
"Kau yang membutuhkan pekerjaan ini Miss Valerie, jadi kau harus menjawab semua pertanyaan ku dengan patuh!" seru Edward pada Valerie, yang saat itu memandangi wajah Vale dengan tatapan mata tajam.
"Perusahaan ini bukanlah perusahaan yang main-main. Kami mengaji karyawan kami dengan gaji yang sangat tinggi. Tentu saja setiap karyawan yang bekerja di perusahaan ini, semua harus punya integritas dan wawasan pendukung yang luas di bidangnya. Dan karena kau, mempunyai salah satu pendukung itu, maka, aku tertarik untuk merekrut mu Miss Valerie." ujar Edward, lagi lagi menatap wajah cantik Vale dengan tatapan tak biasa.
"Tapi, ada satu hal yang membuat ku sendikit mempertimbangkan untuk juga menolak lamaran mu" ucap Edward, sambil memicingkan matanya ke arah Vale.
Vale yang mendengar bahwa lamaran pekerjaan nya bisa saja di tolak pun kemudian bereaksi.
"Apa alasan yang membuat anda mempertimbangkan bahwa lamaran ku akan di tolak? Katakan pada saya alasannya. Mungkin saya bisa menjelaskannya pada anda." jawab Valerie, yang merasa sedikit khawatir karena Edward memberitahunya bahwa bisa saja lamarannya akan ditolak.
"Statusmu lah yang membuat aku ragu untuk mempekerjakan dirimu di perusahaan ku." jawab Edward tegas.
Dan hal itu membuat Vale tercenang kaget. Tidak hanya kaget, tapi Vale juga kembali merasa tersinggung.
"Apa hubungannya dengan status saya dengan pekerjaan?" tanya Vale penuh dengan tanda tanya. Vale pun merasa tidak senang untuk hal yang berkaitan dengan statusnya di permasalahkan oleh Edward.
"Tentu ada Miss Valerie." ujar Edward sambil tersenyum.
"Ini bukan tentang kamu yang seorang janda. Tapi ini soal kamu memiliki seorang putri."
Mendengar itu, Vale langsung tersulut emosi, saat putri nya di jadikan alasan bagi Edward untuk mungkin saja lamarannya tidak akan di menerima di perusahaan itu.
"Apa salah putri ku, memang ada yang salah jika seseorang yang telah memiliki anak mencoba untuk mencari pekerjaan. Peraturan di perusahaan anda ini sangat aneh, kenapa punya anak di permasalahkan untuk melamar pekerjaan. Dan apa salahnya seorang ibu mencari pekerjaan demi anak nya. Salah ya, jika seseorang yang sudah tidak punya suami seperti saya ini mencari pekerjaan. Aku pikir ini sebuah perusahaan besar yang mengedepakan sumberdaya manusia yang hebat dan berkualitas dalam perekrutan setiap karyawannya. Tanpa melihat status karyawan itu apa. Terkhusus bagi seorang perempuan seperti saja, yang seorang janda, dan memiliki anak satu di anggap untuk tidak relevan untuk di jadikan karyawan. Tolong jelaskan pada saya aturan macam apa itu." kini Vale sudah benar-benar terpancing emosi nya.
"Saya baru kali ini mendengar peraturan-peraturan aneh seperti ini di perusahaan." keluh Valerie yang berucap dengan nada ketus.
Edward Mateo tersenyum puas. Dan dalam hati, ia senang telah berhasil membuat Valerie marah dan tersinggung. Sebenarnya sejak tadi Edward sudah menerima lamaran Vale dan akan mempekerjakan Vale di perusahaannya. Tapi Edward sengaja membuat sedikit permainan dengan wanita yang membuatnya tertarik sejak saat ia pertama kali melihatnya Vale.
Edward kemudian berdiri dari duduknya dan mendekati Valerie yang saat ini masih duduk di kursinya.
Edward kini berdiri bersandar di meja kerjanya, sambil melipat kedua tangannya di dada, dan menolehkan padanganya ke arah Valerie.
__ADS_1
"Setia karyawan yang bekerja disini di gaji tinggi. Dan oleh sebab itu, antara gaji dan juga pekerjaan di perusahaan ini harus sesuai dengan kompetensi dan juga keprofesionalan kalian dalam bekerja. Apa lagi kau akan menjadi seorang manager. Aku tidak ingin ke fokusan mu menjadi terganggu."
"Setiap karyawan saya rasa selalu profesional dalam menjalankan tugasnya Mr. Edward."
Saat namanya diucapkan oleh Valerie, hal itu membuat Edward merasa tersanjung. Dan ia pun kini semakin mengembangkan senyumnya.
Entah kenapa saat Vale yang menyebutkan namanya, Edward merasakan ada sesuatu yang menggelitik hati nya.
"Lupakan tentang itu, aku ingin tau berapa umur putri mu?" tanya Edward kemudian lembut.
"Putriku berumur 5 tahun. Aku menikah di saat aku berusia 20 tahun, dan perlu saya katakan kepada anda, putri ku saat ini tingal bersama Daddy nya, dia tidak tinggal bersamaku." Ucap Vale penuh ketegasan.
"Dan anda tau tidak, mantan suami ku adalah orang kaya. Putriku adalah putri seseorang yang kaya raya. Mungkin kekayaan mantan suami ku melebihi dari kekayaanmu. Jadi saat ini, aku adalah orang yang bebas. Karena putriku tinggal bersama mantan suamiku. Jika anda berfikir, saya bekerja di perusahaan anda dan putri saya menjadi beban, sorry. Saya undur diri dan saya mencabut lamaran pekerjaan saya." ucapkan Vale dengan nada kesal.
Yang kemudian Vale langsung berdiri dari kursinya hendak pergi.
Vale pun kemudian mengambil kembali file lamaran pekerjaan yang ada di meja di hadapannya.
"Jangan tersinggung dulu Miss Valerie. Kau belum mendengarkan semua perkataan ku. Jangan terlalu emosi, duduk lah. Kita bicara lagi baik-baik. Aku minta maaf jika pertanyaan ku tadi menyingung mu."
Vale pun kemudian bersikap tenang dan berusaha mengendalikan emosinya.
Setelah suasana kini kembali tenang. Edward kemudian membaca kembali file yang berisikan data Vale.
Dan tak berselang lama, Edward kemudian memberi tau Vale jika lamarannya di terima.
Mendengar jika dirinya telah diterima bekerja di perusahaan itu. Wajah Valerie pun langsung berubah warna. Ia senang saat lamarannya telah di terima dan ia akan menjadi karyawan di perusahaan itu.
Rasa emosi yang tadi menguasai dirinya kini berangsur menjadi rasa yang bahagia.
"Terimakasih telah menerima saya. untuk bekerja di perusahaan ini."
__ADS_1
"Sama sama, kau memenuhi kualifikasi dan persyaratan nya.Tapi sebelumnya, aku harus memberi tau mu bahwa. Fasilitas berupa satu unit mobil untuk Manager baru akan kamu dapatkan setelah kau bekerja selama 3 bulan. Aku akan melihat kinerjamu dulu dalam waktu 3 bulan ini. Jika kinerja mu bagus dan memuaskan. Maka kau akan mendapatkan semua fasilitas sebagai manager di perusahaan ku. Selamat bergabung sekali lagi di perusahaanku Miss Valerie." Ucap Edward sambil tersenyum manis.
"Terimakasih Mr Edward." Vale kemudian berdiri dari duduknya dan akhirnya mereka pun berjabat tangan.
"Aku akan menghubungi mu nanti malam." ujar Edward, kata itu meluncur begitu saja dari mulut nya.
Vale yang merasa hal itu agak aneh kemudian menautkan kedua alisnya, bigung.
"Excuse me, menelpon ku nanti malam untuk hal apa?" tanya Vale bingung.
Edward yang mendengar pertanyaan itu pun juga bigung. Karena ia tadi tidak sadar mengucap kata kata itu.
"Oh, tidak. Aku salah bicara." kilah Edward.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sepulangnya Valerie dari interview, Vale kini kembali ke tempat kostnya.
Saat ini perasaan Vale campur aduk. Antara senang dan juga masih tersisa rasa kesal pada atasannya itu.
Begitu Vale sudah berada di kamar kostnya, Vale langsung membuka blazernya dan kemudian ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur lantai yang ada di tempat kost.
"Huff, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan juga." ucap Vale merasa senang dan juga tenang karena telah mempunyai pekerjaan tetap.
"Semua demi kamu sayang ku Elenor. Semua demi kamu Mommy melakukan hal ini. Besok Mommy sudah memulai bekerja, Mommy akan bersemangat mengumpulkan uang untuk bisa memberikan tempat tinggal untuk kita. Kita akan bersama sama sayang. Mommy akan memasakkan sesuatu yang lezat untuk mu dan kita akan memakannya bersama di meja makan. Elenor sayang ku, Mommy sudah tidak sabar ingin segera memeluk mu." ucap Vale bermonolog.
Aku kasih liat dulu yang ini, coming soon 🥰🥰🥰🤭🤭🤭
__ADS_1