
Di sebuah ranjang yang berukuran tidak terlalu besar. Seorang pria masih tertidur dengan sangat pulas dengan posisi tengkurap.
Sedangkan Jenna sendiri sudah terbangun sejak tadi. Bahkan dia sudah rapi mengenakan baju kantornya.
Sambil bersiap untuk pergi ke kantor, Jenna sesekali menoleh ke arah tempat tidur. Di mana seorang pria masih terlelap dalam tidurnya dengan menampakkan punggung nya yang terlihat kekar.
Pria itu adalah Julian Alexander. Seorang CEO sukses kaya raya dan juga punya banyak bisnis di mana-mana.
Setelah Jenna selesai berkemas-kemas. Kemudian ia duduk di samping ranjang dan mencoba untuk membangunkan suaminya Julian dengan pelan.
Sambil menyentuh punggung suaminya yang terbuka. Jenna mencoba memberikan sentuhan lembut di sana sambil memanggil nama sang suami.
"Sayang, sudah pagi, ayo bangun. Apa kau tidak pergi ke kantor, sebentar lagi aku akan berangkat."
Julian pun kemudian bergerak. Membuka matanya perlahan dan menoleh sejenak ke arah Jenna.
"Morning my wife, cepat sekali pagi nya." jawab Julian dengan nada serak khas bangun tidur.
Bukannya bangun, Julian justru meraih pinggang Jenna dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Kenapa malah seperti ini. Ayo bangun, sudah pagi. Aku tidak ingin terlambat masuk kantor. Hari ini ada rapat penting di kantor bersama dengan Bu Andrea." ujar Jenna yang berusaha membangunkan Julian lagi
"Tidak usah masuk ke kantor..Hari ini kita di rumah saja. Aku ingin bersama denganmu di sini. Aku sedang malas bekerja."
"Hari ini aku ada rapat penting. Aku tidak bisa untuk tidak pergi ke kantor. Sebaiknya kau mandi, aku akan menyiapkan sarapan untukmu." ucap Jenna.
Dan akhirnya, Julian pun menuruti perkataan istri sirinya itu. Bangkit dari tempat tidur, Julian langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan Jenna keluar kamar dan menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.
Sesaat kemudian, Julian keluar kamar dengan sudah mengenakan baju yang semalam ia kenakan.
Julian kemudian berjalan ke arah meja makan dan duduk di salah satu kursi di sana.
"Mama kemana?" tanya Julian.
"Mama sudah ke ruko. Mama memang selalu pagi pagi kesana. Biasa toko kami buka pagi." Jawab Jenna sambil masih sibuk mempersiapkan sarapan untuk sang suami kala itu.
"Ini kopi mu, aku masih belum selesai menggoreng nasi nya." ujar Jenna yang kemudian kembali ke dapur dan menyelesaikan masaknya.
__ADS_1
"Selamat menikmati." ucap Jenna yang menyodorkan sepiring nasi goreng yang masih hangat lengkap dengan telur mata sapi buatannya untuk Julian.
Dan apa yang dilakukan Jenna membuat Julian merasa bahagia. Sudah sejak lama dia tidak merasa diurusin seperti itu.
"Terimakasih sayang."
Baru saja ya hendak menyuapkan satu suapan di mulutnya. Tiba-tiba pikirannya berkelana.
Pikirannya berkenalan, kepikiran Valerie.
Biasanya di setiap pagi, saat sarapan. Julian yang selalu sibuk menyiapkan sarapan untuk wanita muda itu.
Valerie..... Valerie.... Valerie.....
Nama itulah yang kini memenuhi pikiran Julian. Semalam pun dia juga lupa memberi kabar pada istri kontraknya itu.
"Kenapa sayang, nasi gorengnya tidak enak ya." tanya Jenna. Ketika Julian saat itu hanya terbengong saja.
"Tidak nasi goreng mu sangat enak. Aku pasti akan menghabiskannya." jawab Julian.
Kemudian mereka pun bersarapan bersama pagi itu dengan suasana hati yang berbeda.
🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah selesai bersarapan, Julian mengantarkan Jenna ke kantor.
Setelah selesai mengantarkan Jenna ke kantor. Julian untuk sekian lamanya pulang ke Mension nya.
Berada di Mension, Julian langsung berganti baju.
Lalu memberi tau Laila, asisten rumah tangga kepercayaannya untuk mempersiapkan semua kebutuhan yang di butuhkan untuk menyambut Jenna.
Julian berencana untuk memboyong Jenna ke Mension nya.
Setelah selesai memberikan arahan pada asistennya.
Julian yang pada hari itu sedang tidak pergi ke kantor, berniat untuk menjemput Valerie di kampusnya.
Tepat menjelang makan siang, Julian sudah tiba di kampus tempat Valerie berkuliah.
__ADS_1
Sebenarnya, saat itu sopir yang di tugaskan Julian juga sedang menunggu Vale.
Karena Julian juga sudah berada di kampus Vale. Akhirnya Julian menyuruh sang sopir untuk pulang.
Dan tak perlu menunggu lama, Valerie yang saat itu sudah selesai kuliah, langsung berjalan menuju gerbang kampus.
Dari dalam mobil, Julian yang sudah melihat Valerie berdiri dan nampak mencari cari mobilnya. Langsung menyegerakan diri keluar dari mobil. Lalu berjalan menghampiri wanita yang kini tengah mengandung benihnya itu.
"Vale." panggil Julian.
"Mr, sedang apa kau di sini?" tanya Vale bigung. Karena tak biasanya Julian menjemputnya.
"Aku sengaja datang kemari untuk jemput mu. Kita makan siang bersama ya." ujar Julian.
"Apa Mr tidak pergi ke kantor?" tanya Vale.
"Aku sedang malas. Ayo kita ke mobil ku. Aku sudah suruh sopir mu pulang. Sekarang kamu akan bersama ku. Ayo ke mobil." ajak Julian, sambil meraih pundak Vale dan mengajaknya berjalan menuju mobil.
Julian membukakan pintu mobil untuk Valerie.
"Terimakasih Mr." ucap Vale yang merasa senang jika di perlakukan manja seperti itu oleh Julian. Julian hanya tersenyum menanggapi.
"Hari ini kau mau makan apa? Aku akan membawa mu ke restoran yang kau inginkan. Dan setelah itu aku ingin pergi ke market untuk membelikan mu susu hamil."
"Aku sedang tidak ingin pergi keluar. Ini saja kepala ku rasanya sudah pusing Mr. Aku ingin pulang saja ke penthouse dan beristirahat." ujar Vale sambil menyadarkan tubuhnya ke kursi mobil.
"Apa rasa pusing itu masih menyerang mu?" tanya Julian yang merasa kawatir.
"Aku masih pusing, mual dan muntah. Aku tidak menyangka orang hamil akan melalui masa masa seperti ini. Rasanya sungguh menyiksa ku." ujar Vale, dan hal itu semakin membuat Julian merasa kasian.
Karena ternyata perjuangan seseorang wanita yang hamil itu tidak mudah.
"Baiklah, ku antar kau pulang ke Penthouse. Aku akan menemani mu." jawab Julian yang kemudian refleks meraih tangan Valerie dan menggenggamnya erat.
Merasa tangannya di remas oleh Julian, membuat hati Vale hangat.
Entah kenapa jika berada dekat dengan pria di sampingnya itu. Membuat Vale merasa bersemangat.
Valerie Florencia
__ADS_1