
Satu hari kemudian, baik Valerie maupun Julian kini sudah bisa diperbolehkan pulang.
Julian dan Roseline memutuskan untuk membawa Valerie ke Mansion. Hal itu mereka lakukan demi keselamatan Valerie. Dan juga demi kesiagaan mereka untuk bisa sigap jika sewaktu-waktu Vale hendak melahirkan.
Awalnya Vale menolak untuk diajak pulang ke Mansion.
Karena ia memikirkan perasaan Jenna yang juga tinggal di sana sebelumnya. Mana mungkin Vale tingal satu atap bersama Jenna dan juga Julian.
Tapi perintah dari sang Mama mertua dan juga Julian tidak dapat Vale tolak.
Akhirnya, dari rumah sakit, mereka langsung menuju Mansion.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Malam itu secara khusus, Roseline mengadakan makan malam. Sebuah makan malam yang memang sengaja ia buat untuk mempertemukan Valerie, Jenna dan juga Julian.
Roseline ingin permasalahan soal anak yang di kandung Valerie jelas. Akan di asuh oleh siapa setelah bayi itu lahir nantinya.
Dan juga akan membahas tentang kelanjutan hubungan Jenna dan juga Julian.
Roseline ingin masalah yang membelit mereka bertiga bisa di selesaikan dengan baik dan penuh kesepakatan tanpa ada tekanan.
Di sebuah meja makan yang kini telah tersajikan berbagai macam menu makanan spesial. Roseline, Julian, Jenna dan juga Valerie telah berada di sana kala itu.
Julian duduk bersebelahan dengan Jenna. Vale duduk di sebrang Jenna dan juga Julian. Sedangkan Roseline duduk di kursi kebesaran sebagai tuan rumah.
Sebelum membahas tentang masalah yang sudah Roseline rencanakan untuk di diskusikan bersama. Roseline menyuruh mereka untuk menikmati hidangan terlebih dahulu.
__ADS_1
Ia akan mulai membicarakan apa yang telah Ia rencanakan setelah selesai makan malam.
Dan, tidak dipungkiri, ada aura ketegangan yang terjadi di meja makan kala itu.
Baik Jenna dan juga Vale lebih banyak diam.
Bagaimanapun, Valerie dan juga Jenna adalah sama-sama seorang wanita yang punya perasaan. Mereka sama sama tidak bersikap egois.
Justru mereka terlihat menunjukkan sebuah perasan yang sama sama ingin saling menghargai dan juga saling menghormati.
Setelah mereka selesai makan malam, Roseline yang sudah siap untuk menjadi penengah di antara mereka bertiga, menghela nafas panjang untuk memulai pembicaraan.
"Sebelumnya, aku sangat berterimakasih untuk waktu yang sudah kalian berikan, untuk berada di satu meja malam ini. Aku sangat terkesan dengan makan malam ini. Ini adalah makan malam yang luar biasa bagiku. Karena malam ini, aku makan malam bersama kedua menantu yang aku sangat sayangi." ucap Roseline yang sudah mengakui Jenna dan juga Valerie sebagai menantunya.
"Untuk mu Jenna dan juga kau Valerie, aku sudah mengakui kalian sebagai menantu ku. Dan aku sangat menyayangi kalian berdua, dan juga sangat menyayangi anak yang ada di dalam kandungan kalian. Karena semua cucuku dan mereka adalah keturunan Alexander. Tapi sebelumnya, Mama ingin meminta maaf kepada kalian berdua.Jenna dan juga Valerie, Mama minta maaf atas semua perlakuan dari anak Mama. Yang mungkin secara sengaja atau tidak sengaja Julian telah menyakiti perasaan kalian. Mama tahu, semua ini tidak mudah untuk kalian berdua dan mungkin tidak adil. Sebagai seorang ibu, Mama minta maaf untuk semua yang sudah terjadi. Semua sudah terjadi dan kita tidak bisa lari dari sebuah kenyataan. Mama di sini ingin memperjelas dan mempertegas masalah yang selama ini masih membingungkan. Dan malam ini, aku ingin masalah yang membelit kalian bertiga bisa menemukan titik terangnya dan juga menemukan solusinya. Dan Mama harap, setelah kalian semua sepakat tanpa ada tekanan dan keterpaksaan, setelah ini kalian bisa berlega hati. Dan Mama ingin keputusan apapun yang di ambil malam ini, akan membuat kalian sama sama lega dan iklas menerima kenyataannya." ujar Roseline yang juga sangat berhati-hati dalam menyampaikan tujuannya. Roseline tetap ingin menghargai Jenna dan juga Valerie.
"Untuk Pertama-tama, aku ingin bertanya kepadamu Valerie. Dengan penuh kesungguhan, dengan penuh kesadaran, dan dengan penuh keikhlasan, bagaimana ke keputusanmu soal anak itu."
Meski itu adalah keputusan yang berat, ia sudah memikirkannya matang matang. Vale sudah yakin dengan keputusannya.
"Sebelumnya aku mau minta maaf pada mu Jen. Sebagai sesama seorang wanita, mungkin ini tidak mudah bagi mu. Saat mendapati suami yang kau cintai ternyata telah mempunyai anak dari seorang wanita yang lain. Tapi semua itu di luar kendaliku. Semua itu di luar dugaan ku. Aku sampaikan ini agar aku tidak merasa ada beban bersalah terhadap dirimu. Perjanjian kontrak pernikahan dan juga kehamilan ku terjadi sebelum Julian akhirnya menikahi mu secara siri"
"Kau tidak bersalah pada ku Valerie. Sama sekali kau tidak ada salah" jawab Jenna.
"Terima kasih Jen, itu membuat ku lega. Aku sudah memutuskan, dengan penuh kesadaran dan penuh keikhlasan. Tidak ada terpaksa dan juga tekanan, aku mengikhlaskan anak ini akan tetap seperti perjanjian ku dan juga Julian. Aku akan menyerahkan anak ini kepada Julian, ayah biologisnya. Setelah ia dilahirkan, aku akan menyerahkan anak ini dengan ikhlas terhadap Daddy-nya. Dari awal rahim bayaran itu kami setujui dengan kesepakatan yang sama sama telah setuju. Julian sangat menginginkan bayi ini. Aku menyerahkan bayiku bukan karena aku tega. Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa aku jelaskan pada kalian kenapa aku menyerahkannya. Jadi, anak ini akan aku serahkan pada Julian. Dia lah yang akan mengasuh anak yang masih aku kandung saat ini. Julian yang akan membesarkannya." ucap Vale dengan berat hati.
"Lebih tepatnya, aku menitipkan bayi ini kepada ayahnya, untuk bisa dia didik dan besarkan dengan baik." imbuh Valerie.
__ADS_1
"Dan untuk mu Jen. Setelah aku melahirkan dan setelah perjanjian kontrak pernikahan ku selesai. Aku yakin, Julian pasti akan melegakan pernikahan kalian. Kau akan menjadi Mrs Alexander yang sesungguhnya." ujar Vale sambil tersenyum tipis.
"Aku tidak memaksa mu untuk menerima anak ku. Aku menekankan tagung jawaban asuahan anak ku pada Daddy-nya, yaitu Julian. Tapi bagaimanapun, anak ku pasti akan berada dalam rumah tangga mu bersama Julian. Aku harap, kau tidak terbebani dengan keberadaannya."
"Valerie kau bicara apa?" ucap Jenna menginterupsi.
"Aku hanya tidak ingin anak ku menjadi beban dan kau merasa terbebani dengan kehadirannya Jen." ucap Vale, yang kini sudah mulai terisak. Merasa sedih ketika membayangkan anak nya tidak dalam jangkauannya.
Dan dari sebrang meja, Jenna yang tersentuh perasaannya, kini juga sudah memerah kedua matanya.
"Aku sungguh tidak ingin membebani mu. Aku tidak ingin memaksa mu untuk menerima apalagi harus menyayangi anak ku. Aku tekankan urusan pengasuhan pada Julian sebagai Daddy nya. Dia bisa menyewa seorang pengasuh untuk merawat putri ku nanti. Tapi karena dia akan tingal bersamamu, kuharap kau bersedia untuk menerima kehadirannya. Itu saja yang aku inginkan dari mu." ucap Vale lembut.
Dan saat itulah, Valerie sudah tidak bisa membendung lagi air matanya.
Dari sebrang meja, Jenna kemudian mengulurkan kedua tangannya untuk bisa menggapai tangan Valerie.
Vale kemudian menyambut uluran tangan jenna Jenna.
Kini, kedua wanita itu saling bergengaman tangan. Seolah olah saling ingin menguatkan satu sama lain.
Julian pun sejak tadi tidak bisa berucap apa apa. Kecuali hanya bisa mendengarkan penuturan dan curahan hati Valerie dengan kepala tertunduk.
"Jangan khawatir Valerie, aku pasti akan menerima anakmu. Dan aku akan menganggapnya sebagai anakku sendiri juga. Mana mungkin aku setega itu. Aku juga calon ibu. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan. Ini pasti berat untuk mu." ucap Jenna dengan suara lembut.
"Terimakasih Jen." ucap Vale sambil terisak.
Jenna kemudian berinsut dari kursinya dan berjalan menghampiri Vale.
__ADS_1
Setelah ia sampai di tempat duduk Vale, Jenna memeluk Valerie dengan pelukan hangat.
Sebuah pelukan yang menunjukan rasa empati dan simpati sebagai sesama wanita yang saling memahami perasaan satu sama lain.