
Semenjak Jenna mendapati Vidio dan dan juga foto Vale di ponsel milik suaminya. Ia masih enggan untuk berbaikan dengan Julian.
Penjelasan Julian yang di rasa mengambang tentang Vale membuat Jenna meragukan cinta Julian untuk dirinya.
"Apakah aku egois jika aku menginginkan cinta suami ku hanya untuk aku seorang." ucap Jenna dalam hati, ketika ia saat itu sedang mengendarai mobilnya menuju Mansion.
"Aku percaya dengan semua klarifikasi Valerie. Tapi seperti nya Julian tetap tidak mau berterus terang pada ku tentang perasaannya yang sesungguhnya terhadap Vale. Setiap pasangan pasti tidak akan merasa nyaman jika pasangannya masih menyimpan perasaan pada wanita lain. Dan Itulah yang aku rasakan. Aku yakin, julian tidak hanya punya rasa sayang yang biasa pada Valerie. Tapi sayang yang Julian maksudkan itu adalah sebuah perasaan suka atau mencintai." desis Jenna dalam hati.
Tak lama kemudian, Jenna yang saat itu baru saja sampai di Mansion berpapasan dengan Julian yang saat itu juga baru saja sampai. Mereka sengaja membawa mobil sendiri sendiri saat ke kantor.
Julian yang baru saja keluar dari mobilnya langsung menghampiri Jenna.
Bahkan julian sudah menunggu Jenna di sisi pintu mobil sang istri yang sepertinya masih sedang marah dengan nya.
"Hai sweet heart." sapa Julian pada Jenna, saat Jenna membuka pintu mobilnya.
Jenna tak menjawab sapaan Julian. Terlebih, Jenna sengaja mengacuhkan suaminya itu.
Setelah menutup pintu mobilnya, Jenna kemudian langsung masuk kedalam rumah. Julian yang paham jika Jenna masih marah dengannya kemudian mengikuti langkah sang istri memasuki rumah mereka.
Jenna saat itu langsung naik ke lantai atas ke kamar. Julian pun mengikuti.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Jenna yang telah masuk terlebih dahulu kemudian duduk di tepian ranjang sambil melepaskan sepatu kantornya.
Setelah Julian juga kini telah masuk ke kamar. Julian langsung menutup pintu dan mengunci pintu kamarnya.
"Kau masih marah dengan ku sayang?" tanya Julian, sambil ia melepaskan kancing kemejanya satu persatu di hadapan Jenna.
"Kau pikir saja sendiri." ucap Jenna dengan menampakkan gurat wajah penuh kekesalan.
"Jen, aku sudah jelaskan semuanya sama kamu kan. Aku hanya mencintai mu. Jangan kaitan Vale dengan masalah kita." ujar Julian.
Mendengar kata kata itu, Jenna yang tadinya hendak berlalu ke kamar mandi kemudian menghentikan langkahnya.
"Bahkan sekarang aku hampir tidak mengenali suami ku sendiri. Jadi selama ini kau memang menaruh perhatian dengannya kan. Sekarang aku tau, yang bermasalah itu bukan Valerie. Tapi kamu sendiri. Aku lebih percaya perkataan Valerie dari pada perkataan mu Julian. Vale mengakui jika dulu ia memang mencintai mu Jatuh cinta dengan mu. Aku bukan wanita bodoh Julian. Aku berhak tau isi hati mu. Tapi kamu masih saja tidak mau mengaku. Fine, kita liat saja nanti." ucap Jenna yang kemudian ia berlalu dari hadapan Julian dan bergegas ke kamar mandi.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Jenna kemudian langsung mengunci pintunya.
"Bagaimana aku bisa nyaman hidup dengan seorang suami yang ternyata dia masih menyimpan perasaan cinta pada mantan istrinya. Apalagi mereka akan tetap selamanya menjalani komunikasi" desis Jenna dalam hati. Di balik pintu kamar mandi kala itu. Sebuah kenyataan yang membuat dirinya tidak nyaman dengan Julian.
Sedangkan Julian sendiri, hanya bisa tertegun melihat reaksi Jenna yang seperti itu.
Julian yang saat ini sudah melepas kemejanya hanya bisa duduk sambil termenung di sisi tempat tidur.
__ADS_1
Julian POV
"Cinta ku saat ini memang hanya untuk mu Jenna. Tapi Valerie juga punya tempat spesial di hati ku."
"*Aku akui, aku punya perasaan yang begitu dalam. Yang aku rasakan pada Vale. Sebuah perasaan yang sejak dulu tidak bisa aku ungkapkan. Ini bukan saja tentang usia kami yang terpaut jauh dulu.Tapi lebih dari itu. Aku tidak ingin kehidupan Vale stuck saat ia mengenal ku dan bahkan ia secara terang terangan mencintai ku. Aku ingin di bisa meraih dunianya. Sebuah dunia penuh dengan pengalaman dan juga petualangan. Aku sudah senang bisa berjumpa dengan nya dan menjalin kerjasama soal rahim bayaran bersamaan nya. Aku sudah banyak mengambil sesuatu dari Valerie. Kegadisannya, kesempatan untuk menikah sekali seumur hidup, dan bahkan aku telah membuatnya menjadi janda di usia muda. Hal itu membuat ku bersalah terhadap Vale".
"Kini, pada akhirnya, Vale telah berhasil menemukan jati diri nya dan menjadi wanita berkelas setelah beberapa tahun lalu. Ia bahkan tidak mau menerima imbalan yang seharusnya sudah menjadi hak nya. Dia justru mengembalikan semua nya. Sebuah sikap yang membuat aku semakin menyukai karakter nya dan juga bangga dengan dirinya."
"Dulu aku berharap, Vale bisa meneruskan kuliahnya. Aku berharap dia jadi orang sukses. Menjadi orang yang sesuai dengan apa yang ia cita cita kan*. Dan sekarang, *dia sudah menjadi seseorang yang begitu ia cita citakan dulu."
"Keberadaan Elenor semakin membuat rasa kagum ku pada Vale semakin kuat. Tidak hanya sukses dalam karir nya, Vale juga sukses menjadi seorang ibu yang luar biasa dan hebat. Seorang single mother yang mempesona. Oh, dahm, sekarang aku gantian menjadi pengagum mu Vale. Dan rasa kagum ini, aku tidak akan bisa ungkapkan."
"Maaf kan aku Jen, kau mungkin benar aku menyukai Valerie. Tapi aku akan tetap menyangkal itu. Aku tidak pernah punya niat untuk menduakan mu Jen. Kau akan tetap menjadi satu-satunya wanita ku. Biarkanlah aku mengubur perasaan semu itu terhadap Vale seiring berjalannya waktu. Karena bagaimanapun, aku dan Vale memang harus tetap berhubungan baik demi Elenor*. Tapi aku berjanji, aku tidak pernah dan berniat untuk menduakan mu Jenna. Aku akan meyakinkan diri mu untuk kembali bisa percaya dengan diri ku."
Mr Julian Alexander
__ADS_1