sama Valerie." jawab Edward sambil mengembangkan senyum manisnya.
"See you." ucap Vale, kemudian ia keluar dari mobil Edward. Sambil menenteng beberapa buku yang baru saja ia beli.
Setelah melambaikan tangannya pada Edward. Vale kemudian berjalan menuju rumah.
Begitu sampai di depan pintu rumahnya. Valerie kemudian mengambil kunci rumah yang ia taruh sisi kantong celananya.
Baru saja ia hendak masuk kedalam rumah. Ada seseorang yang memangil namanya dari belakang.
"Valerie" pangil seseorang itu. Vale pun kemudian menengok ke belakang. Dan mengecek siapa seseorang yang telah memangilnya.
"Jen," sapa Vale pada Jenna, yang sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Maaf mengagetkan mu." ucap Jenna sambil tersenyum tipis.
"No problem, kejutan sekali kamu datang ke rumah ku. Elenor tadi pagi sudah di jemput Daddy-nya. Apa kau ada keperluan lain?" tanya Vale pada Jenna dengan tatapan pemasaran.
"Maaf jika kedatangan ku selalu membuat mu tak nyaman Vale. Tapi tidak ada orang lain yang bisa aku minta penjelasan tentang apa yang aku rasakan saat ini. Karena ini memang ada kaitannya dengan mu." ujar Jenna dari tempat ia berdiri mematung saat ini.
"Oke, sebaiknya kita ngobrol di dalam, silahkan masuk Jen. Maaf rumah ku kecil, tidak senyaman tempat tinggal mu di Mansion." ujar Vale mencoba untuk bersikap seramah mungkin pada istri mantan suami kontraknya itu.
__ADS_1
Vale kemudian mempersilahkan Jenna untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Jangan berlebihan Vale, aku orang yang terlahir dari keluarga sederhana." Jenna menimpali ucapan Vale, saat mereka memasuki rumah. Dua wanita yang sama-sama punya satu anak dari pria yang sama.
Vale kemudian mempersilahkan Jenna untuk duduk di ruang tamunya yang sederhana. Jenna pun duduk di sofa panjang yang ada di ruang tamu.
Lalu Vale pergi ke dapur untuk membuatkan Jenna minuman. Tak berselang lama, Vale kembali ke ruang tamu dengan membawakan Jenna segelas jus jeruk yang ia ambil dari lemari pendingin.
"Di minum Jen, hanya ada jus." ucap Vale sambil memberikan segelas jus jeruk pada Jenna.
Jenna kemudian meraih jus tersebut dan meminumnya.
Vale kini ikut duduk di sofa pajang yang sama di mana Jenna saat ini duduk. Dua wanita cantik itu duduk saling berhadap hadapan. Dua wanita yang sama sama di luluh lantakkan hatinya oleh Julian Alexander.
"So, pasti kedatanganmu ke sini karena ada suatu hal yang penting. Katakan saja apa yang ingin kau bicarakan denganku." ucap Vale sambil mengarahkan pandangannya ke arah Jenna. Menunjukan memasang wajah penuh sahaja.
"Oke, ada apa lagi dengan hal itu. Apa masih ada sesuatu yang masih terlewatkan. Bukankah aku sudah menjelaskan kepadamu secara gamblang tentang hubunganku dengan suamimu."
"Ya aku tahu, tapi aku masih merasa sedikit ada yang mengganjal. Mungkin aku bisa percaya denganmu. Tapi entahlah, sekarang aku rasanya tidak lagi memiliki rasa kepercayaan terhadap Julian. Di saat dia sudah berbicara jujur denganku, tetap saja aku ingin mengkonfirmasi kejujurannya dengan penjelasan dari diri mu." Vale kemudian menghela nafas panjang. Ia mencoba memahami apa yang di rasakan Jenna.
"Antara aku dan suami mu sudah tidak ada lagi hubungan yang spesial lagi Jen. Hubungan perasaanku dengannya sudah benar-benar hilang. Aku sudah tidak punya perasaan sedikitpun terhadap suamimu. Dan soal perasaan Julian terhadap ku. Aku rasa dia bisa bersikap bijaksana untuk bisa menata perasaannya. Kau tetap menjadi seseorang yang ia prioritaskan. Karena kau adalah istrinya. Untuk menyikapi rasa ketidak percayaan di antar kalian. Cobalah untuk bicara dari hati ke hati. Kalian sudah sama-sama dewasa. Kalian juga telah memiliki Louis. Jangan sampai hal-hal semacam ini menjadi suatu permasalahan yang bisa mengancam hubungan kalian. Jika kalian saling tidak punya rasa kepercayaan satu sama lain. Mustahil untuk kalian bisa membangun rumah tangga yang tenang. Percayalah pada suami mu. Sudahi kerenggangan hubungan di antara kalian. Hubungan ku dan Julian tidak lebih hanya sebatas hubungan baik sebagai orang tua untuk putri kami Elenor." jelas Valerie pada Jenna.
"Ya aku paham Vale, mungkin ini pembicaraan yang terakhir kalinya denganmu mengenai Julian. Jika kau tidak keberatan. Aku ingin menanyakan satu hal lagi dengan mu."
"Katakan saja apa yang ingin kau tanyakan. Agar kamu bisa lega. Kamu bebas bertanya denganku, aku akan menjawab dengan sejujur-jujurnya dan sejelas-jelasnya."
__ADS_1
"Aku mau bertanya tentang, kenapa kalian menginap satu kamar di puncak waktu itu."
Vale sudah bisa menebak jika pada akhirnya hal itu lah yang membawa Jenna datang ke rumahnya.
"Aku mengakui aku salah. Kenapa aku tidur satu kamar hotel dengan Julian. Tapi kami tidak tidur satu ranjang Jen. Dia tidur di kursi dan aku di ranjang. Pada saat itu, situasi dan kondisi sangat darurat. Dan kenapa saat itu tidak terpikirkan olehku untuk tidur terpisah dengan Julian. Karena Julian bisa saja tidur dengan sopir. Aku pikir, aku sudah tidak ada perasaan apapun dengan Julian. Dan Julian juga telah menganggap aku sebagai seorang adik pada saat itu. Konyol memang. Tapi itulah yang terjadi pada kami."
"Kami hanya beristirahat malam itu, kamu tidak perlu cemburu, tidak perlu curiga, dan juga tidak perlu mencurigai suamimu. Karena Julian tetap fokus untuk membina rumah tangga dengan mu. Jadi aku harap, kalian sama-sama dewasa dan bijaksana untuk menyikapi ini. Jangan lagi menjadikan perkara ini menjadi masalah yang besar untuk hubungan kalian."
Valerie kemudian meraih tangan Jenna dan menggenggamnya dengan kedua tangannya
"Cukuplah elenor menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya. Baik aku dan Julian adalah contoh orang tua yang egois saat ini. Julian egois dengan prinsipnya, aku egois dengan keputusanku saat itu yang menerima rahim bayaran. Saat aku menerima tawaran Julian saat itu. Aku tidak memikirkan tentang bagaimana nasibnya setelah aku tinggal. Dan aku juga tidak memikirkan mentalnya setelah ia tumbuh dewasa. Setelah Elenor lahir, baru aku menyadari semua kesalahanku. Sekarang kau memiliki Louis. Jangan buat Louis seperti Elenor ku. Jangan mengambil keputusan yang salah. Aku tau kau dan Julian saling mencintai. Masalah yang terjadi di antara kalian saat ini hanyalah sebuah kesalahpahaman. Di antara kalian hanya kurang saling berempati. Perbaiki hubungan kalian. Seharusnya kalian sudah berbahagia hidup bersama. Jika ada kejadian semacam ini. Bicarakan dengan baik baik. Jangan langsung mengambil keputusan secara sepihak, yang bisa membuat Louis terluka."
Setelah mendengar penuturan Valerie. Jenna kini merasa lega. Ia pun kemudian berinsut dari duduknya dan mendekati Valerie. Lalu, Jenna memberikan satu pelukan hangat untuk Valerie.
"Maafkan aku Vale, jika selama ini aku mencurigai mu."
Sambil membalas pelukan Jenna. Vale menyadari, jika sikap Jenna saat ini wajar. Sebagai seorang istri, Jenna pasti memiliki rasa cemburu terhadap suaminya. Apalagi Julian memang terkesan terlihat dekat dengan dirinya.
"Aku tahu perasaanmu Jenna. Kau tidak perlu minta maaf. Sebagai sesama perempuan yang punya perasaan lembut. Aku sangat memahami rasa kecemburuan mu. Bukankah itu menandakan kamu sangat mencintai Julian." ujar Vale.
"Dia sangat menjengkelkan Valerie." keluh Jenna dengan sedikit bercanda. Dan Vale pun menangapi kekesalan Jenna dengan senyum tipis.
"Aku yakin, setelah ini, Julian akan bersikap lebih baik dengan mu."
"Terima kasih sudah mau mendengar keluh kesah ku."
__ADS_1
"Sama sama Jen. Jangan merasa tak enak hati dengan ku. Sampai kapan pun, kita akan selalu terhubung. Putera mu adakah saoudara putri ku. Dan begitupula sebaliknya. Aku bahagia jika melihat kalian bahagia. Perbaiki hubungan kalian dan jangan bersikap dingin lagi pada Julian. Dia juga sedang memikirkan mu sekarang." ucap Vale pada Jenna dengan sikap tenang.