
"Apa gunanya Jeff jika kau selalu menjemput ku." ujar Valerie mengingatkan Julian jika dirinya sudah punya sopir pribadi yang siap mengantar jemputnya kuliah.
"Aku ada meeting di wilayah sini tadi Vale, jadi sekalian saja aku mengajakmu makan siang. Ayo kita cari restoran yang enak. Aku ingin menemani Mommy nya calon anak ku makan siang." ujar Julian, dan hal itu justru membuat Vale makin pusing.
Akhirnya di sebuah restoran yang cukup populer, Julian mengajak Vale untuk makan siang di sana.
"Pilihlah menu yang kau suka dan yang sehat untuk bayi ku. Aku ingin kau dan bayi ku selalu sehat" ucap Julian di saat dia juga masih memilih milih menu makanan.
"Sudah ada koki terbaik di rumah, Naina juga pintar memasak." jawab Vale
"Sekali kali boleh kan makan di luar. Aku tidak ingin kau menuduh ku tidak perhatian dengan calon anak ku." ucap Julian membela diri.
"Meskipun kau tak perhatian, aku tidak akan menuntut mu." jawab Vale tenang.
Julian kemudian menatap Vale, wajah itu terlihat makin cantik dan seri.
Sosok wanita lugu dan bar bar seolah-olah terganti dengan aura wanita yang punya pikiran dewasa.
Di saat mereka sedang asyik menikmati makan siang dengan menu makanan yang sudah datang. Tanpa sengaja seorang menghampiri Valerie.
Ternyata orang itu adalah David dan juga Indiana.
"Hai, David, Anna, kalian ada di sini." sapa Valerie yang kemudian ia berdiri untuk menyapa teman barunya.
"Hai Valerie, wah kebetulan sekali bertemu dengan mu di sini. Aku dan kakak ku berniat untuk makan siang. Di internet, tempat ini sangat direkomendasikan. So, kami akhirnya ke sini." jawab Anna menjelaskan.
"Julian, kau tidak keberatankan, jika teman-teman ku bergabung?" tanya Vale.
Dan, mau tidak mau, akhirnya Julian mengizinkan kedua teman Vale bergabung.
"Kenalkan ini teman baru ku, David dan Indiana." ucap Valerie memperkenalkan David dan Anna pada Julian.
David dan Anna pun berkenalan dengan Julian.
Julian yang sudah mengetahui sebelumnya tentang pria yang bernama David itu melirik ke arah David dengan tatapan tak bersahabat.
Dan akhirnya mereka pun makan siang berempat.
Padahal, niat Julian adalah ingin makan berdua saja dengan Vale. Agar keakrapan antara dirinya dan Vale bisa kembali terjalin.
Tapi rencananya gagal dengan kedatangan David dan juga Anna.
Vale justru malah asik mengobrol dengan kedua teman barunya itu. Dan tak memperdulikan Julian.
Dan di sisi lain, Andrea yang saat itu juga sedang ingin makan siang di tempat yang sama. Tak sengaja melihat Julian.
__ADS_1
Andrea pun memberitahukan kepada Jenna dengan apa yang liat saat itu.
Jenna lalu menoleh ke arah sudut ruangan yang tadi di tunjukkan oleh Andrea.
Ia melihat suaminya nampak makan siang bersama tiga orang lainnya. Dua wanita dan satu pria.
Tanpa ingin menyapa Julian, Jenna dan Andrea kemudian duduk di sebuah meja yang lumayan jauh dari meja Julian.
"Apa Bu Andrea mengenali mereka?" tanya Jenna pada Andrea. Yang penasaran dengan tiga orang yang lain yang saat itu makan siang bersama dengan Julian.
"Aku tidak mengenal ketiga orang itu. Tapi pria itu memakai baju yang sangat rapi dan kurasa dia juga seorang pekerja. Untuk dua wanita itu, aku tidak mengenalnya. Jangan berfikir buruk dulu Jen. Mungkin mereka adalah relasi bisnis Julian." jelas Andrea yang juga tidak ingin berspekulasi.
"Iya mungkin saja teman bisnis." ucap Jenna setuju. Walaupun sebenarnya ia ragu.
Dan sekilas, Jenna kembali menoleh ke arah meja Julian.
Entah kenapa perhatiannya terfokus pada wanita cantik putih berambut agak pirang itu. Yang duduk tepat di sebelah Julian.
Jenna nampak memperhatikan Valerie dari kejauhan.
Tidak ingin terlalu berfikir buruk, Jenna fokus dengan buku menu yang sudah ia buka dan melihat menu makanan yang ingin dia pesan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sore itu saat jam pulang kantor tiba, Julian mengemudikan mobilnya untuk menjemput Jenna di kantor.
Tidak perlu menunggu lama, Jenna kemudian bergegas dari ruang kerjanya dan kemudian turun untuk segera pulang bersama dengan Julian.
Hati Jenna sedikit senang saat sang suami menjemputnya.
Sambil tersenyum manis Julian menyapa sang istri yang saat itu tengah masuk ke dalam mobilnya.
"Selamat sore sayang." Sapa Julian, yang kemudian mengarahkan tubuhnya ke arah Jenna. Lalu mencium pipi kiri Jenna dengan lembut.
"Bagaimana harimu, apa hari ini banyak pekerjaan?" tanya Julian perhatian.
"Lumayan banyak pekerjaan. Rasanya aku sangat lelah. Jika kau tak keberatan, aku ingin memejamkan mata ku dan tidur."
"Tidurlah sayang, kau memang kelihatan letih sekali."
Julian lalu mengubah tempat duduk bagian depan mobilnya dengan posisi tidur. Agar Jenna lebih nyaman untuk merebahkan tubuhnya di sana.
"Tidurlah, aku akan membangunkan mu setelah kita sudah sampai rumah." ujar Julian yang kemudian ia melepaskan jasnya dan memberikannya kepada Jenna. Agar istrinya itu hangat.
Sesampainya di rumah, Julian membangun Jenna.
__ADS_1
Masih sama-sama memakai pakaian kantor, Jenna dan Julian langsung menuju kamar mereka.
Sesampainya di kamar, Julian dan Jenna langsung sibuk dengan melepaskan berbagai macam pakaian kantor yang melekat di tubuh mereka.
Saat Jenna tengah bersiap-siap untuk membersihkan diri dan sedang mengikat rambutnya yang panjang.
Tiba-tiba dari belakang Julian memeluk Jenna dengan dekapan posesif.
Tidak hanya memeluk Jenna, Julian juga sudah menyerang leher jenjang Jenna dengan kecupan kecupan manis di sana.
"Hentikan sayang, aku masih lengket."
"Aku tidak peduli kau lengket. Aku hanya ingin mengatakan, aku sangat mencintaimu Jen. Aku sangat sayang dengan mu. Aku takut kehilangan dirimu." ucap Julian yang masih saja menciumi leher jenjang Jenna.
Jenna kemudian berbalik dan menatap wajah Julian.
Kemudian ia mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya itu.
"I love you too." jawab Jenna sambil menampakkan senyum manis nya.
"Kau cantik, pintar, elegan, aku menyukai wanita seperti dirimu. Makanya aku tidak ingin kau di miliki oleh pria lain selain aku. Tidak akan aku melepaskan lagi wanita sempurna seperti diri mu."
"Aku sudah kau miliki seutuhnya. Hanya tingal kau melegalkan pernikahan kita secara hukum saja." ucap Jenna mencoba mengingat pada Julian bahwa pernikahan mereka saat ini hanya pernikahan siri.
"Aku janji akan segera mengurus itu, bersabar lah."
Julian kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Jenna lebih dekat.
Dan satu kecupan manis serta dalam ia labuh kan bibirnya ke bibir ranum Jenna dengan lembut.
Awalnya, mereka berciuman dengan lembut. Makin lama keduanya pun kini tersengat gairah untuk bercumbu dan berciuman lebih panas.
Julian kemudian mendorong tubuh Jenna sampai ia kini terhempas ke tempat tidur bersamaan dengan dirinya.
Dengan menggenggam jari-jemari Jenna dengan kuat Julian terus mengunci pergerakan Jenna dan menguasai tubuh sang istri.
"Aku merindukan istriku yang cantik ini. Mari bercinta dengan ku Jen, aku sudah sangat ingin membuat mu bisa hamil. Aku ingin anak dari mu." tutur Julian.
"Tubuhku sangat berkeringat dan lengket, sebaiknya kita mandi dulu." ucap Jenna yang saat itu masih berada di bawah kungkungan Julian.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama, biar lebih seru bukan." goda Julian.
Jenna pun tak bisa menolak lagi ajakan bercinta yang di inginkan suaminya.
Dan akhirnya, mereka pun melanjutkan aktivitas intim mereka di kamar mandi.
__ADS_1
Jangan berisik ya 🤭🤫