
Di tengah-tengah perjalanan pulang ke Penthouse. Julian berbelok ke sebuah minimarket untuk membelikan Valerie susu hamil.
Setelah mendapatkan susu hamil yang dia inginkan. Julian pun kembali ke dalam mobil dan meneruskan perjalanannya menuju penthouse.
Sesampainya di dalam Penthouse, Valeri yang merasakan kepalanya begitu sangat pening dan pusing, langsung tiduran di sebuah sofa di ruang tengah.
Tidak tega melihat Valerie yang merasakan kepalanya pusing. Julian kemudian menghampiri Valerie dan duduk berjongkok di samping Vale.
"Sakit ya."
"Sakit sekali Mr." jawab Vale, memegangi dahinya sambil memejamkan mata.
"Kemarilah." ujar Julian.
Kemudian Julian ikuti duduk di sofa dan meraih kepala Valerie.
"Tiduran lah ke pangkuan ku Vale. Aku akan memijat kepala mu." ucap Julian yang kemudian meraih kepala Vale dan menaruhnya di pangkuannya.
Lalu, Julian memberikan pijatan-pijatan lembut di kepala Valerie.
"Bagaimana?"
"Hemmm, pijatannya nyaman sekali Mr. Kepala ku rasanya lebih enteng." ujar Valerie yang merasakan pusing-pusing nya berangsur membaik.
"Sepertinya anak mu sangat manja dengan mu. Setiap kau berada di sisi ku aku merasa lebih baik." tutur Vale, yang masih memejamkan matanya.
"Aku akan sering sering kemari Vale. Jangan kawatir."
"Jadi, sekarang Mr tingal di mana? Kemana saja dua hari ini? Bahkan Mr tidak mengabari ku." tanya Vale lagi.
"Aku tingal di Mension ku Vale. Bukankah kau juga sudah tau jika aku tinggal di Mension. Aku sibuk dengan urusan pekerjaan. Maaf jika aku lupa memberi kabar."
"Kapan kapan ajak aku me Mension mu Mr!"
"Jika kau mau sebuah Mension, aku bisa membelikan mu satu."
"Aku tidak ingin itu. Aku sudah punya semua kemewahan yang sudah aku milik saat ini. Penthouse, mobil, deposito, saham, credit card."
"Itu imbalan yang pantas untuk semua pengorbanan mu Vale. Pokoknya, minta lah apapun. Aku akan mengabulkan nya."
"Apapun!" seru Vale.
"Iya apapun." jawab Julian tegas.
__ADS_1
Wajah Vale seketika tersenyum.
"Aku sedang ingin makan pancake. Dan aku ingin pancake buatan Mr. Karena kau tadi bilang aku boleh minta apapun kan."
"Maksud mu, kau ingin pancake buatan ku?"
"Yup, Aku membayangkan sebuah pancake yang wangi bau khas mentega dan lezat. Aku ingin memakannya saat ini juga. Please Mr, buatkan ya!" rengek Valerie pada Julian dengan memegangi tangan Julian.
Saat itu Vale masih berada di pangkuan Julian.
"Aku tidak bisa memasak Vale."
"Kau bisa melihat caranya di internet." ucap Vale memberi saran.
"Ada Naina dan Aise, kenapa tidak menyuruh mereka saja yang buatkan!"
"Kan tadi aku bilang, aku ingin buatan Mr. Mau anak Mr ileran." ancam Vale.
Julian nampak mengerut hadinya. Berhadapan dengan Vale, Julian selalu di hadapkan pada situasi yang terdesak.
Dan seperti biasa, Julian selalu mengabulkan permintaan wanita manjanya itu.
"Baiklah kalau begitu, mari buat pancake." ucap Julian menyerah.
Yang kemudian ia berdiri dan melangkahkan kakinya ke dapur, kemudian Vale mengikutinya.
Kemudian ia meraih ponselnya dan mengetik di mesin pencarian cara membuat pancake.
Di sana Julian memilih satu ulasan yang menarik untuk bisa membantunya dalam membuatkan pancake untuk Valerie.
Setelah semua bahan-bahannya sudah tersedia di atas meja. Lalu Julian mencoba untuk membuat pancake sesuai dengan tips yang ia sudah baca sebelumnya di internet.
Saat masih dalam proses membuat pancake itu. Meja yang ada di dapur sudah tidak lagi terlihat rapi.
Meja kini nampak sangat berantakan.
Banyak sisa sisa tepung dan kulit telur bertebaran di atas meja dapur.
Vale yang saat itu tengah duduk santai di kursi mini bar, melihat Julian dengan wajah yang tersenyum-senyum.
Ia merasa sangat puas bisa mengerjai suami kontraknya.
Padahal jika dia mau, dia bisa saja menyuruh Naina atau Aise untuk membuatkan dia pancake. Dan sudah pasti hasilnya akan terjamin enak.
__ADS_1
Tapi pada sore kala itu, entah kenapa Vale sungguh sangat ingin membuat Julian kerepotan.
Ketika Julian sedang memasukkan sebuah tepung ke dalam sebuah wadah. Tanpa sengaja ia mengusap dahinya dengan tangannya. Dan otomatis, dahinya kini terkena tepung.
Vale pun semakin di buat terkikik oleh kerepotan Julian saat itu.
"Kenapa tertawa, kau sepertinya sengaja menertawakan ku ya?" selidik Julian, sambil menatap tajam ke arah Vale.
"Kata orang, jika seorang istri sedang hamil dan mengalami ngidam, suaminya harus mengabulkan permintaan sang istri. Anggap saja saat ini kau sedang mengabulkan permintaan ku."
"Seumur hidup, aku tidak pernah memegang Mixser Vale. Dan pada hari ini, kaulah alasan yang membuat aku memegang alat ini dan menggunakannya." ujar Julian yang saat itu sedang mengerak gerakan sebuah Mixser untuk melembutkan adonan pancake yang hendak ia buat.
"Aku jadi bertanya-tanya, bagaimana dulu mantan istri mu kau ceraikan. Kau di ceraikan atau kau menceraikannya?" tanya Vale, yang tiba-tiba membahas masa lalu Julian.
"Aku yang menceraikan nya." jawab Julian.
"Memangnya apa kesalahannya?" tanya Vale menyelidik.
"Dia selingkuh Vale."
"Hemm, kau di khianati ya. Berarti dia tidak bersyukur punya suami seperti dirimu. Padahal kau ini pria sempurna."
"Jangan memuji ku, aku saja pernah di buat patah hati oleh seseorang. Sampai pada akhirnya aku sedikit trauma dan terpikir oleh ku melakukan bisnis rahim bayaran dengan mu. Itu karena aku pikir, aku sudah malas berhubung dengan wanita yang melibatkan perasaan. Karena ujungnya aku akan patas hati."
"Patah hati memang tidak enak Mr." ungkap Vale.
"Kau pernah patah hati?"
"Entahlah," jawab Vale mengambang.
"Patah hati itu menyakitkan Vale. Rasanya kau tidak akan bersemangat untuk menjalani hidup. Sesuatu yang lahir hati jika di terima oleh hati kau merasa akan hidup. Tapi jika kau terluka dari hati karena sebuah pengkhianatan itu seperti kau di tusuk dari belakang. Dan saat kau terluka hati mu saat cinta mu tak terbalas, itu seperti kau merasa sesak yang hanya kau bisa rasakan sendiri. Tanpa bisa protes dengan seseorang yang kau cintai."
"Apa Mr sedang meledek ku."
"Di bagian mana?" tanya Julian.
"Dan saat kau terluka hati mu saat cinta mu tak terbalas, itu seperti kau merasa sesak yang hanya kau bisa rasakan sendiri. Tanpa bisa protes dengan seseorang yang kau cintai." ucap Vale mengulangi perkataan Julian.
"Vale, aku tegaskan sekali lagi. Aku sangat menyayangimu. Tapi perasaan ku ke pada diri mu bukan perasaan sayang karena cinta. Seseorang akan menyayangi seseorang lainnya dengan berbagai alasan."
"Mencintai itu tidak bisa paksa dan di paksakan, aku paham. Seperti Mr yang tidak bisa mencintai ku. Tapi, rasa suka atau cinta pada lawan jenis itu juga muncul di hati seseorang tanpa kita bisa tau dan melawannya Mr."
"Jika misal kau mencintaiku saat ini, stop Vale. Jangan lakukan itu. Aku tau mungkin itu sulit. Aku juga pernah mengalami nya pada mantan tunangan ku Andrea. Tapi saat aku kembali menemukan cinta yang lain, semuanya berubah. Aku sudah bisa move on dan tidak lagi merasakan sakit hati. Dan aku percaya hal itu akan kau alami juga. Setelah kita berpisah dan semua urusan kita selesai kau bisa bebas menemukan cinta mu. Aku yakin, banyak pria baik yang akan jatuh cinta dengan mu."
__ADS_1
"Wait, tadi Mr bilangan (Aku sudah bisa move on dan tidak lagi merasakan sakit hati) Apa artinya itu Mr sudah menemukan seseorang yang Mr cinta?
Dan sepertinya, Julian kelepasan bicara.