Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Season 2 New life begins : Nightmare


__ADS_3

"I love you Valerie." desis Julian berbisik di telinga Valerie dengan nada suara mengoda. Ketika Vale berada di bawah kungkungan Julian. Saat mereka berdua sedang berada di sebuah kamar hotel di puncak.


"I love you too Mr." ucap Vale, sambil menangkup wajah tampan Julian dengan kedua telapak tangannya. Kemudian ia melabuhkan ciuman yang dalam ke bibir pria matang itu.


"Kau akan selalu aku cinta. Dan aku akan selalu mencintaimu." ucap Vale lagi, sambil mengatur napasnya yang masih terengah-engah.


Vale nampak menyerukan satu tangannya ke dalam rambut tebal Julian yang saat itu sudah lengket bercampur dengan keringat.


Tidak ada keringat mu atau keringat ku pada saat Vale dan Julian tengah menikmati hubungan intim bersama. Yang ada pada saat itu iyalah keringat bersama.


Berpeluh bersama, saling menikmati ke intiman dan saling memberikan kepuasan hasrat sama sama.


Mereka benar-benar melampiaskan hasrat mereka saat itu. Dan mereka melepaskan semua rasa keinginan berhubungan badan setelah sekian tahun mereka saling tahan.


Dan malam itu, mereka melakukannya dengan sama sama suka. Bahkan mereka sangat menikmati hubungan intim tersebut.


Sesaat setelah mereka melakukan penyatuan yang sudah mereka ulang berkali kali. Julian kini terkulai lemas di samping Vale.


Setelah sama sama saling terpuaskan hasratnya. Baik Vale dan juga Julian saling tiduran berhadapan miring dan saling memandang wajah mereka satu sama lain. Dengan tatapan penuh mendamba dan penuh cinta.


"Kau akan selalu menjadi kangguru ku." ucap Julian sambil tersenyum manis pada Vale.


Kemudian, Julian mendekatkan wajahnya kembali ke wajah Vale dan memberikan ciuman lembut dan dalam ke bibir Valerie untuk kesekian kalinya.


Julian nampak menyesap dan mencium dengan penuh kelembutan bibir ranum Vale. Memanjakan wanita yang ia cintai itu dengan pelayanan cinta kasih yang mendalam.


"Dan kau akan selalu menjadi Mr ku yang aku cintai juga." desis Vale, sesaat setelah Julian melepas pagutan bibinya.


"Aku akan menikahi mu lagi Vale. Kita akan bersama sama."


"Bagaimana dengan Jenna?"


"Dia sudah tidak percaya lagi pada ku. Dan dia selalu curiga pada ku. Aku akan menceraikan nya, aku akan menceraikannya, aku akan menceraikannya."

__ADS_1


"Tidak" teriakan Jenna seketika itu. Jenna terbangun dari tidurnya dengan napas yang terengah-engah.


"Ma, kenapa Mama berteriak." tanya Louis, yang kini ia juga ikut bangun dari tidurnya.


"Tidak ada apa apa sayang. Kembali lah tidur, Mama hanya bermimpi."


"Mama mimpi apa." tanya Louis lagi penasaran.


"Sudahlah Louis, jangan bertanya lagi. Kembalilah tidur. Mama hanya bermimpi buruk." ucap Jenna, kemudian ia menidurkan puteranya kembali.


Setelah Louis tertidur, Jenna kemudian berinsut dari ranjang dan keluar dari kamar.


Jenna berjalan menuju dapur dan kemudian ia mengambil segelas air putih dari lemari pendingin.


Sambil membawa air putih itu ke meja makan. Jenna kemudian duduk di salah satu kursi meja makan dan meminum air putih yang ia bawa untuk membuatnya lebih tenang.


"Menjijikkan, kenapa aku justru malah bermimpi mereka sedang bercinta. Apakah ini sebuah firasat, jika sangka an ku selama ini benar tentang mereka." desis Jenna dalam hati.


Ada lima pangilan tak terjawab dari Julian. Jenna kemudian membuka pesan singkat yang Julian kirimkan.


"Jen, kenapa tak menjawab panggilan ku."


"Hubungi aku balik jika kau sudah tidak sibuk"


Tidak ingin menghubungi Julian, Jenna hanya menuliskan pesan balik untuk sang suami.


"Maaf, aku tidak tau jika kau menelpon ku. Tadi aku sedang menidurkan Louis, selamat malam Julian."


Begitu Jenna meletakkan ponselnya di meja. Sebuah panggilan masuk terlihat pada layar ponsel Jenna.


Mau tak mau Jenna pun kemudian mengangkat panggilan tersebut.


"Iya Julian." sapa Jenna datar pada sang suami.

__ADS_1


"Kau belum tidur? Apa Louis susah tidurnya?" tanya Julian dari sebarang telepon.


"Tidak, dia tidur awal, dan aku tadi ketiduran di sampingnya. Kenapa sudah larut kau juga belum tidur?" tanya balik Jenna pada Julian.


"Aku tidak bisa tidur sayang. Biasanya ada kamu di samping ku. Sekarang kamu tau tidak ada. Aku sendirian di mansion, aku kesepian."


"Apa besok kau jadi ke puncak bersama Vale?" tanya Jenna akhirnya, dengan sedikit ragu-ragu.


"Mau tak mau aku harus ke sana. Aku masih berharap kau juga ikut meninjau lokasi proyek. Aku akan menjemputmu pagi pagi sekali. Louis nanti biar di temeni babysister nya."


"Aku tidak bisa ikut. Kau saja yang meninjaunya."


"Apa kau yakin."


"Memangnya kenapa?"


"Aku tidak akan macam macam Jen, kau harus percaya dengan ku." ucap Julian meyakinkan sang istri.


"Memangnya aku akan berfikir apa?" selidik Jenna.


"Pasti kau akan berfikir yang tidak tidak tentang ku bersama Vale." ujar Julian jujur.


"Kalian sudah sama sama dewasa. Aku rasa kalian sudah bisa berfikir jernih kan."


"Istirahatlah, sudah tengah malam. Selamat malam Julian."


"Selamat malam Jen, aku mencintaimu." ucap Julian dengan nada suara lembut.


"Iya," jawab Jenna singkat.


"Katakan i love you too Jen." ucap Julian lagi.


"Love you too, Julian." jawab Jenna dengan terpaksa.

__ADS_1


__ADS_2