Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Hubungan yang semakin dekat


__ADS_3

Seperti biasa Julian selalu bangun pagi-pagi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Sebuah rutinitas sehari-hari yang ia selalu jalanin.


Sambil bersiap untuk pergi ke kantor. Julian sesekali menengok ke arah Valerie yang masih tertidur di atas tempat tidur dengan sangat pulasnya.


Istri kontraknya itu semalaman tertidur dengan posisi memeluk dirinya dengan begitu erat dan posesif.


Bahkan, saat Julian terbangun pun. Ia sampai sampai harus berusaha melepaskan pelan-pelan dekapan posesif Valerie yang membelit tubuhnya.


Setelah Julian sudah rapi dengan mengenakan baju kantornya. Julian kemudian membangunkan Valerie.


"Vale, bangun sudah pagi." pangil Julian.


"Sebentar lagi aku akan pergi ke kantor. Biasanya kamu kuliah dan berangkat bersama ku kan." ujar Julian lembut.


"Hari ini aku tidak ada jadwal kuliah Mr. Aku ingin tidur saja, mataku masih sangat mengantuk." ujar Vale yang masih bermalas-malasan di ranjang sambil berselimut.


Julian kemudian duduk di samping Valerie. Dan memeriksa kening Vale. Julian khawatir jika istri kontraknya itu sakit.


"Kenapa memegang keningku Mr." tanya Vale.


"Aku pikir kamu sedang sakit." ucap Julian lembut.


"Aku tidak sakit, aku tidak apa-apa." jawab Valerie.


"Kalau begitu ayo turun ke bawah, temani aku sarapan. Sebentar lagi aku akan ke kantor." ajak Julian.


"Aku masih sangat mengantuk Mr. Sepertinya aku tidak bisa menemani Mr untuk sarapan di bawah. Kalau boleh aku meminta tolong, bisakah Mr buatkan aku roti bakar seperti biasa. Dan minta tolong Naina untuk mengantarkannya ke atas. Aku sedang malas untuk turun." pinta Vale manja.


"Baiklah kalau begitu, aku akan buatkan kamu roti seperti biasa. Dan aku akan menyuruh Naina untuk mengantarkannya. Kalau begitu aku ke bawah dulu ya. Sekalian aku pamit berangkat ke kantor."


"Iya Mr hati-hati, dan terima kasih untuk rotinya.


"Sama-sama Vale." jawab Julian sambil mengulas senyum tipis.


"Oya Vale, hari ini aku sebenarnya akan mengajakmu ke dokter. Tapi berhubung kamu sedang tidak enak badan. Mungkin lain kali saja aku mengajakmu ke dokter."


"Untuk apa pergi ke dokter Mr?" tanya Vale bigung.


"Kita sudah menikah kurang lebih 3 minggu. Dan kita sudah seringkali melakukan hubungan intim. Aku ingin mengetahui apakah kau hamil atau belum. Dan jika kau tak keberatan, saat kau buang air kecil, nanti tolong cek urine mu dengan tes pack yang kemarin aku belikan. Aku ingin mengetahui hasilnya. Jika sudah terlihat hasilnya, jangan lupa hubungi aku." ujar Julian yang sudah sangat penasaran ingin tahu apakah Vale saat ini hamil atau belum.


"Oke, nanti aku akan cek."


"Bagus." jawab Julian singkat, kemudian ia berlalu dari kamar.


Sepeninggal Julian dari kamarnya, Vale kemudian berpikir.

__ADS_1


Cepat atau lambat kehamilan dirinya pasti akan diketahui oleh Julian.


Dan sepertinya, tidak ada gunanya lagi bagi Valerie untuk menutup-nutupi kehamilannya.


Ia harus memberi tau kebenaran tentang kehamilan yang memang sudah ia ketahui pada Julian.


Sesampainya di ruang makan, Julian pun seperti biasa bersarapan.


Sebelum dia membuat sarapan untuk dirinya. Julian membuatkan dulu roti pesanan Valeri.


Seperti biasa roti bakar dengan selai blueberry dan juga tambahan keju. Setelah roti bakar yang Vale pesan sudah jadi, Julian kemudian memanggil Naina.


"Naina, tolong berikan ini pada Vale. Sepertinya hari ini dia kurang enak badan. Dan tolong jaga dia." ucap Julian kepada Naina.


"Baik Tuan."


"Tambahan segelas susu segar untuknya." imbuh Julian pada Naina.


Dan Naina pun melaksanakan perintah Julian dengan patuh.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Ma nanti malam Julian akan ke sini. Dia bilang seperti itu kemarin saat kita bertemu. Dia ingin bertamu ke rumah dan ingin bertemu sama Mama." ujar Jenna di tengah tengah ia sedang menikmati sarapan pagi bersama sang Mama di meja makan.


"Baiklah, nanti Mama akan masak menu spesial untuk kedatangan calon mantu Mama." imbuh Reina.


Sambil menikmati sarapannya Jenna kemudian memeriksa ponselnya.


Dan satu buah pesan singkat yang tampil di layar ponselnya langsung membuat Jenna merekahkan senyumnya.


Jenna kemudian langsung membuka pesan itu.


*Selamat pagi Jen, kau sedang apa. Aku sedang sarapan saat ini.*


Kata itulah yang tertulis dalam pesan yang Julian kirim untuk Jenna saat itu.


Kemudian Julian menyertakan sebuah foto yang ia tangkap melalui ponselnya dan ia kirimkan ke Jenna.


Membaca pesan itu membuat Jenna tersenyum. Kemudian Jenna pun membalas pesan singkat yang dikirimkan oleh Julian.


*Pagi Julian, aku juga sedang sarapan. Ingin tahu aku sarapan apa?*


Jenna pun kemudian menangkap gambar sarapan yang ada di hadapannya, yang sedang ia nikmati. Lalu mengirimkan gambar itu kepada Julian.


Di seberang sana, Julian nampak tersenyum sendiri saat melihat pesan masuk dari Jenna.

__ADS_1


Betapa hari-harinya saat ini sangat menyenangkan. Bagi Julian, berkomunikasi dengan seseorang yang ia cintai bersama sudah membuat ia merasakan kebahagiaan. Dan merasakan ada perasaan yang tersambung dengan sebagai mana mestinya. Perasaan saling suka, saling punya ikatan karena saling mencintai.


Kemudian Julian pun mengirimkan pesan singkat lagi kepada Jenna.


*Aku sudah tidak sabar ingin menikmati sarapan pagi bersamamu Jen. Aku sudah sangat ingin ditemani dirimu di siang dan malam ku. Hari hari ku pasti akan lebih berwarna dengan mu*


Pesan itulah yang ditulis Julian kepada Jenna.


Jeenna yang membaca pesan itu pun kembali tersenyum. Bahkan pipinya pun kini sudah merona.


**Semua butuh proses jika kau ingin aku selalu di sisimu. Maka kita harus menikah dulu* tulis Jenna dalam pesannya*.


**Oleh sebab itu aku sudah tidak sabar lagi ingin menjadikan mu istriku. Kau tahu kan, aku sudah sangat lama menduda.* balas Julian lagi*.


*Sekarang nikmatin dulu sarapan mu. Jangan malah sibuk mengirim pesan. Hari ini aku akan datang ke kantormu ada berkas-berkas dan dokumen yang harus aku berikan kepadamu."


**Berarti hari ini aku akan bertemu dengan mu. Baiklah, kalau begitu sampai jumpa di kantor.* balas terakhir Julian*.


🍁🍁🍁🍁🍁


Saat itu, Jenna sudah berada di Julian Corp. Kedatangannya ke kantor Julian adalah untuk urusan pekerjaan.


Setelah dengan sangat profesional antara Jenna dan Julian membicarakan masalah pekerjaan. Kini Jenna membereskan beberapa dokumen dan file yang baru saja ia pelajari bersama dengan Julian di ruang kerja Julian.


"Aku harus segera kembali ke kantor dan memberikan kembali berkas-berkas ini kepada Bu Andrea untuk segera di tanda tangani." ujar Jenna.


"Jika kau mau aku bisa mengantarmu Jen. Kebetulan aku juga sedang tidak banyak pekerjaan" tawar Julian.


"Tidak perlu, tadi aku ke sini dengan diantar oleh sopir perusahaan. Dia masih menunggu di bawah."


"Kenapa harus terburu-buru sayang. Aku masih Ingin bersamamu di sini."


"Aku sedang menjalankan tugas ke sini. Aku datang ke sini untuk mengantarkan dokumen-dokungan pekerjaan. Bukan untuk berpacaran denganmu."


"Kau terlalu profesional dalam bekerja."


"Bersikap profesional itu penting dalam pekerjaan dan bisnis." ujar Jenna yang kini sudah siap untuk pergi.


"Itulah sebabnya Aku sangat menyukaimu. Aku suka dengan cara mu memegang prinsip."


"Ya sudah aku kembali ke kantor ya."


Julian kemudian buru buru bangkit dari kursinya. Dan berjalan mendekati Jenna.


Membuka kedua tangannya lebar lebar. Julian memeluk Jenna.

__ADS_1


"Sebelum kau berlalu, boleh tidak aku minta satu ciuman saja. Jika tidak di bibir tidak apa apa, boleh di pipi." goda Julian.


Dan.....to be continue, see you next bab 🥰🤗🙏


__ADS_2