Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Pengakuan Jenna


__ADS_3

"Iya, saya sudah jatuh cinta dengan Julian. Padahal dalam perjanjian pernikahan kontrak kami, aku di larang untuk jatuh cinta dengan putera Mama. Tapi aku tidak bisa menahan rasa cinta ku terhadap Julian. Tapi, sejak saya mengetahui Julian telah menikah siri dengan Jenna. Sejak saat itulah saya mencoba untuk menghentikan perasaan ku pada Julian." tutur Vale yang akhirnya berterus-terang tentang perasaannya pada Roseline.


"Jadi selama ini kau menjalani perasaan yang rumit ter untuk diri mu sendiri. Kau mencintai putraku dan putraku ternyata mencintai orang lain. Dan kau bersamanya. Ya Tuhan, bagaimana kau kuat menjalani itu semua Vale, di tambah lagi saat ini kau sedang hamil. Benar-benar tidak punya perasaan Julian." ujar Roseline merasa geram dengan sikap Julian yang menganggap enteng sebuah perasaan.


"Saya sudah menerima konsekuensinya. Dari awal Julian sudah mengingatkanku untuk tidak mencintainya. Tapi saya tidak bisa menahan perasaan itu. Tapi Mama tenang saja, saya sudah biasa dengan penolakan Julian, dan ku rasa itu memang yang terbaik bagi kami."


"Entahlah Vale, Mama sendiri bingung harus menyikapi bagaimana jika sudah menyangkut soal perasaan. Yang Mama tau, Julian memang sangat mencintai Jenna. Mama bisa liat itu. Jenna sudah pernah di ajak ke Athena untuk berkunjung ke rumah kami yang ada di sana. Maaf bukan maksud mama untuk menunjukan itu pada mu. Toh, mama sekarang sudah mengakui diri mu sebagai menantu kan."


"Tenang saja Ma, saya tidak akan tersinggung."


"Sekarang, saya tidak mempermasalahkan pernikahan siri Julian dan Jenna. Mereka saling mencintai, aku berharap, hubungan mereka akan baik kembali. Seperti sebelumnya, sebelum Jenna mengetahui hubungan ku dan Julian. Yang memang kami hanya menikah kontrak. Terlepas dari itu semua saya tidak mau ikut campur."


"Mama yakin, masalah ini pasti akan bisa di bicarakan dengan baik baik. Asalkan ada kesepakatan yang baik bagi kalian bertiga. Mama akan kembali ke Mansion. Untuk sementara Mama akan tetap berada di Indonesia sampai kau melahirkan."


"Terimakasih Ma, sudah mau menjadi teman mengobrol ku dengan baik. Jujur saat ini saya merasa sedikit lega."


"Sama sama Valerie."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Saat itu Julian sengaja mendatangi kantor Jenna di jam pulang kantor.


Ia tidak menemui Jenna di tempat kerjanya. Melainkan menunggu ke munculan Jenna di lobby gedung perkantoran Sahara Corp.


Julian dengan sabar menunggu Jenna dari dalam mobil.


Beberapa saat kemudian, bertepatan dengan jam pulang kerja. Julian kini dapat melihat Jenna sudah keluar dari gedung kantor dan sedang berdiri di lobby gedung yang sepertinya sedang menunggu taksi.


Begitu melihat Jenna, Julian langsung turun dari mobil dan menghampiri Jenna.


"Jen, ikut aku." ujar Julian sambil mencengkram lengan Jenna. Jenna yang tiba-tiba di datangi oleh Julian pun terkejut.


Awalnya, Jenna menolak untuk di ajak oleh Julian. Tapi karena di lobby saat itu sedang banyak orang dan Jenna juga tidak ingin menjadi pusat perhatian akhirnya ia menuruti ajakan Julian.


Tidak melepaskan genggaman tangannya pada Jenna. Julian mengajak Jenna untuk masuk kedalam mobilnya.


"Masuk Jen." perintah Julian.


"Kita mau kemana?" tanya Jenna pada Julian, yang kala itu belum mau untuk masuk kedalam mobil.


"Masuk saja, nanti akan ku beritahu kita mau kemana. Ayo masuk." seru Julian pada Jenna.


Jenna pun mau tidak mau akhirnya masuk kedalam mobil milik Julian.


Setelah Jenna sudah duduk di kursi penumpang bagian depan. Julian kemudiaan memakaikan sabuk pengaman untuk Jenna.


Setelah selesai memakaikan sabuk pengaman untuk Jenna, Julian kemudian menutup pintu mobil dengan pelan. Lalu segera ikut masuk ke dalam mobil untuk mengemudikan mobilnya.


"Kenapa kau memaksa ku untuk ikut dengan mu?" tanya Jenna kepada Julian dengan lirikan mata tajam.


"Ada banyak hal yang harus kita bicarakan Jen, kita tidak bisa terus-menerus seperti ini."

__ADS_1


"Memangnya kau sudah punya keputusan untuk hubungan kita?"


"Tentu saja aku punya solusi untuk mengatasi masalah kita dan aku pasti punya keputusan yang terbaik untuk kita. Tidak mungkin aku tidak melakukan apa apa."


"Aku ingin berpisah dengan mu!" seru Jenna.


"Jangan harap aku akan mengabulkan permohonan mu. Aku mencintai mu Jen, aku akan mempertahankan hubungan kita."


"Seseorang yang mencintai tidak akan membohongi pasangannya."


"Sebaiknya kita bicara nanti saja dengan kepala dingin." ujar Julian, yang saat itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan kencang.


"Bisakah kau mengendarai mobil dengan pelan." pinta Jenna, yang secara refleks ia memegangi perutnya.


"Maaf," jawab Julian, kemudian ia mengurangi kecepatan laju mobilnya.


Julian tidak mengarahkan laju mobilnya menuju Apartemen Jenna ataupun menuju Mansion nya.


Justru mobil mewah yang Julian kendarai itu kini berbelok menuju sebuah Hotel ternama di sisi jalan.


"Untuk apa kita ke hotel?" tanya Jenna penasaran.


"Aku ingin bicara berdua saja dengan mu. Kita butuh privasi. Bukankah tadi kau bertanya keputusan apa yang terbaik untuk hubungan kita. Dan sekarang aku ingin kita saling bicara dengan baik baik. Dan aku harap kau mengerti dan paham. Bahwa aku tidak diam saja dengan masalah yang terjadi dengan mu saat ini."


Julian menggenggam tangan Jenna di sepanjang mereka saat itu berjalan beriringan menuju resepsionis.


Julian kemudian melakukan cek in hotel di meja resepsionis tersebut.


Lagi lagi Julian mengandeng tangan Jenna dan menggenggamnya dengan erat. Ia tidak melepaskan genggaman tangan wanita yang juga sedang mengandung itu.


Tak lama kemudian, mereka kini telah sampai di kamar hotel yang telah di pesan.


Julian kemudian membukakan pintu kamar hotel untuk Jenna.


"Masuklah sayang, kita bicarakan baik baik masalah kita." ujar Julian lembut.


Jenna kemudian masuk tanpa banyak bicara.


Setelah Jenna masuk, Julian pun ikut masuk dan kemudian ia menutup pintunya.


Jenna saat itu duduk di tepian ranjang kamar hotel.


Sedangkan Julian sendiri kini nampak melepaskan jasnya dan melonggarkan beberapa kancing kemejanya.


Setelah itu ia ikut duduk di sisi Jenna sambil merangkul bahu Jenna dari belakang.


"Aku ini suamimu Jen, hubungan kita sudah terjalin dengan begitu dekat. Aku harus membuktikan bagaimana lagi agar kau percaya bahwa kau lah yang aku cintai. Hanya dirimu yang aku inginkan. Sedangkan Valerie, dia hanyalah partner bisnis ku soal rahim bayaran. Dan hubungan ku dengan Vale terjadi sebelum aku mengenalmu secara dekat dulu."


"Partner bisnis atau partner rajang juga." imbuh Jenna dengan nada ketus. Dan yang sebenarnya, Jenna juga merasa cemburu.


"Bukankah kau sudah tau soal keinginan ku tentang rahim bayaran itu. Ku rasa aku tidak perlu menjelaskan lagi. Hubungan ku dan Valerie sudah hampir selesai. Sebentar lagi Vale akan melahirkan, dan setelah itu aku akan menceraikannya. Dan kita bisa menikah secara hukum."

__ADS_1


"Mudah sekali bagi mu mengatakan hal itu Julian. Apa kau kira aku langsung bisa menerima anak mu dari Vale. Meskipun aku tau anak itu tidak bersalah. Tapi kehadirannya dari sebuah hubungan yang kau rahasiakan tetap saja membuat ku terluka. Wanita mana yang bisa terima jika suaminya tiba tiba memberi tau jika dia sudah punya anak. Dan wanita mana yang tidak sakit hati di nikahi siri sedangkan kau telah menikahi sah dengan seseorang yang hanya karena kau ingin punya anak dari wanita itu. Sikap keras kepala ku tidak akan seperti ini jika kau dari awal jujur Julian. Tapi semua sudah terlambat, kau memang sengaja melakukan ini dengan sadar dan dengan penuh rasa egois. Vale mungkin tidak begitu berdampak tentang masalah rumit kita bertiga. Tapi di sini aku yang paling menjadi korban atas semua tindakan sengaja penuh ke egoisan yang kamu lakukan."


"Iya aku mengakuinya, aku memang salah. Ini salah ku."


"Setelah semua yang terjadi kau hanya minta maaf dan kau kira semua selesai." ujar Jenna masih dengan sikap keras kepala.


Julian kemudian menyisipkan rambu panjang Jenna yang menutupi pipinya. Tidak hanya itu, Julian juga kini meraih dagu Jenna dan menariknya agar Jenna mau menatap wajahnya. Akan tetapi Jenna justru melegos ke samping.


Mendapati sang istri siri yang sudah lama ia tidak jamah dan kini sedang jual mahal justru membuat Julian gemas.


"Jen, jangan seperti ini. Sudahi masalah kita. Aku janji akan memperbaiki semuanya. Kita mulai lagi hubungan kita dari awal ya." ucap Julian lembut, yang kini ia sudah mendekap tubuh Jenna dari belakang dan meletakkan kepalanya di sisi leher jenjang Jenna.


Jenna yang masih marah pada Julian pun merasa risi dan hendak ingin pergi.


Tapi belum sempat Jenna berdiri, Julian sudah lebih dulu menarik tubuh Jenna.


Sehingga kini tubuh Jenna sudah berada dalam pelukan Julian.


Dan dengan gerakan cepat, Julian langsung meletakkan tubuh Jenna di atas ranjang dan kemudian Julian menindihnya.


"Kau tidak akan macam macam kan." seru Jenna.


"I Miss You My Wife." desis Julian.


Kemudian Julian mendekatkan wajahnya ke wajah Jenna.


Kedua tangan Julian meraih kedua tangan Jenna dan kemudian ia menautkan jemarinya pada jemari Jenna.


"Aku ingin hak ku, dan kau tak bisa menolaknya."


Ujar Julian yang kemudian sudah menyerang leher Jenna dengan cumbuan cumbuan mesra.


Sesaat, Jenna membiarkan Julian melakukan hal itu kepada dirinya. Dan sebenarnya ia juga tengah berfikir bagaimana caranya untuk bisa lepas dari kungkungan Julian saat itu.


Saat Jenna tengah berfikir, Julian justru telah membungkam bibir Jenna dengan ciuman lembut penuh gairah pada bibir Jenna.


Semakin Jenna diam dan pasrah, Julian justru semakin menjadi jadi.


Dan sampai akhirnya, Julian semakin liar dan menindih tubuh Jenna.


Saat Jenna ingat bahwa dirinya tengah hamil muda. Reflek ia lakukan mendorong tubuh Julian.


"Julian, stop. Hentikan." seru Jenna, akan tetapi Julian yang sudah di kuasai hasrat tidak mengindahkan peringatan Jenna.


"Julian stop." seru Jenna lagi. Tapi tetap Julian tidak mendengarkan dan makin merajalela pada tubuh Jenna.


"Stop, kau menekan perut ku. Aku hamil Julian." seru Jenna lagi.


Mendengar Jenna berseru bahwa ia hamil langsung membuat Julian menghentikan aktifitasnya.


"Apa, kau hamil!" seru Julian

__ADS_1


__ADS_2