
Setelah mengetahui Valerie saat ini tengah di culik dan mereka meminta uang tebusan. Tak perlu membuang waktu lagi, Julian langsung bergerak.
"William, anak buah mu berkhianat. Mereka kini justru menculik Valerie dan meminta uang tebusan. Aku sudah tidak percaya lagi dengan mu. Jika terjadi sesuatu dengan Valerie dan calon bayi ku. Kau yang harus bertanggung jawab." ujar Julian yang merasa geram dengan anak buah William yang ternyata justru berkhianat dan malah menculik Valerie.
Julian kemudian langsung bergegas menuju Mansion.
Sesampainya ia di Mansion, Julian langsung membuka brankasnya. Dan kemudian ia langsung mengambil semua uang cash yang ada di dalam brangkas. Dan memasukkannya kedalam sebuah tas.
Di rasa uang yang ada di dalam brangkas masih kurang. Julian kemudian menyuruh sekertaris nya untuk mencair kan uangnya yang masih di rekening di bank.
Saat itu pikiran Julian tengah kalut, dan yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana caranya menyelamatkan Vale dan bayinya.
Setelah uang yang ia perlukan cukup. Kini Julian yang sudah siap di dalam mobilnya masih menunggu telepon dari seseorang yang menculik Valerie.
Dan tak lama kemudian, mereka kembali menghubungi Julian.
Kini mereka memberikan alamat pada Julian. Dan mereka menyuruh Julian untuk datang sendiri. Dan mengancam untuk tidak membawa bawa polisi.
Tanpa ingin mengambil resiko, Julian kini langsung mengendarai mobil nya menuju alamat yang sudah di berikan oleh mereka.
Di sisi lain, Indiana yang kala itu mengetahui jika saat ini Vale sedang dalam bahaya dan di diculik. Ia langsung memberi tau David.
Indiana yang sejak tadi mengikuti Julian dengan taksi. Terus mengikuti Julian dari belakang dengan jarak yang sedikit jauh agar Julian tidak curiga.
David yang saat itu mendengar kabar Vale di culik, langsung bergegas untuk mengikuti arah lokasi yang sudah di kirim Indiana.
Ia mengendarai mobilnya menuju lokasi yang sudah Indiana berikan titik lokasinya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Maxim bersama kedua temannya kini membawa Vale ke sebuah gudang kosong yang jauh dari lokasi pemukiman.
Vale yang sampai saat itu belum juga sadar. Di dudukkan pada sebuah kursi. Kemudian, kedua tangannya diikat ke belakang, dengan mulut yang masih di lapban.
Setelah melihat kondisi dan situasi di lingkungan yang dirasa sudah cukup kondusif. Maxim kemudian menghubungi Julian lagi.
Tidak perlu menunggu waktu yang lama. Julian kini telah sampai di lokasi yang dituju.
__ADS_1
Julian lalu keluar dari mobilnya sambil mengambil sebuah ransel yang berisikan uang tebusan untuk Vale.
Sambil menenteng uang yang ada di dalam tas dan tanpa diikuti oleh siapapun, Julian kemudian masuk ke dalam gudang tua yang ada di lokasi.
Julian melangkahkan kakinya dengan langkah pasti memasuki gedung. Dengan tatapan matanya yang tajam, ia memandang lurus ke depan.
Dan dari tempatnya saat ini ia yang masih berjalan. Julian melihat Vale yang sedang hamil besar itu di perlakukan dengan sangat tidak baik oleh para penjahat itu.
Sampai sampai, Julian tidak tega melihat Valerie yang saat itu benar-benar dalam kondisi yang sangat memperihatinkan.
Wajahnya lusuh, rambutnya tergerai berantakan dengan kedua tangannya diikat ke belakang serta mulut yang masih di lapban.
"Akhirnya kau datang juga" ucap Maxim sambil terkekeh penuh ejekan.
"Ini uang yang kalian minta, lepaskan istri ku dan bawalah uang ini. Tinggalkan kami," ucap Julian dengan rahang tegas dan mengeras. Dirinya merasa sangat kalut saat melihat Vale yang begitu menyedihkan.
Maxim kembali terkekeh. Kemudian ia menyuruh satu temannya untuk berjaga-jaga di luar gudang.
Vale saat ini sudah siuman. Begitu mata Vale terbuka pelan pelan, hal pertama yang ia menangkap adalah sosok pria berbadan tinggi besar yang sudah familiar yang akhirnya membuat Vale bisa tenang.
Sambil bergumam tidak jelas, karena kondisi mulut nya yang masih di lapban. Vale nampak memberikan isyarat pada Julian untuk membantunya.
"Vale, tenang lah. Aku disini untuk membantu mu. Kau jangan banyak bergerak, nanti kau kelelahan." ujar Julian yang memandang Vale penuh rasa iba. Vale pun kemudian berhenti memberontak.
"Ini uang tebusan yang kalian mau, lepaskan Valerie dan pergilah dari tempat ini." ucap Julian tegas.
Maxim kemudian melirik ke arah temannya untuk mendekat ke arah Julian. Julian yang kala itu berada beberapa langkah dari Vale pun bersiap-siap untuk menghadapi berbagai segala kemungkinan.
Setelah salah seorang tadi sudah berada di hadapan Julian. Dia meminta uang yang masih Julian pegang.
"Serahkan uangnya." perintah seseorang itu.
"Lepaskan dulu istri ku." jawab Julian.
Seseorang itu kemudian menoleh kearah Maxim.
"Serahkan uang itu dulu pada teman ku, baru aku akan melepaskan istri cantik mu yang mulus ini." ucap Maxim sambil terkekeh, seraya menjambak rambut panjang Vale.
__ADS_1
Sehingga Vale pun nampak terlihat kesakitan. Julian yang menyaksikan kesakitan Vale pun mengepalkan tangannya, merasa geram.
"Jangan sakiti dia." ancam Julian.
"Lemparkan tas ransel itu kedepan, lalu mundur lah dirimu beberapa langkah. Setelah selesai mengecek tas itu kami akan pergi." ujar Maxim.
Julian kemudian menurut, Julian melemparkan tas ranselnya kedepan. Kemudian seseorang yang lain melangkah mendekati tas itu dan mengeceknya.
Setelah memastikan itu adalah uang asli, seseorang itu kemudian menutup tas tersebut dan kemudian membawanya.
"Kau memang pria kaya Mr Julian Alexander. Terima kasih sudah berbagi dengan kami. Tapi sebelum aku mengembalikan istri mu, boleh lah aku bersenang senang dulu sebentar dengan Istri mu ini." ujar Maxim.
Mendengar itu Vale yang masih terikat kedua tangannya dan juga mulut yang masih di lapban memberontak. Sedangkan Julian pun juga berteriak.
"No, jangan sentuh dia." ucap Julian tegas.
"Tidak akan lama Mr, hanya aku sendiri." ucap Maxim yang kemudian mengajak Vale berdiri dari duduknya dan kemudian memaksa nya untuk ikut dengannya.
Vale pun memberontak. Dan Julian yang sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya langsung menyerang salah satu temannya yang menghalanginya. Sehingga saat ini Julian dan seseorang itu berduel.
Dan di waktu yang bersamaan, suara sirine polisi berdeging. Mengepung tempat itu.
"****, kau membawa polisi ternyata," desis Maxim lalu ia mengambil sebuah pistol yang ia sembunyikan di balik jaketnya dan langsung mengarah kan pistol tersebut ke arah Julian.
Namun belum sempat pistol itu digunakan, pistol tersebut terpelanting jatuh ke lantai akibat lemparan sebuah benda.
"Julian, selamatkan Vale." teriak David yang tiba-tiba saja telah muncul.
Julian pun langsung bergegas kearah Vale dan kemudian melepas lapban yang membungkam mulutnya. Dan juga melepaskan tali ikatan di tangannya.
"Valerie." pangil Julian terhadap Valerie.
"Mr." pangil Vale pada Julian.
Vale yang saat itu mereka terharu dan lega, langsung memeluk erat tubuh Julian.
Ketika itu David sedang berusaha untuk melumpuhkan Maxim. Tapi Maxim nampaknya masih bisa melawan.
__ADS_1
Dan di detik yang sama saat itu juga, Maxim mengarah pistol yang kembali bisa ia raih ke arah Valerie. Dia mengincar Vale untuk dia tembak. Dan akhirnya, DOORRRRR.
Satu letupan amunisi tepat mengenai tubuh seseorang.