Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Menjaga jarak


__ADS_3

"Aku yang akan bicara kepada Mama mu soal ini. Aku yang akan menjelaskannya. Kau tau kenapa aku nekat begini." terang Julian dengan menatap wajah Jenna dengan serius.


"Apa?" tanya Jenna ingin tahu.


"Karena aku sangat mencintai mu dan ingin segera memiliki mu. Aku tidak ingin kehilangan diri mu Jen." ujar Julian lembut dengan nada suara penuh harap sambil menatap wajah cantik Jenna.


Kemudian, Julian melingkarkan tangannya ke arah pundak Jenna. Dan menarik Jenna ke dalam pelukannya.


Jenna pun kini bersandar pada Julian. Sambil mengelus-elus lengan Jenna. Julian mencoba untuk memberikan sentuhan sayang kepada wanita yang memang ia cintai itu.


"Percayalah padaku Jen. Aku hanya ingin kita bersama. Bukankah minggu depan kita juga akan ada perjalanan bisnis ke Yunani. Aku akan mengajakmu mampir ke rumahku yang ada di sana. Aku akan mempertemukan mu dengan Mama ku. Nanti bisa kau lihat sendiri bagaimana keadaan Mama ku yang saat ini sedang sakit di sana. Percayalah padaku sayang." bisik Julian pada Jenna yang saat itu berada dalam dekapannya.


"Oke aku percaya. Tapi kau harus tetap menemui Mama ku. Untuk memberikan penjelasan tentang rencana pernikahan kita."


"Ia, aku akan menjelaskan nya pada Mama mu."


🍁🍁🍁🍁


Julian pulang dari kantor menuju penthouse lebih awal dari biasanya.


Biasanya dia baru pulang jika sudah larut malam.


Saat ia sampai dan masuk ke dalam Penthouse, matanya langsung menangkap sosok wanita yang kini sedang mengandung benihnya.


Senyum bahagia Julian langsung menghiasi wajahnya.


"Malam Vale," sapa Julian, yang kemudian langsung duduk di kursi ruang makan berhadapan dengan Valerie.


"Tumben sudah pulang, biasanya tengah malam baru pulang." sergah Valerie yang kala itu sedang menikmati makan malamnya.

__ADS_1


"Aku sengaja pulang lebih awal. Aku ingin makan malam bersamamu." ujar Julian nampak bersemangat.


Juliana dan Valerie malam itu menikmati makan malam bersama sambil mengobrol ringan.


Julian sesekali menanyakannya seputar kehamilan yang dialami oleh Vale.


Dan Vale pun dengan sangat antusias bercerita tentang beberapa perubahan mood yang ia rasakan.


Di tengah-tengah mereka sedang asik makan malam sambil berbincang ringan. Tiba-tiba rasa mual menghampiri Valerie.


Sambil membekap mulutnya, Vale langsung berinsut dari kursi nya dan langsung berlari ke kamar tamu yang ada di ruang bawah saat itu.


Dan di wastafel yang ada di kamar mandi, Vale memutahkan semua isi perutnya di sana.


"Kau baik baik saja." suara bernada cemas Julian terdengar di belakang Vale yang saat itu sedang berkumur.


"Apa sering kau mengalami ini." tanya Julian sambil membantu memegangi rambut Valerie yang tergerai berantakan.


"Naina dan Aise adalah asisten terlatih. Aku sengaja memilih mereka untuk menemani mu. Mereka sangat profesional."


"Memangnya Mr tidak akan memperhatikan aku lagi, setelah aku hamil." tanya Vale menyelidik, menuntut penjelasan.


"Siapa bilang aku tidak akan memperhatikanmu. Justru aku akan sangat memperhatikan mu. Keselamatan diri mu dan juga janin yang ada di kandunganmu saat ini adalah tanggung jawabku." jawab Julian, kemudian ia mengusap rambut panjang Vale dengan tangannya.


"Tapi, akan ada sedikit perubahan hubungan diantara kita."


"Perubahan hubungan apa maksud Mr?" tanya Vale merasa sangat penasaran.


"Karena sekarang kau sudah hamil. Kita tidak akan tidur satu tempat tidur lagi. Terkecuali kau sedang membutuhkan aku." mendengar itu, seketika Vale menatap Julian dengan tajam.

__ADS_1


"Mungkin kita juga tidak akan berhubungan badan lagi. Aku sangat menghormati dirimu Vale. Selama ini kita berhubungan badan hanya untuk bisa membuatmu hamil. Dan aku akan konsisten untuk itu. Aku tidak akan menuntut mu untuk melakukan hubungan intim lagi. Oleh sebab itu, sebaiknya kita juga tidak lagi tidur satu ranjang."


Entah kenapa kata kata Julian seakan-akan telah menusuk jantungnya. Vale merasa sakit, dan sangat membuat dia sesak.


"Aku sangat menghormati dirimu Vale. Ingat lah semua tentang perjanjian itu. Kau bisa membacanya kembali. Aku membayar mu bukan untuk menjadi pemuas nafsu ku. Tapi aku bayar mu hanya untuk bisa memberikan aku seorang anak. Sekarang, semua yang telah kita sepakati di awal awal perjanjian telah terwujud."


Dan lagi lagi perkataan Julian kembali menyayat hati Vale.


Apa yang kau sedih kan Vale, bukankah itu suatu kenyataan yang memang harus dan akan kau hadapi, Vale membantin.


Bahkan bersiap siap lah untuk berpisah dengan Julian. Karena setelah kau hamil, dia akan memilih tingal di Mension nya. Dan tidak akan tingal bersama mu lagi di Penthouse, Vale membantin lagi.


Kemudian, ingatannya kembali pada beberapa saat sebelum ia pindah ke Penthouse.


Kala itu Julian pernah bilang, jika dia telah hamil, maka Julian akan kembali tingal di Mension nya sendiri.


Flashback (bab 14 Penthouse untuk Valerie)


"Seperti janji ku, dan seperti apa yang sudah di tulis di surat perjanjian. Aku akan memberikan mu tempat tinggal setelah kita resmi menikah. Tempat itu akan menjadi tempat tinggal mu selama kau mengandung anak ku. Tinggallah di sana dan nikmati semua fasilitas yang ada. Selama kau menjadi istri kontrakan ku, kau akan tingal di sana."


"Apakah kau juga akan tingal bersama ku?" tanya Valerie ragu ragu.


"Tidak." jawab Julian tegas.


Setelah mendengar jawaban Julian, entah kenapa hal itu membuat hati Valerie sedikit merasa sedih.


"Vale, kita hanya menikah kontrak. Pernikahan kita ini adalah pernikahan bisnis. Aku harus katakan ini agar kau paham. Aku tidak mencintai mu. Aku suka karakter mu, maka dari itu aku memilih diri mu untuk menjadi ibu dari calon anak ku. Jadi, jangan salah mengerti dan jangan salah artikan hubungan kita. Ingat, jangan gunakan perasaan mu. Aku juga tidak akan mengunakan perasaan ku. Setelah urusan kita selesai, kau bebas."


Flashback off

__ADS_1


Apa yang akan terjadi selanjutnya, see you next bab 🥰💐♥️


__ADS_2