
"Sekarang giliran Mr, katanya akan memberikan aku kejutan. Sekarang katakan, apa kejutan itu." tanya Vale.
Dan, Julian pun kemudian berpikir keras.
Sambil memijat dahinya, Julian nampak berpikir.
Iya tidak mungkin membatalkan perjanjian serta pernikahan kontraknya saat ini. Karena ternyata Vale hamil.
Dan seketika, semua rencananya kini buyar kembali.
Julian harus tetap dalam perjanjian itu. Tidak akan membatalkan kontrak dan tidak bisa pula membatalkannya.
Jika dia membatalkan perjanjian itu, bisa jadi ia tidak bisa mendapatkan bayi yang kini ada di kandung Vale.
"Aku memang ingin memberikan kamu kejutan. Pas sekali bertepatan dengan kejutan yang sudah kau berikan untukku." ujar Julian lembut.
"Lalu apa kejutannya?" tanya Vale tidak sabaran.
Julian kemudian kembali berfikir keras.
"Ayo ikut aku!" seru Julian.
Kemudian Julian meraih tangan Valerie, mengajaknya untuk keluar dari ruangan kerjanya.
Berjalan mengikuti Julian, Vale merasa sangat penasaran dengan kejutan yang akan di berikan untuknya.
Saat itu, Julian mengendarai mobilnya dan mengajak Vale untuk pergi.
Valerie tak tahu ke mana dia akan di ajak pergi. Karena Julian tak memberi taunya.
Sebenarnya, Julian sendiri juga tidak tahu ke mana dan akan melakukan apa.
Karena saat ditanya balik oleh Vale, kejutan yang di maksudkan adalah kejutan tentang pembatalan perjanjian kontrak.
Tapi sekarang, justru perjanjian itu tidak bisa lagi di batalkan. Setelah Julian tau Valerie positif hamil.
Jadi, Julian pun juga bigung harus jawab apa.
Sepanjang perjalanan, Julian yang kala itu sedang menyetir, ia berfikir untuk bisa mendapatkan ide.
Ide apa yang akan dia katakan pada Vale, perihal kejutan yang ia maksud kan sebelumnya.
Masih mengendarai mobilnya, Julian terus melajukan kendaraannya.
Ketika ia melewati sebuah showroom mobil. Julian pun kepikiran untuk berbelok ke sana.
Dan akhirnya, Julian tau, apa yang harus dia lakukan.
__ADS_1
Membelokkan mobilnya di sebuah showroom mobil. Dengan Brand mobil terkenal buatan Eropa, Julian berniat untuk membeli Vale mobil baru.
"Kenapa kita berbelok ke sini." tanya Valerie.
"Bukankah tadi aku bilang, aku akan memberikan kamu kejutan." Jawab Julian yang kemudian ia keluar dari mobil.
"Apakah kau akan membelikan aku mobil baru?" tebak Vale, saat Julian membukakan pintu mobil untuknya.
"Ayo cepat turun, kita masuk dan pilihlah salah satu mobil yang kamu sukai. Aku akan membelikannya untukmu." ujar Julian tersenyum manis pada Vale.
"Aku belum bisa mengendarai mobil!" seru Vale.
"Siapa bilang kamu akan menyetir. Nanti, aku akan berikan kamu satu sopir pribadi. Yang akan mengantarkan kamu kemana saja."
Julian dan Vale kemudian memasuki showroom mobil tersebut.
Dan di sana mereka disambut oleh seorang sales. Julian mengajak Vale untuk mengamati beberapa mobil yang sudah terpajang di showroom itu.
Dengan mempertimbangkan beberapa masukan dari Julian dan juga oleh sales saat itu. Akhirnya Vale memilih sebuah mobil berwarna kuning, bermerk Porche.
"Kau memang pintar memilih Vale. Tau tidak mobil ini hanya ada 500 unit di seluruh dunia. Jika kau membeli ini. Kau adalah pemilik salah satu mobil ini dari ke 500 orang di dunia." jelas Julian.
"Apa mobil itu terlalu mahal? Aku tidak tau harganya. Jika terlalu mahal tukar saja." ucap Vale, merasa tidak enak pada Julian.
"Ohh, terimakasih Mr." Vale kemudian secara refleks memeluk Julian.
"Seharusnya kau tak perlu beli kan aku mobil dulu."
"Tidak masalah, sekarang kau mengandung anak ku. Dirimu juga belum punya kendaraan pribadi kan. Kau perlu kendaraan ini. Tapi ingat, jangan pernah menyetir sendirian. Aku tidak akan izinkan, bahaya."
"Kenapa bahaya?"
"Orang hamil bahaya menyetir Vale, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan bayi ku. Dia berharga untuk ku, dia keturunan Alexander."
🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah selesai dari showroom. Julian mengajak Valerie untuk pergi ke dokter. Tepatnya pergi ke dokter kandungan.
Di sana Vale diperiksa oleh dokter dengan sangat teliti.
"Selamat ya Mr Julian, anda sekarang sudah menjadi seorang Daddy." Ucap dokter yang baru saja selesai memeriksa Valerie. Saat di periksa, Julian dengan setia ada di sisi Vale.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya Dok. Apa kandungan istri ku baik-baik saja." tanya Julian pada sang dokter dengan penuh rasa penasaran.
Valerie yang mendengar dirinya di sebut Istri ku, oleh Julian, langsung menghangat perasaanya.
__ADS_1
"Istri anda sangat sehat, bayi yang ada di dalam kandungannya pun juga sangat sehat. Tidak ada masalah apapun. Aku hanya menyarankan untuk istri anda, untuk tetap mengkonsumsi makanan yang sehat banyak mengandung vitamin dan bergizi. Banyak istirahat, kurangi aktivitas yang berat dan juga jangan lupa minum vitamin kehamilannya." pesan sang dokter kandungan tersebut.
"Dan pesan untuk mu Mr Julian, harus berikan perhatian lebih untuk istri anda. Rasa bahagia dan nyaman sangat baik dan di perlukan untuk menambah semangat istri anda selama mengandung."
"Soal itu tidak perlu kawatir, aku pasti akan memperhatikan nya." jawab Julian, yang kemudian menoleh ke arah Vale. Sedangkan Vale yang memang sejak tadi sudah memandangi wajah Julian, tersenyum penuh arti.
🍁🍁🍁🍁🍁
Gedung perkantoran Sahara Corp
Saat melihat waktu telah menunjukkan pukul 05.00 sore. Jenna pun kini bersiap-siap untuk pulang kantor.
Setelah ia merapikan barang-barangnya ke dalam tas. Jenna kemudian mengecek ponselnya.
Dirinya merasa sedikit gundah, ketika mendapati ponselnya tidak ada satupun pesan masuk dari Julian.
Biasanya, pria itu meskipun hanya satu kali pesan, mengirimkan pesan untuknya.
Tapi entah kenapa, pada hari itu tidak ada satu pesan yang masuk untuk dirinya. Dari pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya tersebut.
Tidak mau berpikir yang macam-macam kemudian Jenna menaruh kembali ponselnya ke dalam tas.
Berdiri di depan lobby, kini Jena sedang menunggu pesanan taksinya.
Sambil menunggu taksi datang, Jenna kembali memeriksa ponselnya.
Namun lagi lagi, pada saat jam pulang kantor seperti ini. Tidak ada pesan yang masuk untuk nya dari seseorang yang sangat ingin Ia lihat pesan masuknya.
Padahal letak kantor Julian tidaklah jauh dari kantornya saat ini.
Hanya berjarak beberapa meter saja. Dan biasanya juga Julian selalu menjemputnya selama beberapa hari terakhir.
Tak menunggu lama, pesanan taksi yang Jenna pesan datang.
Karena waktu itu akan turun hujan, Jenna pun segera masuk ke dalam taksi dan ingin cepat sampai di apartemen.
Dan ternyata, saat itu jalanan dalam keadaan macet.
Di tengah-tengah kemacetan, Jenna yang merasa sangat bete kemudian memainkan ponselnya.
Jenna kemudian mengecek kontak masuk pesanannya. Lalu ia membaca kembali satu persatu pesan masuk yang julian pernah kirim untuk nya.
Kemudian, akhirnya Jenna memberanikan diri untuk mengirimkan pesan dulu an ke Julian.
*HaiJulian, sedang apa. Apakah kau masih di kantor. Hati hati ya saat pulang kantor nanti. Miss you.*
Pesan itulah yang Jenna kirimkan kepada Julian.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya, see you next bab 🥰🤗🙏