Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Season 2 New life begins : Semakin membaik


__ADS_3

Keadaan Valerie kini sudah semakin membaik. Bahkan Vale sudah bisa duduk sambil bersandar.


Karena tangan kanannya saat ini masih sakit akibat mengalami patah tulang. Membuat Vale masih kesulitan untuk makan sendiri. Sedangkan tangan kirinya juga masih sedikit memar.


Akhirnya dengan di bantu oleh seorang perawat Vale menikmati makan siangnya saat itu.


Dave yang sudah sejak satu Minggu ini setia menunggu Vale di ruangan kamar tempat Vale di rawat. Diam diam ia memperhatikan Vale dari tempatnya ia saat ini duduk. Sambil sesekali fokus pada pekerjaannya di laptop.


Sambil makan, Vale nampak mengobrol ramah dengan perawat yang sedang menyuapinya.


Keramah tamahan Vale saja sudah cukup membuat Dave terkesima dengan sikap Valerie. Wajahnya yang cantik alami terasa tidak bosan untuk ia pandang. Tidak hanya atitute Vale yang membuat Dave terpana. Tapi juga tubuh Vale yang terlihat sangat sempurna di matanya.


Sikap dan perilaku Valerie yang lembut itu sudah membuat Dave jatuh hati.


Selama ini, ia belum pernah menjumpai seorang wanita single mother yang sangat bersahaja seperti Vale.


Bagi seorang pria dewasa yang juga sudah pernah menikah dan sudah sangat berpengalaman tentang menilai seorang wanita. Dave paham, seperti apa sosok Valerie ini.


Ketika Dave sedang mencuri curi pandang ke arah Vale. Secara tidak sengaja, Vale saat itu juga sedang melirik ke arah Dave. Sehingga kedua iris mata mereka sejenak saling bertemu.


Dave secara berani dan terang terangan terus menerus menatap Vale. Ia tidak merasa salah tingkah. Dave bahkan sengaja melancarkan pandangan mautnya untuk tetap memandang ke arah Valerie.


Vale lah yang akhirnya memilih untuk membuang muka. Meski reaksi Vale terkesan masih datar pada Dave.


"Waktunya Ibu untuk ganti baju. Saya akan mengambil handuk kecil untuk membersihkan tubuh Ibu." ucap perawat itu.


Begitu Vale tau kalau dirinya akan di bersihkan tubuhnya dan di ganti bajunya. Membuat Vale mengarahkan pandangannya ke arah Dave yang tengah duduk di ruang tamu di ruangan.


"Dave, bisakah kau keluar sebentar. Aku akan ganti baju dulu." ucap Vale lembut.


Dave pun kemudian berdiri dan berjalan ke arah Vale.

__ADS_1


"Apakah aku harus keluar? Kau bisa abaikan saja diri ku. Anggap aku tidak ada di ruangan ini. Jangan malu-malu." goda Dave.


"Aku tidak akan memperlihatkan tubuh ku pada pria asing." ujar Vale.


Mendengar hal itu cukup membuat Dave terkesan.


"Kalau begitu, Jadikan aku bukan orang asing untuk mu." ucap Dave, menatap wajah Vale dengan tatapan mata tajam. Iris mata Dave yang tajam itu menembus ke iris mata Valerie yang berwarna cokelat dengan begitu intens.


Mendapatkan serangan tatapan mata tajam Dave. Membuat Vale tidak siap. Tapi, Vale merasakan desiran aneh pada hati dan juga jantungnya.


Bahkan, Valerie berani bersumpah. Jika kini jantung nya sudah terpacu lebih cepat. Dan hatinya pun kian berdebar debar.


Dan tanpa Vale sadari, keringat dingin tiba tiba mulai menguasai dirinya. Menjadikan kulit tubuh nya kini terasa lembab dengan keringat yang tiba keluar dari dalam tubuhnya. Menjadikan baju yang ia kenakan kini terasa basah.


Dave secara refleks mengambil sebuah tissue dan mengusap keringat dingin yang terlihat berkilau di kening Vale.


Valerie, aku berharap, bisa mencium aroma keringat mu ini pada suatu saat. Dan aku juga ingin, merasakan tetesan keringat mu menyatu dengan keringat ku.


Belum apa apa Dave sudah berfantasi dengan Valerie.


"Oh, maaf. Aku hanya mengusap keringat mu. Aku akan keluar, dan akan kembali lagi setelah kau selesai ganti baju." ucap Dave, yang entah memang di sengaja atau tidak di sengaja. Ia menyimpan tissue yang ia gunakan untuk mengusap keringat Vale ke saku celananya. Bukannya ia membuangnya.


Dave pun kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu dan keluar dari kamar.


Dave ternyata tidak benar-benar pergi. Ia saat itu berdiri sambil bersandar pada dinding tembok.


Sambil menyerukan kedua tangannya ke saku celananya. Dave nampak sedang memikirkan sesuatu.


Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Tapi aku yakin, jika aku merasakan sesuatu terhadap dirimu Valerie.


Aku tidak hanya sekedar tertarik dengan dirimu. Tapi sepertinya saat ini aku sudah jatuh cinta denganmu. Perasaan ingin memiliki dirimu begitu besar. Aku tau, diri mu bukan siapa siapa ku. Dan aku juga bukan siapa-siapa bagi mu.

__ADS_1


Tapi entah kenapa, aku sudah sangat begitu takut kehilangan dirimu. Dan di saat mantan suamimu itu datang dan berbicara denganmu. Entah kenapa juga aku sangat tidak suka dengannya.


Aku merasa cemburu, merasa tidak terima jika kau berada dekat dengan mantan suamimu itu.


Dengan cara apapun, aku harus bisa mendapatkan mu. Kamu harus bisa aku miliki. Tidak ada satu orang pun yang boleh memiliki dirimu.


Termasuk mantan suamimu itu. Yang aku rasa, dia masih menyimpan perasaan terhadap mu. Meskipun dia sudah beristri, bagaimana cara dia memperhatikan dan menatapmu. Aku bisa tahu, Julian masih peduli dan sangat ingin menjadikan dirinya penolong mu. Perasaan ingin melindungi mu yang masih terlihat begitu jelas.


Ketika Dave sedang asyik dengan pikirannya yang sedang memikirkan Valerie. Dari ujung lorong, suara derap sepatu Julian terdengar oleh Dave.


Dave kemudian menoleh ke arah lorong. Ketika Dave melihat sosok Julian sedang berjalan menuju ke arahnya. Membuat Dave mengepalkan tangannya.


"Dave, sedang apa kau di sini." tanya Julian.


"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu Julian. Sedang apa kau di sini. Bukankah aku sudah katakan. Kau tidak perlu sering sering untuk menjenguk Valerie. Jangan sibukkan dirimu untuk sekedar menjenguk Vale. Karena aku sudah standby di sini untuk menjaganya. Ini adalah bentuk rasa tanggung jawab penuh ku terhadap Vale." ujar Dave.


"Apakah itu artinya, kamu melarang ku untuk mengunjungi mantan istriku." sahut Julian.


"Tolong jangan selalu katakan mantan, mantan. Aku tau Julian, kau adalah mantan suami Vale. Kenapa tidak memanggil dirinya dengan sebuah nama saja. Kau tidak perlu menjelaskan siapa diri mu baginya dulu." tukas Dave.


"Aku tidak perduli kamu melarang ku Dave. Aku adalah orang yang paling tau tentang Valerie. Kau tidak tau apa apa tentang kami, kau tidak tau betapa dekatnya aku dengannya. Vale juga kenal akrab dengan istri ku. Mereka berdua berteman baik. Tidak ada masalah jika aku peduli dengan Valerie. Karena Vale adalah ibu dari putri ku. Aku hanya ingin memastikan bahwa kondisi dia baik." ucap Julian panjang lebar.


Sepertinya, Julian juga tidak menyukai Dave. Yang menurut Julian, Dave sudah bersikap posesif pada Valerie. Padahal ia bukan siapa siapanya Vale.


"Valerie itu sudah menjadi bagian dari keluarga ku. Apapun yang terjadi dengannya. Aku pasti akan ikut campur." imbuh Julian, yang kemudian ia hendak masuk ke dalam kamar tempat Vale di rawat.


Tapi saat itu pintu kamar di kunci dari dalam.


"Jangan masuk, mantan istri mu sedang di gantikan baju oleh perawat. Oleh sebab itu aku di usir tadi." ujar Dave.


"Baguslah." ucap Julian, yang kini juga ia ikut menuggu Vale untuk ganti baju.

__ADS_1




__ADS_2