Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Jelang Melahirkan


__ADS_3

Valerie siang itu berdiri mematung di sisi sebuah jendela yang ada di kamarnya.


Pandangannya kosong, menatap langit biru yang cerah membentang luas tanpa ada setitik awan pun yang menghiasi di atas sana.


Sebenarnya, dia lebih nyaman berada di Penthouse dari pada tingal Mension bersama dengan Julian.


Karena Roseline dan juga Julian yang memintanya untuk tingal di Mansion, dia pun akhirnya menurut.


Vale berdiri sambil terus mengusap-usap perutnya yang membuncit besar, yang mungkin beberapa hari lagi ia akan melahirkan.


Sesekali, telapak tangan Vale bisa merasakan gerakan bayinya yang makin lincah di dalam sana. Setiap gerakan dan tendangan bayi itu selalu membuat hati Vale terpukau dan hangat. Buah hati dari seseorang yang ia sangat cinta telah tumbuh di rahimnya. Meskipun bayi itu adalah bayi rahim bayaran.


Akan tetapi, saat melakukan hubungan seksual dengan Julian kala itu, Vale melakukan dengan penuh rasa cinta yang besar. Walaupun cintanya tak terbalas oleh Julian sendiri. Dan ia pun memahaminya. Vale sudah cukup bahagia bisa mencintai pria itu sendirian.


Ada perasaan bahagia yang tak bisa ia ungkapkan di saat bayinya sedang mengajaknya berinteraksi siang itu.


"Hai sayang, apa kabar mu hari ini. Sepertinya kau sudah tidak betah lagi ya di perut Mommy. Itu artinya kau makin tumbuh besar sayang. Dan Sebentar lagi kau pasti akan lahir. Lahirlah dengan lancar ya sayang. Mommy akan berjuang melahirkanmu dengan sekuat tenaga Mommy." ucap Valerie bermonolog, sambil terus mengusap-usap perutnya.


"Maafkan Mommy sayang, jika Mommy harus pergi setelah melahirkan mu nanti. Kau akan di asuh oleh Daddy mu. Mommy bukannya tidak sayang denganmu. Kau pasti akan mengerti, kelak saat kau sudah besar, kenapa mommy harus merelakan mu jauh dari mommy. Kau memang awalnya hadir dalam rahim Mommy sebagai bayi pesanan. Kau hadir karena sebuah pertaruhan tentang keegoisan Mommy yang ingin hidup dengan nyaman banyak uang dengan cara instan. Tapi setelah kau ada di rahim Mommy, Mommy akhirnya sadar. Hidup dengan banyak materi tidaklah membuat Mommy bahagia. Oleh sebab itu, untuk menembus rasa bersalah Mommy terhadapmu. Mommy titipkan dirimu pada Daddy. Dia sangat menanti kehadiran mu" ucap Valerie kembali bermonolog.


"Mommy saat ini sedang mempersiapkan diri untuk berjuang demi kelayakan hidup kita berdua. Mommy tidak akan menempatkan diri mu pada situasi yang sulit seperti saat dulu Mommy di besarkan oleh kedua orangtuanya Mommy. Mommy ingin mengubah nasib kita sayang. Mommy akan berusaha menjadi seorang ibu yang kuat, yang tegar, yang mandiri, yang suatu saat nanti akan kembali datang ke hadapanmu dengan rasa bangga. Dan saat itu kau akan tau, jika cinta Mommy untuk mu adalah cinta yang nyata. Dan saat itulah kau akan bebas memilih untuk dengan siapa kau akan tingal"


"Mommy akan meninggalkanmu untuk sementara. Untuk menggapai mimpi Mommy. Mommy akan melanjutkan kuliah, dan setelah itu Mommy akan mencari sebuah pekerjaan yang bagus untuk menyiapkan tempat tinggal yang besar untukmu dan juga tabungan yang banyak untuk diri mu. Mommy yakin, kita akan bisa berkumpul lagi. Aku mencintaimu sayang." ucap Vale, dengan masih terus mengelus elus perutnya.


Di saat Vale sedang berkomunikasi dengan bayinya. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Dari dalam kamar Vale menyahut untuk menyuruh seseorang itu masuk. Dan ternyata itu adalah Julian.


Dia datang dengan membawakan satu gelas jus strawberry di tangannya.

__ADS_1


"Hai, kau sedang apa?" tanya Julian saat ia memasuki kamar dan mendekati Valerie.


"Aku sedang berkomunikasi dengan putriku."


"Oya, apa yang kalian komunikasi kan?"


"Rahasia, hanya aku dan putriku yang tahu." ucap Vale yang kemudian berjalan kearah tempat tidur dan duduk di sisi rajang.


"Minum lah, aku membawakan jus strawberry untuk mu." ucap Julian sambil ikut duduk di sisi ranjang, tepat di sisi Valerie sambil memberikan jus strawberry yang ia bawa.


"Minumlah."ucap Julian.


Vale kemudian meraih jus itu dan meminumnya.


"Ada bekas jus di sudut bibir mu." ujar Julian yang dengan refleks langsung mengusap sisa sisa jus yang ada di sudut bibir Vale. Bibir yang ranum dan lembut yang pernah ia rasakan sensasinya.


Untuk sesaat, pandang mata mereka saling mengunci. Dan jari jemari Julian masih membeku di bibir Vale kala itu.


"Kau cantik sekali Valerie." ucap Julian tanpa sadar, memuji kecantikan alami Valerie.


"Apa kau baru menyadari nya jika aku cantik." goda Vale.


"Meskipun aku cantik toh kamu juga tidak bisa jatuh cinta dengan ku kan. O iya, tentu saja, aku hampir lupa. Aku kan bukan tipe mu, aku bukan seorang wanita smart yang terpelajar, bukan seorang pekerja kantoran, bukan seseorang yang punya kedisiplinan tinggi. Aku hanya wanita bar-bar iya kan."


Vale kemudian meneguk lagi sisa jus yang masih ada di gelas bening itu sampe tandas.


"Terimakasih untuk jus nya. Sebaiknya kau keluar dari kamar. Ada Jenna kan di rumah ini. Aku tidak ingin dia salah paham." ujar Vale yang kemudian kembali berjalan ke arah jendela dan berdiri di sana.

__ADS_1


"Jenna sudah tidak ada di Mansion. Dia justru memberikan diri mu privasi di sini."


"Meskipun begitu, kau tidak boleh sembarangan juga masuk ke kamar ini Julian." jawab Vale.


"Kau lupa ya aku ini masih istri sah ku!" ujar Julian sambil berjalan ke arah Vale.


"Istri sah tapi seperti istri siri." jawab balik Vale.


Julian kemudian terkekeh kecil. Tanpa aba aba dan bertanya. Julian memeluk Valerie dari belakang. Ia melingkarkan kedua tangannya ke arah perut Valerie. Memegangi perut Vale yang bulat itu dengan kedua telapak tangannya.


"Apa yang kau lakukan Mr." tanya Vale yang merasa canggung saat tiba-tiba Julian memeluk nya dari belakang sambil meletakkan kedua telapak tangannya ke perut Vale.


"Aku juga ingin berkomunikasi dengan bayi ku. Aku sudah lama sekali tidak berinteraksi dengannya. Kau diam saja. Aku ingin menyapanya."


Ucap Julian yang semakin merangsek kan tubuh nya ketubuh Vale makin erat dari belakang.


Vale yang saat ini dikunci pergerakannya oleh Julian tidak bisa apa apa.


"Kau masih istri ku Valerie Florencia." ucap Julian.


Vale kemudian memberontak, dan berbalik. Tapi Julian lagi lagi mengunci pergerakan Vale. Dan kini mereka malah saling berhadapan hadapan.


"Kau menekan perut ku Julian!" seru Vale.


"Maaf." ucap Julian yang kemudian langsung melepaskan kuncian tangannya.


"Aku hanya ingin berkomunikasi dengannya. Kau tidak tau ya, jelang persalinan sentuh sentuhan ayah dan ibunya penting untuk di curahkan. Agar bayi nya merasakan kehadiran orang tuanya. Maka dari itu, jangan melarang ku untuk menyentuh perut mu." ucap Julian memerintah agar Vale untuk patuh.

__ADS_1


__ADS_2