
Siang itu, Edward, Valerie, Jenna dan juga Julian sedang mengadakan pertemuan untuk membahas tentang kerjasama yang mereka telah sepakati di sebuah restoran.
Pertemuan empat mata kali itu mereka lakukan untuk membahas tentang kerjasama di antara kedua belah pihak.
Saat itu Edward duduk di samping Valerie, sedangkan Jenna duduk di samping Julian.
Setelah pembahasan masalah pekerjaan selesai. Kemudian mereka melanjutkan dengan acara makan siang.
Jenna saat itu sebisa mungkin untuk bisa bersikap profesional dan tenang. Meski Video mesum antara Valerie dan juga Julian yang ia saksikan semalam kini memenuhi pikirannya.
Meskipun video itu sudah lama dan mungkin terjadi sebelum Vale hamil. Tetap saja hal itu sangat menganggu Jenna.
Apalagi saat ini, dirinya lah yang pertama kali meng ACC kerja sama itu. Sekarang mau tidak mau, dirinya dan juga Julian akan sering berinteraksi dengan Vale.
Jenna merasa menyesal telah menyetujui proposal kerjasama tersebut.
Meskipun Jenna berusaha untuk bersikap normal. Sebenarnya ia sejak tadi memperhatikan Vale dan juga suaminya.
Jenna memperhatikan setiap gerak gerik dan gesture tubuh Julian. Ketika Julian melirik ke arah Vale, yang kebetulan saat itu duduk persis di hadapannya.
Vale yang kala itu tidak menyadari jika Jenna sebenarnya sedang memperhatikan dirinya, Vale bersikap biasa saja.
Dengan menelisik melalui mata ekornya. Jenna bisa melihat Julian memang sesekali memperhatikan Valerie dengan tatapan mata tak biasa.
"Sepertinya desert mu enak Vale." ucap Edward, sambil melirik desert milik Vale yang kala itu masih sisa separuh.
"Boleh aku mencobanya?" ujar Edward.
"Tapi," belum sempat Vale bicara, Edward sudah mencicipi desert milik Valerie. Bahkan Edward mengunakan sendok yang sama yang telah Vale gunakan.
"Enak." ucap Edward.
"Jika bapak mau, saya akan pesankan. Tadi Bapak memakai sendok saya." ujar Valerie.
__ADS_1
"Memangnya kenapa aku mengunakan sendok bekas dirimu. Aku tidak punya penyakit Vale. Tenang saja." ujar Edward, yang kini malah ia menghabiskan sisa desert milik Vale.
"Aku akan memesan yang baru untuk mu." ucap Edward setelah ia menghabiskan desert milik Vale.
"Tidak usah Pak. saya sudah kenyang." jawab Vale singkat.
"Kalau begitu aku akan memesannya kue untuk kau bisa bawa pulang. Kau bisa berikan untuk Elenor." ujar Edward, yang tiba-tiba, hal itu membuat Julian terbatuk-batuk.
Melihat suaminya terbatuk-batuk, Jenna kemudian memberikan segelas air putih untuk Julian.
"Ada apa dengan mu Julian?" tanya Jenna datar.
"Tidak ada apa apa sayang, terimakasih." Julian kemudian meminum air putih yang Jenna berikan untuk nya. Sambil meminum air putih itu, julian melirikkan pandangannya kearah Edward. Dalam hati, Julian pertanya tanya. Kenapa Edward bisa tau tentang Elenor putrinya.
Edward yang kala itu memperhatikan Julian kemudian berfikir. Edward merasa wajah Julian mengingatkan dirinya dengan wajah Elenor. Ada kemiripan antara wajah Julian dengan wajah Elenor.
Dan dalam hati, Edward menerka nerka, apakah Julian merupakan ayah biologis Elenor. Akan tetapi Edward memilih untuk mengabaikan prasangka nya.
Setelah acara meeting dan makan siang itu selesai. Baik Jenna, Julian, Edward serta Vale akhirnya saling berpamitan.
Kini Vale berada dalam satu mobil bersama Edward menuju kantor. Sambil menyetir, Edward mengajak Vale mengobrol.
"Sikapmu berubah di saat terakhir kita bertemu di ruangan ku. Apakah kau merasa tersinggung dengan ucapan ku tempo hari, yang mengaja mu menikah." tanya Edward yang merasa Vale bersikap dingin terhadap nya setelah itu.
"Tidak Pak, saya tidak tersinggung. Saya tau Bapak pasti hanya bercanda saat itu." sergah Vale.
"Bagaimana jika aku tidak bercanda. Bagaimana jika aku serius, mau kah kau menjadi istriku." tanya Edward sungguh sungguh.
Vale kemudian menoleh ke arah Edward. Edward yang kala itu sedang menyetir sesekali melirik ke arah Valerie.
"Jujur saat ini saya belum memikirkan untuk menikah lagi. Saya menikmati kesendirian saya. Saya ingin menikmati waktu bersama putri saya. Saya sudah bahagia sekarang dengan hidup saya saat ini."
"Meksipun begitu, kau juga membutuhkan seorang pendamping. Agar bisa melindungi mu Vale." ujar Edward, Vale kemudian terkekeh mendengar perkataan bos nya itu.
__ADS_1
"Sejak kecil saya sudah bisa melindungi diri saya sendiri Pak. Saya sedang tidak memikirkan seorang pendamping untuk saat ini." jelas Valerie.
"Jika kau tidak keberatan, bolehkah aku mengetahui siapa mantan suami?" Mendengar pertanyaan itu, Vale kemudian menoleh ke arah Edward.
"Saya rasa, Anda tidak perlu tau untuk ketahui hal itu."
"Kenapa, aku hanya ingin tahu siapa Ayah biologis Elenor. Aku penasaran saja, putri mu secantik itu pasti ayah nya juga tampan." sergah Edward sambil tersenyum. Vale pun ikut tersenyum.
"Maaf, tapi saya tidak bisa menceritakannya kepada anda."
"Baiklah, saya tidak akan memaksamu untuk bercerita."
"Tapi jujur, selama ini aku sangat ingin tahu siapa ayah biologis Elenor. Yang kata mu dia adalah seorang pengusaha kaya raya. Dan, aku juga penasaran dengan kehidupanmu. Yang dulu sebelum ini." ucap Edward, yang ingin sendikit demi sedikit mengetahui tentang hidup Vale.
"Banyak hal yang tidak Bapak ketahui dari saya. Jika Bapak tahu banyak hal tentang saya. Saya yakin, Bapak tidak akan pernah menawari saya untuk bersedia menikah dengan bapak. Meskipun itu hanya sebuah candaan."
"Memangnya ada apa dengan hidup mu. Aku melihatmu, kau seorang wanita yang baik. Kau seorang wanita yang gigih, pejuang, dan berani. Kau tidak hanya cerdas, tapi kamu juga luar biasa. Bahkan kau seorang ibu yang baik. Kau sempurna di mataku." puji Edward.
"Tapi saya tidak sesempurna itu. Anda menilai terlalu bagus untuk diri saya. Saya jauh dari penilaian baik versi Bapak."
"Jangan panggil aku Bapak, di saat kita sedang berduaan. Kau boleh memangil ku Bapak jika kita ada dalam satu area perkantoran."
"Oya, pria yang bernama David, apakah kau berpacaran dengannya?"
"Dia teman baik ku."
"Sepertinya dia menyukaimu."
"Saya tidak ingin memberi harapan pada siapapun. Saya tegaskan, saya nyaman dengan kesendirian saya. Saya ingin fokus untuk putri saya. Saya ingin dia bangga dengan Mommy nya. Karena kami sudah lama sekali berpisah, dan saya telah meninggalkan dia selama 5 tahun belakangan ini. Sekarang saya ingin mencurahkan segala perhatian saya kepada putriku satu-satunya."
"Kapan-kapan aku akan mengajakmu untuk ke rumahku. Aku ingin mengajakmu bertemu dengan ibuku." ungkap Edward.
"Untuk apa?" tanya Vale pemasaran.
__ADS_1
"Untuk mengenalkan mu pada ibu ku. Jika aku punya teman baru. Jangan kau anggap candaan tawaran ku tempo hari. Aku serius, tapi mungkin aku mengutarakannya kurang formal. Karena kau masih ingin menikmati kesendirian mu. Aku menghargai itu. Tapi kita bisa menjadi teman baik kan mulai saat ini. Aku harap, kita bukan saya menjadi atasan dan bawahan. Tapi aku juga ingin jadi temen mu."
Mendengar itu, Valerie tidak bisa menjawab apa apa. Ia hanya menundukkan kepalanya.