
Jakarta
"Non, makan siangnya sudah siap." ucap Naina yang menghampiri Valerie di ruang tengah.
"Oh, iya Bik." jawab Vale, kemudian ia segera bangkit dari rebahan nya. Lalu berjalan ke arah meja makan.
Saat ia melihat hidangan yang sudah tersaji dengan rapi di meja makan. Entah kenapa nafsu makannya yang tadi begitu membuat ia lapar, sekarang membuat Vale sudah tak berselera lagi.
Saat ia kini sudah duduk di kursinya dan sudah mengambil beberapa lauk yang sudah ia taruh di piring. Lagi lagi Valerie merasa nafsu makannya sekarang justru sudah hilang.
*Aku bercinta dengan mu hanya demi bisa mendapatkan keturunan Vale. Demi kau biar cepat bisa hamil. Setelah kau hamil aku tidak akan menyentuh mu lagi*
Kata kata yang Julian tulis di pesan yang kala itu ia baca, membuat Vale seolah-olah menjadi wanita murahan.
Apakah aku sudah menjadi wanita murahan, desis Valerie dalam hati.
Tapi, Vale kemudian teringat lagi dengan kata kata Julian yang terdengar bijak kala itu.
Yang meyakinkan dirinya bahwa, dirinya sangat berharga.
Ingat Vale, pernikahan kita hanyalah pernikahan kontrak. Jika aku boleh jujur, aku sebenarnya memang sangat sayang padamu. Aku menyayangimu, tapi perasaan sayangku terhadapmu adalah ungkapan sayang sebagai seseorang yang lebih tua terhadap diri mu yang masih muda dari ku. Kau adalah partner bisnisku, kau adalah calon ibu dari keturunanku. Dan oleh sebab itu, aku sangat menyayangimu. Jadi, jangan kau salah artikan rasa sayangku terhadapmu. Dan, jangan merasa kau tidak aku hargai. Jika kau pikir aku tidak menghargai mu, kau salah. Kau sangat berharga, terlebih untuk ku, kau luar biasa. Terimakasih sudah mau menjadi partner bisnis ku. Terimakasih juga atas keperawanan yang rela kau berikan untuk ku. Aku sangat terhormat, semua pelayanan mu dan semua aktivitas yang sudah kita lakukan bersama. Apa yang aku berikan untuk mu tidak akan bisa sebanding dengan apa yang akan kau berikan untuk ku, oke." ucap Julian menenangkan hati Vale.
Tapi berharga untuk siapa?
Apakah hanya berharga bagi Julian?
Lalu bagaimana untuk dirinya sendiri!
Vale kemudian mempertanyakan keputusan yang sudah ia ambil. Dan kembali ia mengevaluasi setiap perasaan yang sekarang ia rasakan.
Dan nyatanya, saat ini perasaannya memang sudah berubah.
Apakah aku sudah terlalu gegabah menerima tawaran Julian. Tapi aku bisa apa sekarang. Semua sudah terjadi dan bahkan sedang berlangsung sesuai dengan kesepakatan, pikir Vale.
Di lain sisi, dia sudah menyalahi kontrak di point ke empat. Yang tidak boleh menggunakan perasaan.
__ADS_1
Suatu hal yang tidak bisa ia kendalikan.
Dan di sisi lain, ia telah kehilangan kehormatannya. Meskipun itu dengan cara tidak berzina.
Vale juga kehilangan kesempatan menikah sekali seumur hidup. Dengan pasangan yang ia cintai, dan saling mencintai.
Kenapa sekarang Vale justru menyesali hal hal yang tidak pernah terpikirkan oleh nya saat itu.
Justru ia hanya fokus dengan iming-iming yang Julian akan berikan.
Apakah Vale menyesal? Menyesal pun percuma, sudah terlambat.
"Sial," umpat Vale pada dirinya sendiri.
"Non, minumnya." ucap Naina sambil meletakkan segelas air putih di samping piring Valeri.
"Terimakasih Bik," jawab Vale sopan.
"Sama sama non, selamat makan siang." imbuh Naina, kemudian Naina berlalu.
"Bik," pangil Vale.
"Duduklah Bik, di kursi itu, temani aku makan siang." ucap Valerie.
"Tapi non, saya tidak enak duduk di sini itu. Makan satu meja dengan non Vale." ujar Naina yang merasa tak enak hati dengan tawaran Vale.
"Memangnya kenapa Bik?"
"Non kan,"
"Orang kaya! Apa yang aku punya saat ini hanyalah pemberian Bik. Aku sebenarnya orang miskin. Aku tidak punya apa apa, aku bahkan seorang yatim-piatu."
"Non," Naina tampak kaget dengan perkataan Vale, sampai-sampai Naina tak bisa lagi bersuara.
"Tolong panggilkan Bik Aise, dan bawalah dua piring kosong. Temani aku makan, kalau tidak aku tidak mau makan." ancam Vale.
__ADS_1
"Jangan non, nanti Tuan Julian akan marah jika saya tidak bisa merawat non Vale." ujar Naina.
"Kalau begitu temani aku makan Bik." ucap Vale lagi lembut.
Kemudian, Naina akhirnya mengikuti perintah Valerie. Setelah memangil Aise, siang itu mereka menikmati makan siang bertiga.
Sikap Vale yang humble dan periang membuat Naina dan juga Aise merasa takjub serta salut dengan kerendahan hati sang pemilik Penthouse mewah itu.
Seusai makan siang, Vale kemudian naik ke lantai atas Penthouse, untuk pergi ke kamarnya.
Setelah ia sampai di kamar, Valerie kemudian bergegas menuju nakas yang ada di samping tempat tidur. Ia mengambil sesuatu dari laci yang ada di sana.
Julian sebelum pergi ke Bali, membelikan beberapa alat tes kehamilan. Dan sesuai permintaan Julian, Vale berniat untuk mengecek kondisi dirinya.
Apakah ia sudah hamil apa belum. Vale kemudian membawa alat tes itu ke kamar mandi. Lalu mengunakan alat tes pack itu untuk mengetes urine nya.
Setelah beberapa saat menunggu, hasilnya pun terlihat.
Mata Valerie membulat sempurna dengan mulut ternganga ketika ia mengetahui hasil percobaan pertama tes saat itu.
Kira kira hasilnya apa ya ?
🍁🍁🍁🍁🍁
Bali
Saat Jenna sudah dengan sangat berani menanyakan tentang ke gentlean nya. Seketika membuat Julian meradang. Julian menatap mata Jenna dengan sangat tajam.
Menatap dalam dalam mata Jenna dengan tatapan penuh tuduhan dan juga ancaman. Jenna sendiri nampak sedikit kelepasan ketika itu.
"Kau tidak tau siapa aku Jenna." ujar Julian yang saat ini berdiri dengan begitu dekat di hadapan Jenna.
Jenna yang sejak tadi juga tak mengalihkan pandangannya ke arah Julian. Kini menciut nyali nya saat mata tegas dan tajam itu menatapnya.
Desiran desiran aneh selalu menguasai hati Jenna setiap kali Julian menatapnya seperti itu.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Julian terpaku menatap Jenna. Ia kemudian berlalu dari hadapan wanita yang sedang ia taksir itu.
Sedangkan Jenna sendiri tampak menyesali apa yang pernah ia lontarkan pada Julian.